Di KBB 45 ada kantin. Kantin itu bagus sekali. Kita senang sekali memiliki kantin yang bagus seperti itu. Di luar kantin disediakan tempat makan yang disusun dengan baik. Ada sejumlah meja dengan kursi-kursi memadai. Ditata dengan apik. Pokoknya enaklah.
Makanan yang disediakan walaupun tidak banyak tapi enak-enak. Favoritku adalah nasi dengan ayam opor. Biasanya disajikan panas. Sedaplah.
Penjaga kantin, sekaligus semacam pengurus harian dari KBB 45 (ditempatkan oleh pemilik tempat kost) kebetulan seorang laki-laki yang agak kemayu/banci. Secara alamiah, karena kami semua laki-laki agak seringlah kami meledek dia.
Sebenarnya aku tidak termasuk suka meledek dia. Biasa sajalah. Tapi dia memang selalu berusaha untuk dekat dengan semua kami.
Suatu hari sudah agak larut malam. Suasana agak hening. Aku belajar di kamarku karena ada midtest yang cukup berat. Cukup konsentrasi aku saat itu. Memang agak kudengar sedikit suara di salah satu kamar di atas. Pikirku, barangkali ada sejumlah teman sudah selesai belajar, jadi agak bersantai main kartu atau main apalah di atas sana.
Waktu itu kami masih belum lama selesai menjalani plonco. Jadi semua kami yang tingkat I masih botak, atau berkepala yang baru ditumbuhi rambut pendek/halus.
Tiba-tiba kamarku diketuk. Dari dalam kudengar suara si penjaga kantin mengetuk dari luar memanggil-manggil namaku dengan genit. Aku agak malas ngomong sama dia karena sedang konsentrasi. Kusibakkan saja gordijn jendelaku lalu tanpa membuka pintu kutanya padanya ada apa.
Lalu dia menjawab bahwa ada tamu. Katanya dia tidak kenal. Dia berbicara sambil agak-agak menahan ketawa, membuat aku agak merasa aneh.
Aku agak heran, kok mendekati jam 10 malam ada orang bertamu kepadaku.
Karena malas keluar, agak sedikit gusar (karena sedang konsentrasi belajar) kukatakan pada penjaga kantin itu, Mengapa tamu itu tidak disuruh datang saja langsung ke kamarku?
Lalu dijawab, Dia ngga mau. Dia tunggu di sana (ruang tamu) katanya. Akhirnya dengan enggan kuraih jaket, lalu kubuka pintu. Setelah itu aku berjalan ke ruang tamu (di lantai bawah, dekat kantin). Si penjaga kantin mengikuti di belakangku, sambil agak senyum-senyum mencurigakan.
Karena kulihat tidak ada orang di ruang tamu, aku menengok ke belakang bertanya pada si penjaga kantin, Di mana? Kok tidak ada orang? tanyaku.
Oh, dia tadi kayanya naik ke atas, jawab si penjaga kantin. Di atas mana? tanyaku lagi. Di atas, di depan..., jawabnya lagi. Tapi dia agak-agak menahan ketawa.
Aku sejurus melihat ke dia. Mau kutanya apa dia mempermainkan aku. Tiba-tiba dia berubah serius, lalu mengatakan tadi memang ada tamuku, dan dia yakin tamu itu menunggu di salah satu tempat di depan kamar di atas yang menghadap ke jalan.
Lalu aku berjalan naik tangga menuju tempat di atas yang dimaksud. Sesampainya di atas, mendekati tempat yang dimaksud, aku melihat seseorang sedang duduk melihat ke jalan. Tangannya bersilang dan bertumpu pada pagar di depan salah satu kamar yang biasanya ditempati seseorang teman kost yang tidak kuliah di tempat kami kebanyakan (universitas lain).
Agak aneh kurasa bahwa cara berpakaian orang ini tidak biasa, tapi memang karena agak malam jadi tidak terlihat jelas.
Ketika kutanya dengan sopan siapa dia, betapa kagetnya aku ketika dia menoleh ke arahku dia tersenyum menyeringai, rupanya dia seorang banci! Aku langsung berbalik arah bermaksud pulang ke kamarku secepatnya melalui jembatan penghubung antar bangunan dan turun di tangga yang dekat dengan kamarku.
