Waktu kami tingkat I tidak pelak lagi pelajaran yang paling sulit adalah mata kuliah Kimia. Di setiap semester mata kuliah itu ada.
Tidak hanya sulit, tapi juga mengerikan. Dikatakan demikian karena memang tingkat kesulitannya betul-betul tinggi. Memang belajar bersama itu baik, tetapi khusus untuk mata kuliah Kimia ini kita harus sampai ke tingkat penguasaan pribadi pada kategori mahir. Banyak textbook harus kita baca di perpustakaan. Banyak soal harus kita latih penyelesaiannya.
Setiap soal yang keluar sangat variatif dan kreatif. Lalu penjagaan selama ujian sangat ketat. Jangan main-main untuk coba-coba menyontek. Kalau sampai ketahuan menyontek, akan diblack list dan bisa di drop out.
Ada juga yang berhasil menyontek, tapi itu pasti pertama kenekadannya luar biasa (berani mati), atau sangat mujur tidak ketahuan. Sudah banyak sekali mahasiswa DO karena mata kuliah ini, entah karena memang tidak lulus-lulus, atau kena black list.
Koordinator dosen adalah seorang dosen super killer (biasanya dialah kebanyakan yang membuat soal-soal). Inisialnya HA. Kalau sudah bermasalah dengan dia maka masa depan pasti suramlah.
Hal yang unik lagi, soal-soal yang bersifat pilihan ganda bisa dibuat sedemikian rupa sehingga kalau kita salah mengerjakan selalu ada pilihan jawabannya. Kadang kala karena kita terlena (ada jawaban seperti yang kita buat), kita pilih jawaban itu. Padahal jawaban kita itu salah. Jadi seolah-olah pembuat soal itu sudah tahu ke mana mereka yang kemahirannya tidak terlalu tinggi akan nyasar pikirannya. Luar biasa!
Ujian itu sendiri untuk setiap soal hasilnya akan memperoleh nilai minus 1 kalau salah, nol kalau tidak menjawab, plus 3 kalau benar. Jadi tentunya kalau kita tidak yakin, lebih baik tidak menjawab. Kalau nekad menjawab, perkaranya tinggal dua, untung atau apes. Sayangnya probabilitasnya lebih besar pada apes (1 banding 3, karena biasanya pilihan jawaban ada 4).
Pengikut ujian selalu banyak karena selain mahasiswa tingkat I, mahasiswa yang lebih senior bahkan yang mahasiswa abadi (waktu itu masih banyak mahasiswa abadi) pun masih banyak yang ikut. Hal ini terjadi karena telah diterapkannya sistem kredit (sks). ITB adalah universitas pertama yang serentak memberlakukan sistem sks.
Midtest semester pertama merupakan outcome paling mengerikan dalam hidupku. Kalau tidak salah aku mendapat nilai 33. Seumur hidup baru itulah aku dapat nilai sejelek itu.
Tapi karena pengindeksan nilai berdasarkan sebaran statistik, maka nilai 33 ku itu masih menghasilkan indeks C! Yang dapat sedikit di atas 50 saja sudah pasti dapat A.
Adalah seorang teman kami yang sangat membuat kami sedih karena nilainya minus sangat besar (kalau tidak salah minus 30an/jumlah soal biasanya sekitar 33-34). Beberapa kami mencoba untuk menghibur teman kami itu. Kami banyak bertanya kepadanya mengapa sampai dia bisa mendapat nilai jeblok begitu.
Jawabannya sungguh mengagetkan kami. Dengan entengnya dia bilang bahwa dia melihat seorang teman kami yang berkacamata tebal orangnya cukup meyakinkan (waktu itu kami belum terlalu lama bersama-sama di kelas T06/baru sekitar tiga bulanan, jadi belum terlalu saling mengenal). Waktu ujian kebetulan mereka duduk berdekatan. Lalu teman ini nekad menyontek pada teman yang berkacamata tebal itu (rupanya dia mujur tidak ketahuan). Total semua jawaban teman berkacamata tebal yang duduk di depannya diconteknya.
Belakangan barulah kami semua tahu bahwa soal-soal kami telah diacak. Nomor 2 pada kita belum tentu sama soalnya dengan nomor 2 teman yang lain. Pantaslah teman kami yang nekad itu dapat nilai minus besar sekali. Lebih mengerikan lagi nilai midtest I, midtest II dan Ujian Akhir diberi bobot. Misalnya 20%, 30% dan 50%. Jadi, nilai minus besar menjadi lebih besar lagi minusnya! (Weleh, weleh ....)
Pada tahun-tahun belakangan rupanya ada semacam "gerakan reformasi" di ITB sehingga dosen super killer tadi barangkali diminta untuk tidak lagi menjadi penjagal mahasiswa. Sebenarnya aku kurang setuju dengan kebijakan itu, tapi yah sudahlah. (Aku tadinya merasa itu adalah trade mark yang mengagumkan. Itu adalah kenangan salah satu yang paling dramatis pada tingkat I).
Lucu sekali pada tahun-tahun aku mau lulus kulihat soal ujian mahasiswa tingkat I tidak masuk akal mudahnya (dari dulu semua ujian selalu dipampang jawaban/solusinya di papan pengumuman, jadi semua orang bisa melihat dan menyalin). Kuingat sekali ada dipampang solusi ujian mahasiswa tingkat I tahun itu yang cuma 10 nomor. Salah satu soalnya begini (aku selalu ingat): Diketahui sekian mol zat tertentu dilarutkan pada sekian mililiter larutan tertentu. Hitunglah Molaritas campuran baru itu.
Gila kan mudahnya soal kimia itu jadinya? Penurunan mutukah di ITB? Sangat boleh jadi! Entah kenapa kita tidak punya lagi pride sebagai orang yang dulu pernah menaklukkan mata kuliah Kimia yang mengerikan itu (walaupun cuma dapat C, itu dulu sudah luar biasa, tidak mungkin bisa dibandingkan dengan mereka yang dapat A dengan soal-soal yang mudahnya minta ampun).
Beberapa tahun kemudian terbetik kabar bahwa dosen super killer itu meninggal dunia. Well ... well ...
Showing posts with label ITB T06 78. Show all posts
Showing posts with label ITB T06 78. Show all posts
Monday, April 6, 2009
Thursday, April 2, 2009
Totok dan Erik
Telah kuterangkan dalam tulisan sebelumnya bahwa Erik adalah seorang jagoan. Seorang teman lain yang tinggal tidak jauh dari tempat tinggal Erik (kalau tidak salah sekitar jalan Caladi) bercerita bahwa karena rendah hatinya Erik justru lebih sering berlatih malam hari. Dia sangat enggan dilihat-lihat orang dalam memeragakan kehebatannya. Beberapa teman yang pernah melihatnya berlatih menjelaskan beberapa gerakan hebat yang dikuasai Erik.
Erik seorang yang baik hati. Ganteng dan berbadan sangat bagus. Periang dan penolong. Gayanyapun tidak jadul. Tidak pula kuper kepada perempuan.
Kalau kami bertanding olahraga maka dia tampil sebagai salah satu jagoan kami. Orangnya ulet dan tidak gampang menyerah. Dalam pelajaranpun ok. Dia masuk jurusan Teknik Industri. Dulu jurusan itu adalah peringkat ke 2 dalam urutan IP rata-rata.
Sekali kami camping di suatu tempat yang cukup tinggi di puncak gunung, di hamparan kebun teh. Dingin sekali tempat itu. Matahari hanya terlihat 2 jam yaitu jam 11 siang sampai jam 13 siang. Selebihnya gelap seperti jam 4 atau 5 pagi umumnya atau gelap sama sekali di waktu malam. Itu adalah pengalaman camping yang sangat memorable. Begitu dinginnya, aku ingat bila kami memasak air panas maka pancinya bisa kami pegang bagian luarnya meskipun di dalamnya air sedang mendidih. Dalam dua jam munculnya matahari itu kami bermain bola atau berolahraga apa saja karena selebihnya kami kedinginan, meski telah berbaju hangat dan berjaket berlapis-lapis. Kami sering menunggu jam 4 pagi di mana kami akan mendengar deru angin diiringi hawa dingin luar biasa.
Ada sebuah sisa rumah yang tidak dihuni lagi di salah satu ketinggian. Temboknya masih ada di beberapa tempat walaupun di beberapa tempat lain sudah jebol. Atapnya beberapa bagian sudah ambrol. Untuk melawan dingin kami memutuskan untuk tidak membangun kemah tetapi menggunakan rumah tidak lengkap itu. Kami membersihkannya, menutup sebagian atap dan melapis dengan kayu beberapa bagian dinding.
