Terbang ke Medan adalah sesuatu yang kerap kulakukan.
Sekali waktu aku terbang sendiri ke Medan. Waktu itu belum banyak orang memakai handphone. Akupun baru saja mendapat handphone dari kantor.
Ketika pesawat baru saja touch down di Polonia Medan, terdengar seorang dengan suara logat Bataknya yang kental memberi instruksi dengan suara agak keras, nampaknya kepada anaknya di rumahnya di Medan:
"Kau itu Ucok?" Sejenak mungkin diiyakan oleh anaknya yang menerima telepon di rumah. Lalu laki-laki setengah baya dan berkumis (sesudah agak kucari dari mana suara orang yang langsung menghidupkan handphone itu) itu meneruskan: "Na jemput dulu Bapa ya!" katanya.
Sekian detik kemudian dia berkata lagi dengan suara keras: "Di mana lagi?! Ya di Airport!"
Dalam hati aku ketawa, dasar kawan ini tidak bisa untuk sedikit lebih lembut (apalagi kepada anaknya sendiri). Apalah salahnya kalau dia terangkan dulu bahwa dia (sang ayah ini) baru mendarat di Polonia dan minta tolong untuk dijemput oleh anaknya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekali waktu yang lain aku terbang dengan seorang teman kantorku. Sama dengan aku, dia juga seorang berdarah Sumatera Utara.
Sejak naiknya sejumlah orang memang kulihat ada seorang wanita yang kelihatannya menangis sedih. Teman-temannyapun demikian.
Dan ketika pesawat telah mengangkasapun masih terdengar isak tangis perempuan. Tetapi yang membuat penasaran adalah kedengarannya suara isak tangis datang dari dua sumber yang berbeda.
Sumber pertama tampaknya datang dari belakang, yaitu dari perempuan dengan rombongan yang tadi kulihat naik ke pesawat (aku dan temanku telah duluan naik dan duduk di pesawat).
Sumber yang kedua tampaknya ada di sisi depan (kursi yang menghadap langsung ke dinding pemisah kelas ekonomi dengan kelas bisnis).
Kalau agak didengarkan memang kita jadi agak terganggu juga mendengar tangisan yang datang dari dua tempat itu.
Temanku terbang yang duduk di sebelahku itu memang seorang yang punya sifat "selalu mau tau". Maka setelah sekian waktu dia mengatakan bahwa dia akan ke toilet belakang sambil mencoba mengetahui kenapa perempuan yang duduk di belakang itu menangis.
Aku membiarkan dia pergi ke belakang.
Ketika dia sudah kembali lagi, agak bersemangat dia menceritakan temuannya. Dia mengatakan bahwa perempuan yang menangis di belakang itu rupanya pulang ke Medan untuk melihat suaminya yang meninggal di Medan.
Yang paling membuat perempuan itu sedih rupanya adalah bagaimana dia akan bersikap/atau bagaimana caranya dia datang ke tempat duka karena dia adalah bukan istri pertama.
Mungkin karena penasaran, beberapa saat kemudian dia bangkit lagi dan menuju ke arah depan pesawat. Sebetulnya aku tidak terlalu memperhatikan dia.
Ketika dia kembali lagi ke tempat duduk di sampingku, mukanya agak merah dan sedikit terengah-engah. Dikatakannya bahwa perempuan yang menangis di depan juga pulang ke Medan melihat suaminya yang meninggal, dan keduanya datang ke orang (meninggal) yang sama! (Rupanya temanku yang selalu ingin tahu ini sempat di belakang tadi menanya dengan lebih jauh tentang nama orang yang meninggal dan alamat duka yang dituju).
Yang paling hebat menurut dia, yang menangis di belakang dan di depan ini tidak tahu kalau mereka mendatangi orang yang sama!
Lalu dengan agak takjub dan sedikit geli kami mendiskusikan bagaimana kalau isteri-isteri ini nanti bertemu, termasuk dengan isteri pertama yang mungkin ditemui di Medan, dan bagaimana kalau ada isteri yang lain lagi?
Showing posts with label Terbang. Show all posts
Showing posts with label Terbang. Show all posts
Friday, May 15, 2009
Sunday, April 26, 2009
Terbang Bandung-Jakarta
Dalam beberapa perjalanan naik kapal terbang, ada sejumlah peristiwa menarik yang kualami. Salah satunya seperti di bawah ini.