Sementara itu kudengar di bawah sana si penjaga kantin tertawa-tawa. Jelas menertawai aku. Ketika kulewati jembatan penghubung antar bangunan, kulihat dia ketawa keras-keras. Senang sekali dia rupanya mempermainkan aku. Entah siapa banci yang ada di depan itu. Akupun bingung dari mana dan untuk apa dia ada di tempat kost kami. Tapi aku tidak mau ambil pusing. Dengan agak geram aku berjalan terus.
Tetapi di tengah perjalanan itu, karena kudengar ada suara-suara di kamar Micky, kuputuskan memasuki kamar Micky. Pintu tidak terkunci. Ternyata di dalam seingatku ada Rowin, Micky dan Putranto sedang bermain Risk (sejenis permainan keberanian memutuskan untuk menguasai daerah/dunia). Mereka bermain serius. Senang mereka aku datang. Masih berdiri aku berujar, Sialan Gua ditipu (si penjaga kantin)!
Serentak kawan-kawan itu menjawab, Banci ya? Lalu kawan-kawan itu serentak pula meneruskan, Kami juga ditipunya!
Wah ... wah ... wah ... kata kami (berdiskusi). Lalu satu sama lain melanjutkan, Tapi gila ya orangnya gede banget. Ngeri lagi, kata kami. Lalu kami ketawa-ketawa juga.
Ayo Rul, main! kata teman-teman. Tapi kujawab, Aku ngga lah. Masih ada yang mau kupelajari, kataku. Sorry ya, kataku lagi sambil melangkah mau membuka pintu dan pulang ke kamarku.
Betapa kagetnya aku ketika pintu kubuka, banci itu sudah ada di depan pintu dengan muka kencang. Langsung aku masuk lagi dan mengunci pintu. Sambil membelakangi pintu yang sudah terkunci, aku berkata (ketakutan), Bancinya ada di depan pintu! Barangkali dia akhirnya marah karena beberapa kali didatangi oleh kami yang ditipu dan diiringi ketawa-ketawa ngga karuan dari si penjaga kantin (yang kebetulan sejenis dengan dia).
Dalam hanya ukuran detik Rowin berlari ke jendela menutup jendela secepatnya. Micky langsung menarik gordijn. Putranto langsung mematikan lampu.
Di depan pintu mulailah banci itu menggedor-gedor pintu minta dibukakan pintu itu. Sumpah serapahnya langsung berhamburan. Katanya antara lain, Sialan Lu semua. Lu kira gua banci jalanan ya, dst.
Lalu aku berlari ke arah pintu kamar mandi untuk ngumpet. Putranto langsung melompat ke bawah tempat tidur, lalu diikuti oleh Rowin dan Micky. Di bawah tempat tidur Micky ada speaker audio systemnya. Kepala Putranto yang botak rupanya langsung menabrak sudut speaker. Dia berteriak mengaduh. Rowin dan Micky yang datang belakangan menyeruduk pantat Putranto pula dengan kepala-kepala mereka yang botak. Lalu kami bertiga ketawa sejadi-jadinya.
Putranto meringis karena kepalanya terantuk speaker, pantatnya diseruduk dua kepala botak. Tapi akhirnya ikut ketawa keras juga.
Ketawa-ketawa kami di dalam kamar yang sudah gelap itu rupanya makin membangkitkan amarah banci yang di depan pintu. Pukulannya ke pintu semakin keras (bukankah tenaganya tenaga laki-laki?). Makiannya sudah semakin keras dan kotor.
Akhirnya kami berempat diam saja, menahan mulut kami.
Gedoran demi gedoran rasanya sebentar lagi akan menjebol pintu kamar Micky. Ada dia mengatakan, Gua tembak lu semua!
Terus terang kami sudah menjadi agak takut, apa maksudnya mau menembak kami?
Lalu kami dengar di luar orang sudah ramai berdatangan, pastilah semua teman lain. Lalu terdengar suara senior kami Antony Marbun dan teman-teman lain mencoba menenangkan si banci.
Sudahlah, kata Bang Antony. Masa Lu musti urusin anak-anak kecil, lanjut Bang Antony.
Si banci menjawab, Apanya yang kecil?! Kepalanya doang botak, ............ (maaf saya sensor) nya semua udah pada gede tuh! Musti gua hancurin mereka semua, katanya lanjut.