Semua kami bekerja keras. Kebetulan akulah Ketua Kelas T06 78 saat itu, menggantikan Wied (Widjaja Hadinukerto).
Sampailah kami ke persoalan menghancurkan beberapa dinding beton di dalam rumah agar kami bisa memiliki ruangan agak luas. Banyak kami yang pusing mencari palu dan alat pemukul lain untuk menghancurkan sejumlah dinding. Ternyata cara kami tidak efektif dan lama.
Di saat itu Erik muncul sambil berkata, coba saya tendangi ya, katanya. Tahukah apa yang terjadi? Kami cuma menyaksikan seorang jagoan karate dengan tenangnya menendangi sampai hancur beberapa bagian tembok. Gerakannya santai saja. Aku teringat Bima dalam cerita pewayangan yang sedang membabat hutan Dandaka untuk membangun Indraprasta.
Begitulah Erik. Betapa banyak kehebatannya. Jadi yang sekarang membuat kami bertanya dalam hati adalah, adakah kelemahan dari Erik? Semua juga bertanya seperti itu di dalam hati. Mungkinkah Erik memiliki kelemahan?
Ternyata belakangan baru kuketahui bahwa Erik yang hebat itu tidak bisa berenang! Tapi atas kelemahannya ini dia minta aku tidak mengatakannya kepada siapa-siapa. Sejak saat itu aku sering bercanda dengan dia, Sekarang aku tidak takut lagi berantem dengan kau Rik. Aku akan tantang kau dekat air, kataku. Dia ketawa mendengar tantanganku.
Lucunya, mungkin diapun pernah keceplosan kepada teman lain ada juga yang mengetahui kelemahannya ini, salah satu yang mengetahuinya adalah Totok.
Aku minta maaf pada Erik untuk membeberkan cerita dalam tulisan ini walaupun Erik pernah bilang beberapa tahun yang lalu untuk tidak mengungkapkan kelemahannya ini. Aduh Kawan, janganlah sebut-sebut lagi itu, katanya ketika dia kutelepon beberapa waktu yang lalu sambil bertanya apakah dia sekarang sudah bisa berenang. Aku memutuskan mempublish cerita ini semata mempererat persahabatan. Aku yakin sekali Erik tidak akan marah. Betul kan Rik?
Juga dalam kepemimpinanku sebagai Ketua Kelas, kami suatu saat berwisata ke pantai Pangandaran. Senang sekali kami kala itu. Setiap waktu kami lewati dengan sukacita meskipun udara cukup panas.
Karena aku baru sembuh dari demam, aku memutuskan untuk tidak berenang di laut. Betapa heran kulihat Erik senang sekali pergi ke laut. Beberapa kali dia mengajak aku ke laut, tapi selalu kutolak. Totok dan Eriklah motornya teman-teman untuk berenang ke laut. Sekali aku berbisik ke Totok. Bukankah Erik tidak bisa berenang? tanyaku kepada Totok. Totok menjawab dengan ketawa geli sekali, Justru itulah Kawan, katanya, Erik selalu meminta aku mendorong dia. Sementara dia memakai ban. Ban tidak pernah lepas dari badannya, dan dia selalu minta aku mendorongnya. Lalu sambil ketawa menyimpan maksud, Totok mengatakan padaku sekali ini dia mau mengerjai Erik.
Erikpun dari pantai sudah terus memanggili Totok. Lalu sambil ketawa kepadaku Totok berlari ke pantai dan mereka menceburkan diri ke laut. Aku dan hampir semua teman yang tidak berenang mendatangi pantai di sore itu. Terlihat Totok sudah mendorong Erik cukup jauh dari pantai. Lalu secara kami tidak sadari Totok berenang ke tepi, meninggalkan Erik di tengah laut. Barulah kami lihat di kejauhan Erik teriak-teriak, Totoook, Totoook .... gua bunuh Lu.
Totok sudah sampai di pantai sambil ketawa-ketawa. Kamipun semua ketawa-ketawa di sore menjelang senja itu.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba entah dari mana kami melihat sebuah perahu motor bergerak cepat ke tengah laut (Samudera Hindia). Kami semua terpana sampai tidak sadar perahu itu telah mendatangi kami di pantai sambil membawa Erik. Ternyata mereka adalah Pengawal Pantai.
Salah seorang dari mereka bertanya siapa pemimpin kami. Aku menunjuk tangan. Lalu aku didatangi. Kata mereka perbuatan ini tidak boleh diulang. 5 menit lagi saja kalau tadi Pengawal Pantai tidak datang, Erik akan terseret ke tengah Lautan dan tidak akan dapat diselamatkan lagi.
Betapa terperanjatnya kami dan kami minta maaf serta berterima kasih.
Para Pengawal itu kemudian pergi. Lalu Erik mengejar Totok. Mereka berkejaran entah ke mana. Yang pasti mereka muncul lagi kemudian sambil berpeluk-pelukan tertawa-tawa.
Syukurlah tidak terjadi apa-apa waktu itu. Semua adalah juga kemurahan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Sekarang Erik menjadi salah seorang Eksekutif di Bank Mandiri.
Salam Sahabat. Kiranya sukses selalu.
Erik seorang yang baik hati. Ganteng dan berbadan sangat bagus. Periang dan penolong. Gayanyapun tidak jadul. Tidak pula kuper kepada perempuan.
Kalau kami bertanding olahraga maka dia tampil sebagai salah satu jagoan kami. Orangnya ulet dan tidak gampang menyerah. Dalam pelajaranpun ok. Dia masuk jurusan Teknik Industri. Dulu jurusan itu adalah peringkat ke 2 dalam urutan IP rata-rata.
Sekali kami camping di suatu tempat yang cukup tinggi di puncak gunung, di hamparan kebun teh. Dingin sekali tempat itu. Matahari hanya terlihat 2 jam yaitu jam 11 siang sampai jam 13 siang. Selebihnya gelap seperti jam 4 atau 5 pagi umumnya atau gelap sama sekali di waktu malam. Itu adalah pengalaman camping yang sangat memorable. Begitu dinginnya, aku ingat bila kami memasak air panas maka pancinya bisa kami pegang bagian luarnya meskipun di dalamnya air sedang mendidih. Dalam dua jam munculnya matahari itu kami bermain bola atau berolahraga apa saja karena selebihnya kami kedinginan, meski telah berbaju hangat dan berjaket berlapis-lapis. Kami sering menunggu jam 4 pagi di mana kami akan mendengar deru angin diiringi hawa dingin luar biasa.
Ada sebuah sisa rumah yang tidak dihuni lagi di salah satu ketinggian. Temboknya masih ada di beberapa tempat walaupun di beberapa tempat lain sudah jebol. Atapnya beberapa bagian sudah ambrol. Untuk melawan dingin kami memutuskan untuk tidak membangun kemah tetapi menggunakan rumah tidak lengkap itu. Kami membersihkannya, menutup sebagian atap dan melapis dengan kayu beberapa bagian dinding.
Semua kami bekerja keras. Kebetulan akulah Ketua Kelas T06 78 saat itu, menggantikan Wied (Widjaja Hadinukerto).
Sampailah kami ke persoalan menghancurkan beberapa dinding beton di dalam rumah agar kami bisa memiliki ruangan agak luas. Banyak kami yang pusing mencari palu dan alat pemukul lain untuk menghancurkan sejumlah dinding. Ternyata cara kami tidak efektif dan lama.
Di saat itu Erik muncul sambil berkata, coba saya tendangi ya, katanya. Tahukah apa yang terjadi? Kami cuma menyaksikan seorang jagoan karate dengan tenangnya menendangi sampai hancur beberapa bagian tembok. Gerakannya santai saja. Aku teringat Bima dalam cerita pewayangan yang sedang membabat hutan Dandaka untuk membangun Indraprasta.
Begitulah Erik. Betapa banyak kehebatannya. Jadi yang sekarang membuat kami bertanya dalam hati adalah, adakah kelemahan dari Erik? Semua juga bertanya seperti itu di dalam hati. Mungkinkah Erik memiliki kelemahan?
Ternyata belakangan baru kuketahui bahwa Erik yang hebat itu tidak bisa berenang! Tapi atas kelemahannya ini dia minta aku tidak mengatakannya kepada siapa-siapa. Sejak saat itu aku sering bercanda dengan dia, Sekarang aku tidak takut lagi berantem dengan kau Rik. Aku akan tantang kau dekat air, kataku. Dia ketawa mendengar tantanganku.