Adalah hampir sejam kami dicekam ketakutan di kamar itu. Bang Antony dan teman-teman lain terus membujuk si banci. Akhirnya pergi juga dia, walaupun sempat melontarkan lagi kata-kata perpisahan: Gua dateng lagi bentaran. Gua bawa orang setasion, katanya.
Sesudah keadaan tenang, semua teman dan Bang Antony di luar memanggil kami keluar. Kami berempat keluar dengan sedikit agak lega.
Bang Antony mengatakan bahwa si banci tadi memang mengeluarkan sebuah pistol dari tasnya. Hanya kesabaran dan "usapan-usapan" Bang Antonylah rupanya yang meluruhkan amarahnya. Jago juga si Bang Antony menemukan "kelemahan"nya.
Demikianlah malam itu aku tidak berani tidur di kamarku (karena tadi hanya aku yang dilihat si banci ketika aku buka pintu). Aku ganti baju dan tidur di kamar Yanto yang baik.
Semua kami satu kost dalam keadaan siap kalau benar si banci datang lagi dan benar membawa orang stasion.
Aku tidak bisa tidur (banyak juga teman lain). Berjaga-jaga sambil pegang besi/pentungan pemukul (sisa bangunan).
Kasihan memang mereka yang kita sebut "tidak normal" ini. Mereka sering jadi sasaran ledekan karena gaya dan cara bicaranya. Disengaja ataupun tidak.
Heaven knows!
Showing posts with label KBB 45. Show all posts
Showing posts with label KBB 45. Show all posts
Sunday, April 5, 2009
Huru hara I di KBB 45
Tempat kost yang di Jl. Kebon Bibit Barat 45 adalah tempat kost yang unik. Kami para penghuni menyebutnya KBB 45. Seingatku tipe kost seperti ini adalah yang pertama kali ada di Bandung saat itu (mungkin juga pertama di Indonesia saat itu).
Secara umum dia tidak terlihat sebagai tempat kost biasa. Dia lebih terlihat seperti sebuah hotel kecil. Bangunannya sangat bagus dan mewah. Ketika aku kost di situ bangunannya baru saja diselesaikan. Masih banyak bagian yang perlu disempurnakan. Masih tercium bau cat dan bau alat perekat di banyak tempat.
Bangunan itu bertingkat dua, jumlah kamarnya banyak sekali. Secara umum dia adalah dua bangunan utama yang masing-masing bertingkat dua. Setiap bangunan berupa bangunan yang memanjang menurut lebar tanahnya. Setiap kamar berseberangan dengan kamar yang menghadap berlawanan. Seingatku satu muka dari bangunan yang panjang itu memuat 8 kamar, jadi total kamar kalau tidak salah 64 kamar.
Di tengah dua bangunan itu terhampar taman yang cantik sekali. Aku memilih kamar di lantai satu yang menghadap ke taman, sehingga setiap bangun pagi dapat melihat ke taman yang bagus itu.
Setiap tingkat saling terhubung, dan di tengah bangunan terdapat jalan menuju kamar-kamar yang berseberangan, lengkap pula dengan tangga-tangga di tengah bagian. Jadi mudah sekali kita cepat menuju kamar manapun kita mau. Otomatis pula untuk kamar-kamar yang saling berhadapan, kami dengan mudah dapat melihat dengan baik semua kamar di kiri, kanan maupun yang di atas. Apalagi kamar-kamar di atas, itu yang paling mudah melihat ke semua arah.
Di sinilah kami dengan sangat kompak tinggal bersama. Ada Yanto yang pendiam tapi sangat baik hati, Rowin yang dinamis, Micky yang kreatif, Yoyok yang polos dan jujur, Gary yang hangat, Ritchie yang gentleman like, Tonny yang cerewet, Putranto yang innocent tapi luar biasa lucunya. Chrismar Adianto yang pintar juga pernah tinggal di sini.
Ada juga sejumlah senior angkatan kami seperti Bang Antony Marbun, Paul, Yance, dan lain sebagainya. Pada waktu-waktu rileks kami bermain kartu, domino, catur, master mind, risk game, dan lain sebagainya. Di awal-awal kuliah kami sering bernyanyi sampai malam, tapi kalau musim ujian otomatis semua menjadi serius.