Lucunya, mungkin diapun pernah keceplosan kepada teman lain ada juga yang mengetahui kelemahannya ini, salah satu yang mengetahuinya adalah Totok.
Aku minta maaf pada Erik untuk membeberkan cerita dalam tulisan ini walaupun Erik pernah bilang beberapa tahun yang lalu untuk tidak mengungkapkan kelemahannya ini. Aduh Kawan, janganlah sebut-sebut lagi itu, katanya ketika dia kutelepon beberapa waktu yang lalu sambil bertanya apakah dia sekarang sudah bisa berenang. Aku memutuskan mempublish cerita ini semata mempererat persahabatan. Aku yakin sekali Erik tidak akan marah. Betul kan Rik?
Juga dalam kepemimpinanku sebagai Ketua Kelas, kami suatu saat berwisata ke pantai Pangandaran. Senang sekali kami kala itu. Setiap waktu kami lewati dengan sukacita meskipun udara cukup panas.
Karena aku baru sembuh dari demam, aku memutuskan untuk tidak berenang di laut. Betapa heran kulihat Erik senang sekali pergi ke laut. Beberapa kali dia mengajak aku ke laut, tapi selalu kutolak. Totok dan Eriklah motornya teman-teman untuk berenang ke laut. Sekali aku berbisik ke Totok. Bukankah Erik tidak bisa berenang? tanyaku kepada Totok. Totok menjawab dengan ketawa geli sekali, Justru itulah Kawan, katanya, Erik selalu meminta aku mendorong dia. Sementara dia memakai ban. Ban tidak pernah lepas dari badannya, dan dia selalu minta aku mendorongnya. Lalu sambil ketawa menyimpan maksud, Totok mengatakan padaku sekali ini dia mau mengerjai Erik.
Erikpun dari pantai sudah terus memanggili Totok. Lalu sambil ketawa kepadaku Totok berlari ke pantai dan mereka menceburkan diri ke laut. Aku dan hampir semua teman yang tidak berenang mendatangi pantai di sore itu. Terlihat Totok sudah mendorong Erik cukup jauh dari pantai. Lalu secara kami tidak sadari Totok berenang ke tepi, meninggalkan Erik di tengah laut. Barulah kami lihat di kejauhan Erik teriak-teriak, Totoook, Totoook .... gua bunuh Lu.
Totok sudah sampai di pantai sambil ketawa-ketawa. Kamipun semua ketawa-ketawa di sore menjelang senja itu.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba entah dari mana kami melihat sebuah perahu motor bergerak cepat ke tengah laut (Samudera Hindia). Kami semua terpana sampai tidak sadar perahu itu telah mendatangi kami di pantai sambil membawa Erik. Ternyata mereka adalah Pengawal Pantai.
Salah seorang dari mereka bertanya siapa pemimpin kami. Aku menunjuk tangan. Lalu aku didatangi. Kata mereka perbuatan ini tidak boleh diulang. 5 menit lagi saja kalau tadi Pengawal Pantai tidak datang, Erik akan terseret ke tengah Lautan dan tidak akan dapat diselamatkan lagi.
Betapa terperanjatnya kami dan kami minta maaf serta berterima kasih.
Para Pengawal itu kemudian pergi. Lalu Erik mengejar Totok. Mereka berkejaran entah ke mana. Yang pasti mereka muncul lagi kemudian sambil berpeluk-pelukan tertawa-tawa.
Syukurlah tidak terjadi apa-apa waktu itu. Semua adalah juga kemurahan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Sekarang Erik menjadi salah seorang Eksekutif di Bank Mandiri.
Salam Sahabat. Kiranya sukses selalu.
Erik
Erick (Erik) adalah kawan baikku juga di tingkat I. Semua kami di T06 mengenal Erik sebagai seorang kawan yang baik hati. Orangnya periang, optimistis, santai dan pengawan. Tubuhnya berotot bagus, atletis dan geraknya lincah.
Sekali sepulang sekolah aku menanyakan padanya apakah olahraganya. Dengan santainya dia jawab bahwa dia senang bermain volleyball. Wah karena akupun senang main volley maka kukatakan senang sekali kalau kita bisa bermain bersama.
Di awal kuliah Erik sering datang ke tempat kostku yang terletak di Jl. Kebon Bibit Barat No. 45. Kami yang tinggal di situ menyebut diri kami Kelompok KBB 45.
Sering Erik datang untuk belajar bersama di kamar kostku.
Dalam kedatangan-kedatangannya tentu kami juga bercerita dan berdiskusi tentang banyak hal. Erik yang keturunan Kawanua adalah seorang teman bicara yang baik. Dia bisa mengimbangi pikiran kita dengan baik. Segala hal yang menarik perhatian kami, kami bicarakan dan obrolkan. Mulai dari politik, pemerintahan dan lain sebagainya sampai ke olahraga.
Sekali kami membicarakan topik seputar olahraga beladiri. Aku kebetulan seorang yang amat menyukai dan mengamati banyak hal. Senang sekali aku memotret dalam hatiku banyak hal yang menarik perhatianku. Biasanya orang senang dan menikmati sekali ketika aku mengeluarkan lagi apa yang ada di hatiku itu.
Begitulah mulai dari membicarakan soal tinju. Aku pengamat tinju sudah lama. Dengan fasih aku dapat meretrieve banyak fakta tentang tinju, apalagi kelas berat. Padahal kebanyakan itu kudapatkan dari bacaan atau menonton televisi/rekaman dokumenter. Aku dengan senang akan menceritakan tentang Jack Dempsey, Rocky Marciano, Max Baer sampai kepada Joe Louis. Aku ceritakan kehebatan mereka masing-masing. Selain aku ceritakan pula Jack Dempsey yang bisa sekali pukul membengkokkan tiang listrik dari besi. Rocky Marciano memecahkan kepala banteng aduan. Joe Louis (AS) mematahkan tulang rusuk Max Scmelling (Jerman) di sekitar Perang Dunia ke II.
Apalagi tentang petinju-petinju seputar jaman remajaku seperti Mohammad Ali yang bisa kuperagakan dengan baik gaya "float like a butterfly and sting like a bee"nya, atau gaya "rope a dope"nya, bahkan ducking, weavingnya. Belum lagi jab, counter dan hook/long hooknya yang dilontarkan sambil mengejek lawannya. George Foremanpun agak bisa kutirukan gayanya. Joe Frazier, Floyd Patterson, Oscar Bonavena dll kutahu sekali gayanya.
Mengimbangi cerita-ceritaku Erik sangat menyukainya. Itu terlihat sekali dari pancaran matanya yang menyatakan kesukaannya. Kami berdiskusi dalam sekali dalam hal ini.
Pembicaraan bergeser ke beladiri. Mulailah kami bicarakan tentang Judo, Tae Kwon Do bahkan sampai kepada Karate. Kebetulan yang kuketahuipun ada jugalah tentang beberapa jenis beladiri ini. Aku tahu bahkan sampai pada kembangan pukulan intinya perbedaan Karate Non Contact dan Full Body Contact. Akupun agak tahu sampai ke beberapa gerakannya perbedaan gaya pukul Lemkari, Inkai sampai ke Kyokushinkai.
Salah satu yang sangat menarik perhatian Erik adalah ketika aku memeragakan bagaimana juara dunia karate Non Contact waktu itu memenangkan finalnya yang gemilang. Aku memeragakan bagaimana dari gerakan siapnya (awal pertandingan), dengan satu gerakan harmonis memasukkan satu kali saja pukulan langsung ke ulu hati lawannya, lalu langsung kembali ke posisi siap dan menang Ippon (kemenangan KO sempurna, seperti skak mat dalam catur).
Beberapa kali adegan ini kami ulangi. Erik memeragakan lawan yang dikalahkan dan aku memerankan sang juara dunia. Hal ini kukuasai benar karena aku melihat film rekaman pertandingan itu, di mana gerakan itu berulang kali diputar dalam gerakan lambat.
Erik berkali-kali meminta aku menjelaskan kembali gerakan itu. Beberapa kali dia menggeleng-gelengkan kepala menyatakan kekagumannya akan gerakan itu. (Sering Erik curiga bahwa aku disangkanya seorang karateka. Padahal kubilang aku hanya seorang pencinta karate dan pengamat)
Semua itu kami lakukan di kamar kostku di KBB 45 itu.
Sekali waktu datanglah libur panjang. Banyak kami kembali ke kota masing-masing. Setahuku Erik berasal dari Surabaya tapi sudah cukup lama tinggal di Bandung sebelum masuk ke ITB.
Waktu libur itu sedang dilangsungkan PON (Pekan Olah Raga Nasional). Di tengah libur ada beberapa kali aku memutar TV untuk melihat beberapa tayang langsung dari berbagai arena. Tak kusangka suatu saat disiarkanlah final karate untuk kelas berat (kalau tidak salah). Dalam karate kelas dinyatakan dalam ukuran berat (satuan kg berat). Penyiar mengumumkan bahwa salah seorang yang akan tampil di final adalah karateka dari Jawa Barat, bernama Arnold Frederick Lumanauw. Betapa kagetnya aku, karena setahuku itu adalah nama panjang dari Erik, temanku.
Ketika dia disorot, ternyata betullah bahwa karateka dari Jabar itu adalah Erik sahabatku. Dia penyandang Black Belt. Astaga malunya aku bahwa selama ini aku sok tahu di depan seorang juara karate nasional. Aku benar-benar terkelabui. Dan bukan aku saja, ternyata banyak juga teman sekelas yang tidak tahu bahwa Erik adalah salah seorang juara karate nasional. (Erik sempat beberapa kali mewakili Indonesia ke event internasional karate, termasuk Olimpiade)
Bisa dibayangkan bagaimana sumpah serapahku waktu ketemu lagi dengan dia di kuliah setelah libur itu bukan? Yang jelas kata "sialan" pastilah beberapa kali keluar.
Itulah Erik yang benar-benar rendah hati. Sampai kepada aku sahabatnyapun dia tidak perlu untuk membangga-banggakan diri. Aku dan semua teman sangat bangga memiliki seorang teman yang jagoan tapi rendah hati ini. Bahkan ketika dikonfrontirpun dia hanya senyum-senyum saja.
Sekali waktu kelas kami dikepung sejumlah senior dari salah satu jurusan yang punya masalah dengan salah seorang teman kami. Kami semua siap untuk membela teman kami itu. Erikpun ikut menemani, tetapi dia selalu tenang dan mengatakan sedapat mungkin tidak perlu kita berkelahi. Di suatu tempat yang sudah dijanjikan, kami semua datang untuk menemani teman kami yang bermasalah itu. Di antara kami Erik duduk saja berjongkok dengan tenang di salah satu sudut.
Ketika senior-senior sudah datang mengepung dalam jumlah banyak, pemimpinnya begitu sombong menantang kami. Kelihatannya mereka tukang-tukang pukul juga. Sambil mengelilingi kami satu persatu dia menantang-nantang kami. Betapa kagetnya dia melihat salah seorang dari kami yang duduk jongkok dari tadi melihat ke bawah (tanah) tanpa suara.
Eh, Elu Rik!, kata senior itu kaget. Iya, jawab Erik tersenyum.
Waaah, Gua kagak tau Lu dari tadi di sini, kata senior itu kemudian. Kontan senior itu ikut jongkok dan berubah jadi seperti orang paling baik hati di seluruh dunia dan berbicara sopan sekali dengan Erik.
Sore itu senior-senior itu pulang tanpa ada perkelahian dengan pihak kami. Belakangan baru saya tahu bahwa pemimpinnya itu juga seorang karateka, tapi kemampuannya masih di bawah Erik.
Kontras sekali bukan, yang mana yang juara sejati dan yang mana yang macan ompong?
Sekali sepulang sekolah aku menanyakan padanya apakah olahraganya. Dengan santainya dia jawab bahwa dia senang bermain volleyball. Wah karena akupun senang main volley maka kukatakan senang sekali kalau kita bisa bermain bersama.
Di awal kuliah Erik sering datang ke tempat kostku yang terletak di Jl. Kebon Bibit Barat No. 45. Kami yang tinggal di situ menyebut diri kami Kelompok KBB 45.
Sering Erik datang untuk belajar bersama di kamar kostku.
Dalam kedatangan-kedatangannya tentu kami juga bercerita dan berdiskusi tentang banyak hal. Erik yang keturunan Kawanua adalah seorang teman bicara yang baik. Dia bisa mengimbangi pikiran kita dengan baik. Segala hal yang menarik perhatian kami, kami bicarakan dan obrolkan. Mulai dari politik, pemerintahan dan lain sebagainya sampai ke olahraga.
Sekali kami membicarakan topik seputar olahraga beladiri. Aku kebetulan seorang yang amat menyukai dan mengamati banyak hal. Senang sekali aku memotret dalam hatiku banyak hal yang menarik perhatianku. Biasanya orang senang dan menikmati sekali ketika aku mengeluarkan lagi apa yang ada di hatiku itu.
Begitulah mulai dari membicarakan soal tinju. Aku pengamat tinju sudah lama. Dengan fasih aku dapat meretrieve banyak fakta tentang tinju, apalagi kelas berat. Padahal kebanyakan itu kudapatkan dari bacaan atau menonton televisi/rekaman dokumenter. Aku dengan senang akan menceritakan tentang Jack Dempsey, Rocky Marciano, Max Baer sampai kepada Joe Louis. Aku ceritakan kehebatan mereka masing-masing. Selain aku ceritakan pula Jack Dempsey yang bisa sekali pukul membengkokkan tiang listrik dari besi. Rocky Marciano memecahkan kepala banteng aduan. Joe Louis (AS) mematahkan tulang rusuk Max Scmelling (Jerman) di sekitar Perang Dunia ke II.
Apalagi tentang petinju-petinju seputar jaman remajaku seperti Mohammad Ali yang bisa kuperagakan dengan baik gaya "float like a butterfly and sting like a bee"nya, atau gaya "rope a dope"nya, bahkan ducking, weavingnya. Belum lagi jab, counter dan hook/long hooknya yang dilontarkan sambil mengejek lawannya. George Foremanpun agak bisa kutirukan gayanya. Joe Frazier, Floyd Patterson, Oscar Bonavena dll kutahu sekali gayanya.
Mengimbangi cerita-ceritaku Erik sangat menyukainya. Itu terlihat sekali dari pancaran matanya yang menyatakan kesukaannya. Kami berdiskusi dalam sekali dalam hal ini.
Pembicaraan bergeser ke beladiri. Mulailah kami bicarakan tentang Judo, Tae Kwon Do bahkan sampai kepada Karate. Kebetulan yang kuketahuipun ada jugalah tentang beberapa jenis beladiri ini. Aku tahu bahkan sampai pada kembangan pukulan intinya perbedaan Karate Non Contact dan Full Body Contact. Akupun agak tahu sampai ke beberapa gerakannya perbedaan gaya pukul Lemkari, Inkai sampai ke Kyokushinkai.
Salah satu yang sangat menarik perhatian Erik adalah ketika aku memeragakan bagaimana juara dunia karate Non Contact waktu itu memenangkan finalnya yang gemilang. Aku memeragakan bagaimana dari gerakan siapnya (awal pertandingan), dengan satu gerakan harmonis memasukkan satu kali saja pukulan langsung ke ulu hati lawannya, lalu langsung kembali ke posisi siap dan menang Ippon (kemenangan KO sempurna, seperti skak mat dalam catur).
Beberapa kali adegan ini kami ulangi. Erik memeragakan lawan yang dikalahkan dan aku memerankan sang juara dunia. Hal ini kukuasai benar karena aku melihat film rekaman pertandingan itu, di mana gerakan itu berulang kali diputar dalam gerakan lambat.
Erik berkali-kali meminta aku menjelaskan kembali gerakan itu. Beberapa kali dia menggeleng-gelengkan kepala menyatakan kekagumannya akan gerakan itu. (Sering Erik curiga bahwa aku disangkanya seorang karateka. Padahal kubilang aku hanya seorang pencinta karate dan pengamat)
Semua itu kami lakukan di kamar kostku di KBB 45 itu.
Sekali waktu datanglah libur panjang. Banyak kami kembali ke kota masing-masing. Setahuku Erik berasal dari Surabaya tapi sudah cukup lama tinggal di Bandung sebelum masuk ke ITB.
Waktu libur itu sedang dilangsungkan PON (Pekan Olah Raga Nasional). Di tengah libur ada beberapa kali aku memutar TV untuk melihat beberapa tayang langsung dari berbagai arena. Tak kusangka suatu saat disiarkanlah final karate untuk kelas berat (kalau tidak salah). Dalam karate kelas dinyatakan dalam ukuran berat (satuan kg berat). Penyiar mengumumkan bahwa salah seorang yang akan tampil di final adalah karateka dari Jawa Barat, bernama Arnold Frederick Lumanauw. Betapa kagetnya aku, karena setahuku itu adalah nama panjang dari Erik, temanku.