Semua kamar memiliki kamar mandi sendiri. Desain kamarnyapun bagus sekali. Demikianlah keadaannya sehingga banyak sekali teman setiap penghuni berdatangan setiap hari karena indah dan bagus sekali kost yang seperti hotel ini. Ke sinilah dulu teman-temanku sering datang, seperti Erik, Totok dan sebagainya.
Walaupun hanya menerima laki-laki, tempat kost ini dilengkapi dengan penjaga keamanan baik siang maupun malam.
Meskipun sebenarnya setiap kamar sangat nyaman untuk tempat menyimpan semua peralatan, ada juga beberapa teman yang tidak menyimpan semua peralatan di dalam kamar. Mungkin juga karena kami semua merasa seperti bersaudara, jadi tidak terlalu kuatir meletakkan beberapa barang di luar pintu kamar masing-masing. Kekecualian hanyalah aku, karena sudah menjadi kebiasaanku untuk menyimpan semua peralatanku di dalam kamar, jadi di luar kamarku pastilah paling bersih keadaannya.
Sekali ketika sedang enak tertidur di sekitar musim ujian tengah semester aku terbangun karena ada suara gaduh di luar. Dalam sekian detik periode peralihan tidurku ke keadaan bangun sepertinya ada nama teman-teman dipanggil-panggil dengan cara berteriak-teriak, dan rasanya ada juga namaku dipanggil-panggil. Setelah agak lebih sadar aku mendengar suara Tonny teman kami yang kalau dari kamarku akan segera terlihat kamarnya pada arah 45 derajat di kiri atas.
Teriak Tonny memanggil nama-nama teman itu begitu kerasnya dan berulang-ulang.
Tonny adalah teman yang lucu. Dia keturunan Chinese. Dikaruniai suara yang agak cerewet. Karena cerewetnya dia kami panggil Tonce. Sebenarnya dia cukup tenang dalam gerakan, tetapi agak berlebihan dalam mengomentari banyak hal. Sering dia mengomeli dirinya sendiri karena merasa kurang belajar. Kalau kami pergi makan roti bakar keluar kost atau melakukan apapun yang kurang berhubungan dengan belajar, dia mulai mengomeli keadaan agar dia bisa belajar. Lalu dia biasanya belajar sampai pagi (jam 3 atau 4 pagi).
Dia sangat concern untuk melakukan sesuatu dengan sempurna dalam segala hal. Pernah ketika kami diplonco dia menyiapkan minuman yang dia anggap akan membuat dia "strong" sepanjang hari. Dia campur susunya dengan berbagai macam campuran lain (akupun sudah tidak ingat lagi apa saja dimasukkannya ke dalam mug minumannya/madu, telor, berbagai minuman penguat dan entah apa lagi). Lalu ketika dicemplungkannya lagi ke dalam multi campuran itu vitamin C dosis tinggi maka dia berteriak-teriak keras karena multi campuran itu mendadak muncrat ke atas setinggi hampir satu meter entah karena reaksi kimia apa. Persis seperti air mancur/muncrat. Berteriak-teriaklah dia histeris menceritakan pengalamannya itu kepada kami yang cuma bisa ketawa-ketawa sambil mengucapkan: Tonce ..... Tonce ........ada-ada aja Lu. Harusnya Lu taro tu gelas di lantai, lalu mulut Lu nangkep muncratannya sambil berdiri, kata kami.
Begitulah pagi subuh sekitar dekat jam 5 pagi yang dingin di Bandung itu, aku buka pintu kamarku. Ternyata si Tonce lompat-lompat sambil berteriak: Rul, sepatumu hilang ngga? Aku bingung kenapa dia tanya-tanya sepatu sepagi itu. Aku melihat ke dalam kamarku, sepatuku semua ada kok. Lalu kujawab sambil agak berteriak juga: Ada Ton, kenapa rupanya? tanyaku.
Cepat dia menjawab, Banyak yang kehilangan sepatu! Maling, ada maling! Hei semua bangun, bangun ooi! begitulah teriaknya. Lalu mulailah teman-teman lain berbangunan dan rupanya sepatu yang mereka letakkan di luar kamar telah raib. Setiap melihat teman bangun dan sudah dilihat Tonce sepatu mereka lenyap maka lompat-lompatlah si Tonce merasa geli karena orang kehilangan sepatu.
Wuaha ha ha ha ..... sepatu Lu hilang ya. Si anu juga hilang ......... si anu sana juga hilang ......... dan seterusnya.