Ketika dia disorot, ternyata betullah bahwa karateka dari Jabar itu adalah Erik sahabatku. Dia penyandang Black Belt. Astaga malunya aku bahwa selama ini aku sok tahu di depan seorang juara karate nasional. Aku benar-benar terkelabui. Dan bukan aku saja, ternyata banyak juga teman sekelas yang tidak tahu bahwa Erik adalah salah seorang juara karate nasional. (Erik sempat beberapa kali mewakili Indonesia ke event internasional karate, termasuk Olimpiade)
Bisa dibayangkan bagaimana sumpah serapahku waktu ketemu lagi dengan dia di kuliah setelah libur itu bukan? Yang jelas kata "sialan" pastilah beberapa kali keluar.
Itulah Erik yang benar-benar rendah hati. Sampai kepada aku sahabatnyapun dia tidak perlu untuk membangga-banggakan diri. Aku dan semua teman sangat bangga memiliki seorang teman yang jagoan tapi rendah hati ini. Bahkan ketika dikonfrontirpun dia hanya senyum-senyum saja.
Sekali waktu kelas kami dikepung sejumlah senior dari salah satu jurusan yang punya masalah dengan salah seorang teman kami. Kami semua siap untuk membela teman kami itu. Erikpun ikut menemani, tetapi dia selalu tenang dan mengatakan sedapat mungkin tidak perlu kita berkelahi. Di suatu tempat yang sudah dijanjikan, kami semua datang untuk menemani teman kami yang bermasalah itu. Di antara kami Erik duduk saja berjongkok dengan tenang di salah satu sudut.
Ketika senior-senior sudah datang mengepung dalam jumlah banyak, pemimpinnya begitu sombong menantang kami. Kelihatannya mereka tukang-tukang pukul juga. Sambil mengelilingi kami satu persatu dia menantang-nantang kami. Betapa kagetnya dia melihat salah seorang dari kami yang duduk jongkok dari tadi melihat ke bawah (tanah) tanpa suara.
Eh, Elu Rik!, kata senior itu kaget. Iya, jawab Erik tersenyum.
Waaah, Gua kagak tau Lu dari tadi di sini, kata senior itu kemudian. Kontan senior itu ikut jongkok dan berubah jadi seperti orang paling baik hati di seluruh dunia dan berbicara sopan sekali dengan Erik.
Sore itu senior-senior itu pulang tanpa ada perkelahian dengan pihak kami. Belakangan baru saya tahu bahwa pemimpinnya itu juga seorang karateka, tapi kemampuannya masih di bawah Erik.
Kontras sekali bukan, yang mana yang juara sejati dan yang mana yang macan ompong?
Ferry dan Agus
Ferry dan Agus adalah teman-teman tingkat I yang pernah tinggal bersama aku di Jl. Ciung Wanara 20.
Mereka datang bergabung setelah mendapat informasi dari aku. Ferry tinggal di kamar yang persis di sebelah kamarku. Agus jauh di kamar yang paling ujung. Di rumah kost itu ada 7 kamar. Masing-masing kamar diisi satu orang.
Rumah kami di CW 20 adalah rumah yang paling dekat dengan kampus. Tempat-tempat lain yang dekat dengan kampus adalah asrama-asrama, seperti Asrama B, Asrama F, Villa Merah dlsb. Tapi kalau rumah, yang terdekat dengan kampus adalah rumah kami. Berdekatan dengan rumah kami adalah asrama mahasiswa asal Bali, lalu tempat kost (cukup banyak kamarnya) di mana tinggal dua bersaudara terkenal Amir Sambodo dan Umar Djuoro.
Tapi karena dekatnya (paling-paling 5 menit berjalan kaki ke ruang kuliah), akulah yang paling sering terlambat masuk kelas.
Rumah ini kudapati kosong ketika aku mencari-cari tempat tinggal yang lebih dekat dari rumah kost sebelumnya di Jl. Kebon Bibit Barat No. 45. Ibuku selalu mendesakku agar mendapatkan rumah yang lebih dekat dengan kampus agar beliau lebih tenang di Jakarta.
Tadinya rumah kost ini adalah rumah kost putri. Karena lama kosong, jadi kamar-kamarnya cukup kotor. Belakangan baru kutahu bahwa rumah ini sudah lama tidak didatangi oleh pencari kost karena katanya banyak hantunya. Orang takut dan tidak mau tinggal kost di situ.
Semua saya tahu ketika saya sudah masuk dan membayar kost di situ. Secara manusia sempat juga aku agak takut ketika mulai tinggal di situ. Seorang diri pula. Tapi kuserahkan semuanya kepada Tuhan.
Setiap ada orang yang sudah lama di Bandung bertanya di mana aku tinggal dan kujawab di Jl. CW 20, Oh rumah yang ada hantunya itu ya? tanya orang. Udah pernah diganggu? tanya mereka pula.
Selalu kujawab, Tidak pernah. Barangkali hantunya takut sama orang Batak.
Sebenarnya rumah kost ini sangat cantik. Struktur dan dindingnya terbuat dari kayu, demikian pulan dengan lantainya. Terletak di lantai 2. Meskipun seperti diletakkan di atas rumah utama (masuk harus dari pintu samping dekat garasi), tetapi dalam kesehariannya kita tidak berkontak langsung dengan pemilik rumah.
Indah dan artistik tempat kost itu, bahkan kamarku kelak aku pilih yang berbentuk penthouse. Banyak orang senang dengan keindahan rumah ini. Karena dekatnya dengan kampus, rumah kami ini juga menjadi semacam pos untuk teman-teman yang belum mau pulang ke rumah masing-masing pada setiap harinya.
Ferry Tanzil dan Agus Kristianto adalah dua teman yang tertarik bergabung ke CW 20. Lalu ada lagi beberapa orang lain.
Ternyata Ferry dan Agus tidak akur. Ferry orangnya easy going dan supel. Agus orangnya serius walaupun bukan kaku sekali. Agus ini kelak menjadi mahasiswa angkatan kami dengan IP paling tinggi (980 dari maksimum 1000). Tidak ada yang menyaingi kerajinan dan kepintarannya. Semua orang yang terkenal pintar kalah angkanya dibandingkan dia. Sayang karena sifatnya yang tidak akomodatif, nasibnya di ITB hancur lebur (masuk Elektro, keluar, ujian lagi angkatan baru, masuk Sipil, dimusuhi kawan, dlsb.)
Di rumah, aku lebih berperan sebagai penengah bagi keduanya. Ferry benci sekali pada Agus yang sering membawa koran (iuran bersama) ke kamar dan tidak mengembalikan ke ruang tamu. Sudah ada perjanjian kami yang tinggal satu kost bahwa koran (yang dibayar dengan iuran bersama, demikian pula dengan makanan) harus dibaca di ruang tamu. Kalaupun mau dibaca sebentar harus cepat dikembalikan lagi ke ruang tamu.
Sering Ferry pulang ke rumah dan ingin makan di ruang makan, makanan habis. Usut punya usut ternyata Agus menyikat jatah Ferry. Kalau kencing di kamar mandi Agus sering tidak membersihkan/flushing.
Antar mereka tidak ada kontak. Akulah mediator mereka.
Pernah kutemui mereka hampir berkelahi. Ferry sudah sempat mengacungkan pisau roti ke leher Agus, di kamar makan.
Ketika suatu masa libur panjang datang, keduanya keluar dari CW 20. Biasanya kami pulang ke kota asal kami. Ferry ke Jakarta, Agus ke Semarang. Aku juga pulang ke Jakarta, tapi karena senang di CW 20, meski kosong kamarku tetap kubayar.
Ferry bercerita kepadaku ketika masa perkuliahan dimulai lagi dan semua mahasiswa telah kembali ke Bandung. Cukup sulit dia mencari kamar kost, apalagi Bandung makin padat mahasiswa dan tempat kost banyak yang penuh. Akhirnya di saat sudah agak sore dia mendapat satu kamar di dekat Jl. Pasteur. Pemilik rumah mengatakan hanya tinggal satu kamarnya yang masih kosong. Itupun untuk berdua. Pemilik minta maaf tempat tidurnya masih tempat tidur besar dan belum sempat membeli 2 tempat tidur kecil untuk 2 orang.
Ferry bertanya siapa orang yang satu lagi yang akan sekamar dengan dia nanti. Pemilik mengatakan mahasiswa ITB juga, baru tadi pagi masuk tapi sekarang sedang keluar sebentar. Barang-barang orang itu sudah diletakkan di kamar itu. Sebagian sudah disusun.