Akhirnya kami semua keluar dan dari depan kamar masing-masing melihat ke samping dan ke atas saling melaporkan keadaan, Gimana, Lu ilang ngga? Yang ditanya menjawab, Wah iya eh, dua pasang lagi!
Begitulah, banyak sekali teman kehilangan sepatu. Ada yang kehilangan sepasang, ada yang lebih. Untuk setiap konfirmasi kehilangan, si Tonce lompat-lompat karena merasa lucu sekali.
Yah kami semua cuma geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa begini? pikir kami. Kemana rupanya penjaga "hotel" kami. Begitulah kecamuk pikiran berseliweran. Toncepun melaporkan bahwa tadi dia masih belajar sampai jam 4 pagi, lalu tidur. Dia seperti merasa ada orang mondar-mandir mengendap-endap katanya. Waktu dia hidupkan lampu kamarnya dan melihat ke luar, dilihatnya katanya sejumlah kamar tidak ada sepatunya lagi di depannya. Itulah makanya dia berteriak-teriak membangunkan orang untuk mengatakan pada mereka sepatu mereka hilang.
Semua kami masih saling bicara dari pintu kamar kami masing-masing. Si Toncepun sudah mulai tenang. Secara alamiah kami jongkok di pintu kamar masing-masing.
Tiba-tiba si Tonce melompat-lompat lagi sambil berteriak sekeras-kerasnya, Wuaha ha ha ha ha ha ha, katanya. Rupanya sepatu Gua juga hilang !!!! Ha ha ha ha ha ...., katanya sambil tertawa tiada henti.
Bangkitlah kami semua lagi dari jongkok kami lalu bertanya kepada si Tonce, Lho rupanya dari tadi Lu ngga tau kalo sepatu lu juga ilang? tanya kami. Ngga!!! katanya sambil ketawa makin hebat. Gila lu, kata kami semua. Ngetawain orang ilang sepatu sambil lompat-lompat di depan kamar, tapi ngga tau kalo sepatu Lu juga ilang. Dasar Tonce! teriak kami pada dia.
Itulah pagi lucu tapi menyedihkan bagi kami semua (cuma aku dan Yanto kalau tidak salah yang tidak kehilangan).
Rupanya memang maling datang pagi itu ke "hotel" kami.
Kami melapor kepada pemilik tempat kost. Lalu diadakan sidang tertutup. Pemilik keberatan kalau dilaporkan ke polisi, mungkin takut kalau citra "hotel" kami tercoreng.
Kalau tidak salah memang ada kerjasama antara maling dengan penjaga keamanan kami.
Pemilik kost membayar ganti rugi yang agak fair untuk teman-teman yang kehilangan.
Beberapa tahun kemudian sesudah aku dikaruniai anak-anak, mereka kubawa ke KBB 45. Ternyata keadaannya sudah sangat menyedihkan. Kotor, rusak, jelek dan sebagainya.
Aku gagal melukiskan secara nyata pada anak-anakku tempat kostku dulu di KBB 45 yang permai itu. Entah apa hari ini KBB 45 masih beroperasi.
Secara umum dia tidak terlihat sebagai tempat kost biasa. Dia lebih terlihat seperti sebuah hotel kecil. Bangunannya sangat bagus dan mewah. Ketika aku kost di situ bangunannya baru saja diselesaikan. Masih banyak bagian yang perlu disempurnakan. Masih tercium bau cat dan bau alat perekat di banyak tempat.
Bangunan itu bertingkat dua, jumlah kamarnya banyak sekali. Secara umum dia adalah dua bangunan utama yang masing-masing bertingkat dua. Setiap bangunan berupa bangunan yang memanjang menurut lebar tanahnya. Setiap kamar berseberangan dengan kamar yang menghadap berlawanan. Seingatku satu muka dari bangunan yang panjang itu memuat 8 kamar, jadi total kamar kalau tidak salah 64 kamar.
Di tengah dua bangunan itu terhampar taman yang cantik sekali. Aku memilih kamar di lantai satu yang menghadap ke taman, sehingga setiap bangun pagi dapat melihat ke taman yang bagus itu.