Ferrypun meletakkan semua barangnya, lalu keluar juga.
Sudah kebiasaan Ferry untuk pulang agak malam (kukenal kebiasaannya karena sekian lama kami bersama di CW 20). Hari itupun Ferry pulang larut malam. Dimasukinya kamar barunya yang gelap karena lampu kamar telah dimatikan oleh teman sekamarnya. Teman sekamarnya tampaknya sudah tidur lelap menghadap ke sisi luar tempat tidur.
Ferry merasa tidak enak untuk menghidupkan lampu kamar, apalagi membangunkan kawan setempat tidurnya. Diapun menarik selimutnya, menghadap ke sisi luar berlawanan dan mencoba tidur.
Sialnya kata Ferry, semalaman dia tidak bisa tidur karena bunyi jam model lama milik teman setempat tidurnya itu. Kata Ferry bunyinya tik-tok, tik-tok, dst. Jam itu tipe metal (warna perak, biasanya Made in China) yang diputar manual. Kalau alarmnya berbunyi, akan keras sekali bunyinya karena berbentuk 2 bel sepeda yang dipalu dengan palu metal pula. (Saudara pembaca pasti mengerti tipe apa maksudnya jam ini).
Belum lagi katanya kawan setempat tidurnya ini suka menarik-narik ke belakang selimut yang milik Ferry. Tangan itu bergerak ke belakang dengan lihainya melompati bantal guling yang sudah diletakkan Ferry sebagai batas antar kedua punggung mereka.
Tiba-tiba Ferry teringat teman/musuhnya dulu di CW 20, si Agus yang punya jam model begitu. Berkali-kali Ferry mencoba mengintip ke samping/belakang, jangan-jangan yang setempat tidur ini memang si Agus. Tapi Ferry gagal mengidentifikasi karena kamar gelap dan orang itu menghadap ke arah berlawanan.
Menjelang pagi barulah Ferry agak tertidur. Sial bagi Ferry tiba-tiba jam kurang ajar itu (kata-kata Ferry) berbunyi. Ferry menarik selimut menutup kuping dan kepalanya.
Dia mendengar orang di sebelahnya bangun, lalu beberapa saat kemudian di samping tempat tidur melakukan senam ringan.
Kali ini Ferry ingat betul, orang yang punya kebiasaan tidur cepat, bangun cepat dan senam ringan adalah Agus! Langsung Ferry bangkit dan berseru, Lu Agus ya?
Iya, jawab orang yang semalam setempat tidur dengan Ferry itu.
Sialan Lu, dari kemarin Gua curiga, tapi ngga bisa mastiin, kata Ferry. Agus malah terkekeh-kekeh.
Lalu Ferry bertanya, Dari kemaren Elu udah tahu Gua yang masuk di sebelah Lu?
Tahu, jawab Agus singkat. Gila Lu, kata Ferry.
Pagi itu juga Ferry langsung keluar dari rumah itu, mencari kost baru. Uang yang sudah dibayar direlakannya.
Mereka datang bergabung setelah mendapat informasi dari aku. Ferry tinggal di kamar yang persis di sebelah kamarku. Agus jauh di kamar yang paling ujung. Di rumah kost itu ada 7 kamar. Masing-masing kamar diisi satu orang.
Rumah kami di CW 20 adalah rumah yang paling dekat dengan kampus. Tempat-tempat lain yang dekat dengan kampus adalah asrama-asrama, seperti Asrama B, Asrama F, Villa Merah dlsb. Tapi kalau rumah, yang terdekat dengan kampus adalah rumah kami. Berdekatan dengan rumah kami adalah asrama mahasiswa asal Bali, lalu tempat kost (cukup banyak kamarnya) di mana tinggal dua bersaudara terkenal Amir Sambodo dan Umar Djuoro.
Tapi karena dekatnya (paling-paling 5 menit berjalan kaki ke ruang kuliah), akulah yang paling sering terlambat masuk kelas.
Rumah ini kudapati kosong ketika aku mencari-cari tempat tinggal yang lebih dekat dari rumah kost sebelumnya di Jl. Kebon Bibit Barat No. 45. Ibuku selalu mendesakku agar mendapatkan rumah yang lebih dekat dengan kampus agar beliau lebih tenang di Jakarta.
Tadinya rumah kost ini adalah rumah kost putri. Karena lama kosong, jadi kamar-kamarnya cukup kotor. Belakangan baru kutahu bahwa rumah ini sudah lama tidak didatangi oleh pencari kost karena katanya banyak hantunya. Orang takut dan tidak mau tinggal kost di situ.
Semua saya tahu ketika saya sudah masuk dan membayar kost di situ. Secara manusia sempat juga aku agak takut ketika mulai tinggal di situ. Seorang diri pula. Tapi kuserahkan semuanya kepada Tuhan.
Setiap ada orang yang sudah lama di Bandung bertanya di mana aku tinggal dan kujawab di Jl. CW 20, Oh rumah yang ada hantunya itu ya? tanya orang. Udah pernah diganggu? tanya mereka pula.
Selalu kujawab, Tidak pernah. Barangkali hantunya takut sama orang Batak.
Sebenarnya rumah kost ini sangat cantik. Struktur dan dindingnya terbuat dari kayu, demikian pulan dengan lantainya. Terletak di lantai 2. Meskipun seperti diletakkan di atas rumah utama (masuk harus dari pintu samping dekat garasi), tetapi dalam kesehariannya kita tidak berkontak langsung dengan pemilik rumah.
Indah dan artistik tempat kost itu, bahkan kamarku kelak aku pilih yang berbentuk penthouse. Banyak orang senang dengan keindahan rumah ini. Karena dekatnya dengan kampus, rumah kami ini juga menjadi semacam pos untuk teman-teman yang belum mau pulang ke rumah masing-masing pada setiap harinya.
Ferry Tanzil dan Agus Kristianto adalah dua teman yang tertarik bergabung ke CW 20. Lalu ada lagi beberapa orang lain.
Ternyata Ferry dan Agus tidak akur. Ferry orangnya easy going dan supel. Agus orangnya serius walaupun bukan kaku sekali. Agus ini kelak menjadi mahasiswa angkatan kami dengan IP paling tinggi (980 dari maksimum 1000). Tidak ada yang menyaingi kerajinan dan kepintarannya. Semua orang yang terkenal pintar kalah angkanya dibandingkan dia. Sayang karena sifatnya yang tidak akomodatif, nasibnya di ITB hancur lebur (masuk Elektro, keluar, ujian lagi angkatan baru, masuk Sipil, dimusuhi kawan, dlsb.)
Di rumah, aku lebih berperan sebagai penengah bagi keduanya. Ferry benci sekali pada Agus yang sering membawa koran (iuran bersama) ke kamar dan tidak mengembalikan ke ruang tamu. Sudah ada perjanjian kami yang tinggal satu kost bahwa koran (yang dibayar dengan iuran bersama, demikian pula dengan makanan) harus dibaca di ruang tamu. Kalaupun mau dibaca sebentar harus cepat dikembalikan lagi ke ruang tamu.
Sering Ferry pulang ke rumah dan ingin makan di ruang makan, makanan habis. Usut punya usut ternyata Agus menyikat jatah Ferry. Kalau kencing di kamar mandi Agus sering tidak membersihkan/flushing.
Antar mereka tidak ada kontak. Akulah mediator mereka.
Pernah kutemui mereka hampir berkelahi. Ferry sudah sempat mengacungkan pisau roti ke leher Agus, di kamar makan.
Ketika suatu masa libur panjang datang, keduanya keluar dari CW 20. Biasanya kami pulang ke kota asal kami. Ferry ke Jakarta, Agus ke Semarang. Aku juga pulang ke Jakarta, tapi karena senang di CW 20, meski kosong kamarku tetap kubayar.
Ferry bercerita kepadaku ketika masa perkuliahan dimulai lagi dan semua mahasiswa telah kembali ke Bandung. Cukup sulit dia mencari kamar kost, apalagi Bandung makin padat mahasiswa dan tempat kost banyak yang penuh. Akhirnya di saat sudah agak sore dia mendapat satu kamar di dekat Jl. Pasteur. Pemilik rumah mengatakan hanya tinggal satu kamarnya yang masih kosong. Itupun untuk berdua. Pemilik minta maaf tempat tidurnya masih tempat tidur besar dan belum sempat membeli 2 tempat tidur kecil untuk 2 orang.
Ferry bertanya siapa orang yang satu lagi yang akan sekamar dengan dia nanti. Pemilik mengatakan mahasiswa ITB juga, baru tadi pagi masuk tapi sekarang sedang keluar sebentar. Barang-barang orang itu sudah diletakkan di kamar itu. Sebagian sudah disusun.
Ferrypun meletakkan semua barangnya, lalu keluar juga.
Sudah kebiasaan Ferry untuk pulang agak malam (kukenal kebiasaannya karena sekian lama kami bersama di CW 20). Hari itupun Ferry pulang larut malam. Dimasukinya kamar barunya yang gelap karena lampu kamar telah dimatikan oleh teman sekamarnya. Teman sekamarnya tampaknya sudah tidur lelap menghadap ke sisi luar tempat tidur.
Ferry merasa tidak enak untuk menghidupkan lampu kamar, apalagi membangunkan kawan setempat tidurnya. Diapun menarik selimutnya, menghadap ke sisi luar berlawanan dan mencoba tidur.
Sialnya kata Ferry, semalaman dia tidak bisa tidur karena bunyi jam model lama milik teman setempat tidurnya itu. Kata Ferry bunyinya tik-tok, tik-tok, dst. Jam itu tipe metal (warna perak, biasanya Made in China) yang diputar manual. Kalau alarmnya berbunyi, akan keras sekali bunyinya karena berbentuk 2 bel sepeda yang dipalu dengan palu metal pula. (Saudara pembaca pasti mengerti tipe apa maksudnya jam ini).
Belum lagi katanya kawan setempat tidurnya ini suka menarik-narik ke belakang selimut yang milik Ferry. Tangan itu bergerak ke belakang dengan lihainya melompati bantal guling yang sudah diletakkan Ferry sebagai batas antar kedua punggung mereka.
Tiba-tiba Ferry teringat teman/musuhnya dulu di CW 20, si Agus yang punya jam model begitu. Berkali-kali Ferry mencoba mengintip ke samping/belakang, jangan-jangan yang setempat tidur ini memang si Agus. Tapi Ferry gagal mengidentifikasi karena kamar gelap dan orang itu menghadap ke arah berlawanan.
Menjelang pagi barulah Ferry agak tertidur. Sial bagi Ferry tiba-tiba jam kurang ajar itu (kata-kata Ferry) berbunyi. Ferry menarik selimut menutup kuping dan kepalanya.
Dia mendengar orang di sebelahnya bangun, lalu beberapa saat kemudian di samping tempat tidur melakukan senam ringan.
Kali ini Ferry ingat betul, orang yang punya kebiasaan tidur cepat, bangun cepat dan senam ringan adalah Agus! Langsung Ferry bangkit dan berseru, Lu Agus ya?
Iya, jawab orang yang semalam setempat tidur dengan Ferry itu.
Sialan Lu, dari kemarin Gua curiga, tapi ngga bisa mastiin, kata Ferry. Agus malah terkekeh-kekeh.
Lalu Ferry bertanya, Dari kemaren Elu udah tahu Gua yang masuk di sebelah Lu?
Tahu, jawab Agus singkat. Gila Lu, kata Ferry.
Pagi itu juga Ferry langsung keluar dari rumah itu, mencari kost baru. Uang yang sudah dibayar direlakannya.
Darwin & Totok sakit typhus
Darwin dan Aswin sahabat awalku di tingkat I. Waktu itu kami sekelas di T06 masih bersama-sama dicampur walaupun terbagi dalam 3 fakultas (F MIPA/Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, FTI/Teknologi Industri dan FTSP/Teknik Sipil dan Perencanaan).
Ada kesamaan kami bertiga yaitu bicara dengan logat Medan.
Darwin dan aku tinggal di Jalan Aceh (aku di No 123, Darwin kalau tak salah di No. 56). Karena Jl. Aceh itu panjang sekali, jarak rumahku dan rumah Darwin sebenarnya cukup jauh. Tidak selalu aku dan Darwin bisa pergi dan pulang bersama-sama. Aswin tinggal di lokasi lain. Kompak sekali kami waktu itu. Hampir selalu kami bersama-sama. Duduk kuliahpun berdekat-dekatan. Kebetulan memang kami sama-sama FTI.
Kemudian hari kamipun menjadi kelompok lebih besar yang kompak dengan Lilik Muflihun, Totok (Bambang Sugiarto), Yanto (Bambang Widjajanto), Andi Rusli, Erick (Arnold Frederick Lumanauw), Dedi (Rinaldi Bahri), Ari (Azhary), Atmo (Bambang Sudiatmo), Kamser Lumbanraja dan lain-lain. Kawan-kawan kami yang perempuan antara lain Eni, Yance, Mira, Karen, dll.
Suatu hari aku dan Aswin baru menyadari bahwa sudah dua tiga harian Darwin tidak masuk kuliah. Ke mana gerangan kawan kami itu?
Setelah masuk hari ke sekian, aku dan Aswin memutuskan datang ke rumah kost Darwin setelah pulang kuliah.
Kamar kost Darwin adalah eks garasi dari sebuah rumah. Dari jauh kami melihat bahwa motor Darwin (Honda bebek warna hijau) ada diparkir di luar. Kami bertanya-tanya dalam hati.
Setelah masuk ke rumah, kami minta ijin pada yang punya rumah untuk masuk ke kamar Darwin. Rupanya yang punya rumah tidak terlalu memperhatikan mereka yang kost pada rumah mereka, apalagi kamar Darwin/eks garasi secara bangunan terpisah dari rumah utama.
Setelah diijinkan, kami mendekati pintu kamar Darwin. Tidak ada jendela yang menghadap ke luar (mungkin yang ada menghadap ke samping atas atau ke belakang). Betapa kaget ketika kami intip dari lubang kunci, kuncinya kamar Darwin ada! Berarti Darwin pasti di dalam, pikir kami.
Mulailah kami mengetuk-ngetuk. Karena tak berjawab kami mulai memanggil nama kawan kami itu dengan suara keras. Lama-lama kami mulai menggedor-gedor dan memanggil-manggil namanya dengan berteriak.
Lantaran tidak ada jawaban juga, seingat aku mulailah kami mengadakan gerakan mundur beberapa langkah ke belakang, lalu lari cepat ke depan menerjang pintu kamar Darwin. Karena badanku lebih besar dari Aswin, seingatku gebrakankulah yang berhasil membuka pintu yang tadinya terkunci itu.
Betapa terkejutnya kami mendapati Darwin dalam keadaan sangat lemah, tidak bisa bergerak. Mukanya pucat, lemas sekali. Dia berselimut beberapa lapis dan bibirnya putih sekali.
Kami membawa Darwin ke rumah-sakit. Rupanya dia terserang typhus. Syukurlah akhirnya Darwin sembuh dan kami bersama-sama lagi.
Beberapa tahun kemudian aku mendapat cerita dari Lilik. Rupanya sahabat kami yang baik dan lucu minta ampun, Totok juga pernah sakit typhus. Kali ini aku betul-betul tidak tahu cerita ini pada waktu itu.
Menurut penuturan Lilik, Darwinlah yang mencari dan mendatangi Totok di tempat tinggalnya yang sangat sederhana (kalau tidak salah sekitar Sekeloa, betul/salah?).
Darwin mendapati Totok sedang sakit. Ei, kenapa kau? kata Darwin. Dengan lemas Totok menjawab, aku sakit Kawan.
Lalu Darwin berkata, Sudah ke dokter kau? Totok menjawab, Belum Kawan, aku nda' punya duit.
Wah .. wah .. kata Darwin, Sudah makan kau?
Belum Kawan, aku betul-betul ngga punya duit, kata Totok.
Lalu Darwin menyahut, Tunggu sebentar ya! Bergegaslah Darwin pergi meninggalkan Totok. Beberapa jenak kemudian dia datang lagi membawa nasi bungkus. Totok bertanya, Wah apa ini Kawan? Darwin menjawab pendek, Pokoknya makanlah!
Ternyata yang dibawa Darwin adalah nasi Padang! Totok shock berat. Bukan hanya karena kebaikan Darwin, tetapi bagaimana caranya makan nasi Padang dalam keadaan sakit typhus?!
Pertama, sahabat kami Totok adalah orang Jawa (timur). Saudara-saudara dari Jawa biasanya tidak kuat makan yang pedas-pedas. Kedua, bukankah orang sakit typhus tidak boleh makan yang pedas! Betapa berrisikonya sebenarnya makan nasi Padang tsb.