Setiap tingkat saling terhubung, dan di tengah bangunan terdapat jalan menuju kamar-kamar yang berseberangan, lengkap pula dengan tangga-tangga di tengah bagian. Jadi mudah sekali kita cepat menuju kamar manapun kita mau. Otomatis pula untuk kamar-kamar yang saling berhadapan, kami dengan mudah dapat melihat dengan baik semua kamar di kiri, kanan maupun yang di atas. Apalagi kamar-kamar di atas, itu yang paling mudah melihat ke semua arah.
Di sinilah kami dengan sangat kompak tinggal bersama. Ada Yanto yang pendiam tapi sangat baik hati, Rowin yang dinamis, Micky yang kreatif, Yoyok yang polos dan jujur, Gary yang hangat, Ritchie yang gentleman like, Tonny yang cerewet, Putranto yang innocent tapi luar biasa lucunya. Chrismar Adianto yang pintar juga pernah tinggal di sini.
Ada juga sejumlah senior angkatan kami seperti Bang Antony Marbun, Paul, Yance, dan lain sebagainya. Pada waktu-waktu rileks kami bermain kartu, domino, catur, master mind, risk game, dan lain sebagainya. Di awal-awal kuliah kami sering bernyanyi sampai malam, tapi kalau musim ujian otomatis semua menjadi serius.
Semua kamar memiliki kamar mandi sendiri. Desain kamarnyapun bagus sekali. Demikianlah keadaannya sehingga banyak sekali teman setiap penghuni berdatangan setiap hari karena indah dan bagus sekali kost yang seperti hotel ini. Ke sinilah dulu teman-temanku sering datang, seperti Erik, Totok dan sebagainya.
Walaupun hanya menerima laki-laki, tempat kost ini dilengkapi dengan penjaga keamanan baik siang maupun malam.
Meskipun sebenarnya setiap kamar sangat nyaman untuk tempat menyimpan semua peralatan, ada juga beberapa teman yang tidak menyimpan semua peralatan di dalam kamar. Mungkin juga karena kami semua merasa seperti bersaudara, jadi tidak terlalu kuatir meletakkan beberapa barang di luar pintu kamar masing-masing. Kekecualian hanyalah aku, karena sudah menjadi kebiasaanku untuk menyimpan semua peralatanku di dalam kamar, jadi di luar kamarku pastilah paling bersih keadaannya.
Sekali ketika sedang enak tertidur di sekitar musim ujian tengah semester aku terbangun karena ada suara gaduh di luar. Dalam sekian detik periode peralihan tidurku ke keadaan bangun sepertinya ada nama teman-teman dipanggil-panggil dengan cara berteriak-teriak, dan rasanya ada juga namaku dipanggil-panggil. Setelah agak lebih sadar aku mendengar suara Tonny teman kami yang kalau dari kamarku akan segera terlihat kamarnya pada arah 45 derajat di kiri atas.
Teriak Tonny memanggil nama-nama teman itu begitu kerasnya dan berulang-ulang.
Tonny adalah teman yang lucu. Dia keturunan Chinese. Dikaruniai suara yang agak cerewet. Karena cerewetnya dia kami panggil Tonce. Sebenarnya dia cukup tenang dalam gerakan, tetapi agak berlebihan dalam mengomentari banyak hal. Sering dia mengomeli dirinya sendiri karena merasa kurang belajar. Kalau kami pergi makan roti bakar keluar kost atau melakukan apapun yang kurang berhubungan dengan belajar, dia mulai mengomeli keadaan agar dia bisa belajar. Lalu dia biasanya belajar sampai pagi (jam 3 atau 4 pagi).
Dia sangat concern untuk melakukan sesuatu dengan sempurna dalam segala hal. Pernah ketika kami diplonco dia menyiapkan minuman yang dia anggap akan membuat dia "strong" sepanjang hari. Dia campur susunya dengan berbagai macam campuran lain (akupun sudah tidak ingat lagi apa saja dimasukkannya ke dalam mug minumannya/madu, telor, berbagai minuman penguat dan entah apa lagi). Lalu ketika dicemplungkannya lagi ke dalam multi campuran itu vitamin C dosis tinggi maka dia berteriak-teriak keras karena multi campuran itu mendadak muncrat ke atas setinggi hampir satu meter entah karena reaksi kimia apa. Persis seperti air mancur/muncrat. Berteriak-teriaklah dia histeris menceritakan pengalamannya itu kepada kami yang cuma bisa ketawa-ketawa sambil mengucapkan: Tonce ..... Tonce ........ada-ada aja Lu. Harusnya Lu taro tu gelas di lantai, lalu mulut Lu nangkep muncratannya sambil berdiri, kata kami.