Tapi, mungkin karena sudah begitu lapar, Totok makan juga nasi Padang itu sambil sebentar-sebentar kepedasan.
Rupanya Tuhan memberkati niat baik Darwin itu. Sahabat kami Totok akhirnya kemudian sembuh dari typhusnya! What a miracle!
Menurut cerita, sampai hari ini Totok tidak pernah lupa akan kebaikan Darwin.
Sekarang Totok sudah menjadi pengusaha besar meubelair dan furniture di Cirebon. Setiap saat harus berpameran di Jerman, Belanda, dan manca negara lain. Kami semua selalu diundangnya untuk datang ke sanggarnya di Cirebon. Dia menikah dengan Yance, kawan sekelas kami juga yang sudah "jadian" sejak kami kuliah di Bandung.
Darwin Syam Siregar sekarang telah menjadi pejabat tinggi di Pemda DKI Jaya. Banyak sudah karyanya yang membanggakan. Tidak mudah tentunya sekarang mengganggu Big Boss ini.
Kawan kami Karen sekarang menjadi Dirut Pertamina. Waw! Luar biasa! Syukurlah dia tetap baik dan ramah kepada kami semua.
Mereka semua adalah sahabat-sahabatku yang baik. Syukurlah sekarang kami agak sering bertemu lagi setelah terjadinya Reuni Besar Angkatan 78 tahun 2008 yang lalu.
Mereka tetap baik, tidak sombong. Semua kami ingat akan masa-masa lalu yang penuh kenangan. Bukankah itu semua berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa? Bukankah itu menjadi harta kami bersama yang tak ternilai?
Special Note: Hanya Aswin Tobing yang belum kami dapatkan kabarnya. Di manakah engkau sekarang Sahabat? Salam hangat dari kami semua.
Kabari kami kalau kau terima salam kami.
Ada kesamaan kami bertiga yaitu bicara dengan logat Medan.
Darwin dan aku tinggal di Jalan Aceh (aku di No 123, Darwin kalau tak salah di No. 56). Karena Jl. Aceh itu panjang sekali, jarak rumahku dan rumah Darwin sebenarnya cukup jauh. Tidak selalu aku dan Darwin bisa pergi dan pulang bersama-sama. Aswin tinggal di lokasi lain. Kompak sekali kami waktu itu. Hampir selalu kami bersama-sama. Duduk kuliahpun berdekat-dekatan. Kebetulan memang kami sama-sama FTI.
Kemudian hari kamipun menjadi kelompok lebih besar yang kompak dengan Lilik Muflihun, Totok (Bambang Sugiarto), Yanto (Bambang Widjajanto), Andi Rusli, Erick (Arnold Frederick Lumanauw), Dedi (Rinaldi Bahri), Ari (Azhary), Atmo (Bambang Sudiatmo), Kamser Lumbanraja dan lain-lain. Kawan-kawan kami yang perempuan antara lain Eni, Yance, Mira, Karen, dll.
Suatu hari aku dan Aswin baru menyadari bahwa sudah dua tiga harian Darwin tidak masuk kuliah. Ke mana gerangan kawan kami itu?
Setelah masuk hari ke sekian, aku dan Aswin memutuskan datang ke rumah kost Darwin setelah pulang kuliah.
Kamar kost Darwin adalah eks garasi dari sebuah rumah. Dari jauh kami melihat bahwa motor Darwin (Honda bebek warna hijau) ada diparkir di luar. Kami bertanya-tanya dalam hati.
Setelah masuk ke rumah, kami minta ijin pada yang punya rumah untuk masuk ke kamar Darwin. Rupanya yang punya rumah tidak terlalu memperhatikan mereka yang kost pada rumah mereka, apalagi kamar Darwin/eks garasi secara bangunan terpisah dari rumah utama.
Setelah diijinkan, kami mendekati pintu kamar Darwin. Tidak ada jendela yang menghadap ke luar (mungkin yang ada menghadap ke samping atas atau ke belakang). Betapa kaget ketika kami intip dari lubang kunci, kuncinya kamar Darwin ada! Berarti Darwin pasti di dalam, pikir kami.
Mulailah kami mengetuk-ngetuk. Karena tak berjawab kami mulai memanggil nama kawan kami itu dengan suara keras. Lama-lama kami mulai menggedor-gedor dan memanggil-manggil namanya dengan berteriak.
Lantaran tidak ada jawaban juga, seingat aku mulailah kami mengadakan gerakan mundur beberapa langkah ke belakang, lalu lari cepat ke depan menerjang pintu kamar Darwin. Karena badanku lebih besar dari Aswin, seingatku gebrakankulah yang berhasil membuka pintu yang tadinya terkunci itu.
Betapa terkejutnya kami mendapati Darwin dalam keadaan sangat lemah, tidak bisa bergerak. Mukanya pucat, lemas sekali. Dia berselimut beberapa lapis dan bibirnya putih sekali.
Kami membawa Darwin ke rumah-sakit. Rupanya dia terserang typhus. Syukurlah akhirnya Darwin sembuh dan kami bersama-sama lagi.
Beberapa tahun kemudian aku mendapat cerita dari Lilik. Rupanya sahabat kami yang baik dan lucu minta ampun, Totok juga pernah sakit typhus. Kali ini aku betul-betul tidak tahu cerita ini pada waktu itu.
Menurut penuturan Lilik, Darwinlah yang mencari dan mendatangi Totok di tempat tinggalnya yang sangat sederhana (kalau tidak salah sekitar Sekeloa, betul/salah?).
Darwin mendapati Totok sedang sakit. Ei, kenapa kau? kata Darwin. Dengan lemas Totok menjawab, aku sakit Kawan.
Lalu Darwin berkata, Sudah ke dokter kau? Totok menjawab, Belum Kawan, aku nda' punya duit.
Wah .. wah .. kata Darwin, Sudah makan kau?
Belum Kawan, aku betul-betul ngga punya duit, kata Totok.
Lalu Darwin menyahut, Tunggu sebentar ya! Bergegaslah Darwin pergi meninggalkan Totok. Beberapa jenak kemudian dia datang lagi membawa nasi bungkus. Totok bertanya, Wah apa ini Kawan? Darwin menjawab pendek, Pokoknya makanlah!
Ternyata yang dibawa Darwin adalah nasi Padang! Totok shock berat. Bukan hanya karena kebaikan Darwin, tetapi bagaimana caranya makan nasi Padang dalam keadaan sakit typhus?!
Pertama, sahabat kami Totok adalah orang Jawa (timur). Saudara-saudara dari Jawa biasanya tidak kuat makan yang pedas-pedas. Kedua, bukankah orang sakit typhus tidak boleh makan yang pedas! Betapa berrisikonya sebenarnya makan nasi Padang tsb.
Tapi, mungkin karena sudah begitu lapar, Totok makan juga nasi Padang itu sambil sebentar-sebentar kepedasan.
Rupanya Tuhan memberkati niat baik Darwin itu. Sahabat kami Totok akhirnya kemudian sembuh dari typhusnya! What a miracle!
Menurut cerita, sampai hari ini Totok tidak pernah lupa akan kebaikan Darwin.
Sekarang Totok sudah menjadi pengusaha besar meubelair dan furniture di Cirebon. Setiap saat harus berpameran di Jerman, Belanda, dan manca negara lain. Kami semua selalu diundangnya untuk datang ke sanggarnya di Cirebon. Dia menikah dengan Yance, kawan sekelas kami juga yang sudah "jadian" sejak kami kuliah di Bandung.
Darwin Syam Siregar sekarang telah menjadi pejabat tinggi di Pemda DKI Jaya. Banyak sudah karyanya yang membanggakan. Tidak mudah tentunya sekarang mengganggu Big Boss ini.
Kawan kami Karen sekarang menjadi Dirut Pertamina. Waw! Luar biasa! Syukurlah dia tetap baik dan ramah kepada kami semua.
Mereka semua adalah sahabat-sahabatku yang baik. Syukurlah sekarang kami agak sering bertemu lagi setelah terjadinya Reuni Besar Angkatan 78 tahun 2008 yang lalu.
Mereka tetap baik, tidak sombong. Semua kami ingat akan masa-masa lalu yang penuh kenangan. Bukankah itu semua berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa? Bukankah itu menjadi harta kami bersama yang tak ternilai?
Special Note: Hanya Aswin Tobing yang belum kami dapatkan kabarnya. Di manakah engkau sekarang Sahabat? Salam hangat dari kami semua.
Kabari kami kalau kau terima salam kami.
Subscribe to:
Posts (Atom)