Begitulah pagi subuh sekitar dekat jam 5 pagi yang dingin di Bandung itu, aku buka pintu kamarku. Ternyata si Tonce lompat-lompat sambil berteriak: Rul, sepatumu hilang ngga? Aku bingung kenapa dia tanya-tanya sepatu sepagi itu. Aku melihat ke dalam kamarku, sepatuku semua ada kok. Lalu kujawab sambil agak berteriak juga: Ada Ton, kenapa rupanya? tanyaku.
Cepat dia menjawab, Banyak yang kehilangan sepatu! Maling, ada maling! Hei semua bangun, bangun ooi! begitulah teriaknya. Lalu mulailah teman-teman lain berbangunan dan rupanya sepatu yang mereka letakkan di luar kamar telah raib. Setiap melihat teman bangun dan sudah dilihat Tonce sepatu mereka lenyap maka lompat-lompatlah si Tonce merasa geli karena orang kehilangan sepatu.
Wuaha ha ha ha ..... sepatu Lu hilang ya. Si anu juga hilang ......... si anu sana juga hilang ......... dan seterusnya.
Akhirnya kami semua keluar dan dari depan kamar masing-masing melihat ke samping dan ke atas saling melaporkan keadaan, Gimana, Lu ilang ngga? Yang ditanya menjawab, Wah iya eh, dua pasang lagi!
Begitulah, banyak sekali teman kehilangan sepatu. Ada yang kehilangan sepasang, ada yang lebih. Untuk setiap konfirmasi kehilangan, si Tonce lompat-lompat karena merasa lucu sekali.
Yah kami semua cuma geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa begini? pikir kami. Kemana rupanya penjaga "hotel" kami. Begitulah kecamuk pikiran berseliweran. Toncepun melaporkan bahwa tadi dia masih belajar sampai jam 4 pagi, lalu tidur. Dia seperti merasa ada orang mondar-mandir mengendap-endap katanya. Waktu dia hidupkan lampu kamarnya dan melihat ke luar, dilihatnya katanya sejumlah kamar tidak ada sepatunya lagi di depannya. Itulah makanya dia berteriak-teriak membangunkan orang untuk mengatakan pada mereka sepatu mereka hilang.
Semua kami masih saling bicara dari pintu kamar kami masing-masing. Si Toncepun sudah mulai tenang. Secara alamiah kami jongkok di pintu kamar masing-masing.
Tiba-tiba si Tonce melompat-lompat lagi sambil berteriak sekeras-kerasnya, Wuaha ha ha ha ha ha ha, katanya. Rupanya sepatu Gua juga hilang !!!! Ha ha ha ha ha ...., katanya sambil tertawa tiada henti.
Bangkitlah kami semua lagi dari jongkok kami lalu bertanya kepada si Tonce, Lho rupanya dari tadi Lu ngga tau kalo sepatu lu juga ilang? tanya kami. Ngga!!! katanya sambil ketawa makin hebat. Gila lu, kata kami semua. Ngetawain orang ilang sepatu sambil lompat-lompat di depan kamar, tapi ngga tau kalo sepatu Lu juga ilang. Dasar Tonce! teriak kami pada dia.
Itulah pagi lucu tapi menyedihkan bagi kami semua (cuma aku dan Yanto kalau tidak salah yang tidak kehilangan).
Rupanya memang maling datang pagi itu ke "hotel" kami.
Kami melapor kepada pemilik tempat kost. Lalu diadakan sidang tertutup. Pemilik keberatan kalau dilaporkan ke polisi, mungkin takut kalau citra "hotel" kami tercoreng.
Kalau tidak salah memang ada kerjasama antara maling dengan penjaga keamanan kami.
Pemilik kost membayar ganti rugi yang agak fair untuk teman-teman yang kehilangan.
Beberapa tahun kemudian sesudah aku dikaruniai anak-anak, mereka kubawa ke KBB 45. Ternyata keadaannya sudah sangat menyedihkan. Kotor, rusak, jelek dan sebagainya.
Aku gagal melukiskan secara nyata pada anak-anakku tempat kostku dulu di KBB 45 yang permai itu. Entah apa hari ini KBB 45 masih beroperasi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