Untuk pertama kali aku naik kapal terbang dari Bandung ke Jakarta. Itu adalah perjalanan yang tidak terlalu terpikirkan akan pernah kulakukan. Jakarta-Bandung adalah jarak yang tidak terlalu jauh. Sekian tahun aku menjadi mahasiswa di Bandung kebanyakan aku memakai ka Parahyangan sebagai transportasi utama.
Ketika jalan tol belum ada biasanya pilihan siapapun kita yang akan pergi-pulang ke Bandung akan naik mobil dengan 2 alternatif utama jaman dulu yaitu lewat Jl. Raya Bogor Lama atau lewat Parung.
Setelah jalan tol Jagorawi selesai maka ada 1 alternatif lagi yaitu lewat Jagorawi dan melalui Puncak. Sekarang setelah Jl. Tol Cikampek disambungkan langsung ke Bandung, tentulah perjalanan menjadi sangat cepat (hanya sekitar 1,5 - 2 jam). Ini sungguh luar biasa kalau dibandingkan masa paling baheula yang silam di mana ke Bandung bisa memakan waktu 7-10 jam.
Waktu itu aku berdua dengan kawan kantorku, Andy Natanael Manik. Kami baru menyelesaikan suatu tugas di Bandung dan ingin pulang agak cepat ke Jakarta. Dengan ide yang melintas saja di kepala kami, kami memutuskan naik kapal terbang supaya cepat sampai di Jakarta. Kami start dari Husein Sastranegara di Bandung. Andy yang mencetuskannya ketika kami meninggalkan kantor klien kami. "Bagaimana kalau kita naik kapal terbang saja pulang supaya cepat sampai ke kantor Bang?", katanya. Dia memang selalu memanggil aku abangnya. Akupun sangat setuju.
Lucu rasanya, sekian tahun di Bandung dan sering ada sejumlah kegiatan sekitar lap terbang di Bandung, tapi baru sekali itu naik kapal terbang dari Bandung. Khusus bagiku lebih berarti rasanya, karena lap terbang ini dekat dengan Jl. Pajajaran, jalan panjang yang dituju oleh tukang becakku ketika kami bermaksud ke Unpad pada awal masa tinggalku di Bandung. (Lihat tulisanku Tgl 7 Maret 2009, "Naik becak ke Universitas Pajajaran")
Kapal terbangnya CN 235. Untuk kedua kalinya jenis pesawat ini kupakai (yang pertama ketika kami dari Ujung Pandang/Makassar menuju Pomalaa/Sulawesi Tenggara). Perjalanan udara ternyata begitu singkat, hanya sekitar 15 menit. Dalam waktu sesingkat itu kami telah mendarat lagi di lap terbang Halim Perdana Kusumah, Jakarta. Di sana supir dan mobil kantor kami masing-masing telah siap menjemput dan membawa kami langsung ke kantor.
Itulah uniknya perjalanan itu. Dari kantor klien kami yang cukup jauh (untuk ukuran Bandung) di sekitar Ujung Berung ke lap terbang Husein S. diperlukan sejumlah waktu karena siang itu traffic cukup padat di sekitar Jl. Pahlawan dan juga di sekitar Jl. Pajajaran/Andir. Untuk membeli tiket kemudian menunggu untuk naik ke pesawat juga membutuhkan sejumlah waktu. Ketika kami sampai di Halim PK Jakarta menuju kantor, juga makan waktu karena agak macet. Padahal komponen perjalanan terjauh (Bandung-Jakarta) justru berlangsung cuma 15 menit. Sebentar saja kami take off, lalu sudah turun lagi.
Waktu itu belum banyak orang memiliki handphone. Sebagai eksekutif di perusahaan kami, saat itu perusahaan belum membekali kami dengan hp. Hp pun waktu itu masih sangat mahal. Terlalu mahal untuk kami beli secara pribadi.
Yang duduk di depan kami di pesawat ternyata adalah orang yang sejak di ruang tunggu di Husein S. telah memakai-makai hp. Lumayanlah petantang-petentengnya dia. Maklum waktu itu pemakai hp masih langka. Dari penampilannya kelihatannya dia seorang eksekutif muda perusahaan swasta. Badannya cukup tegap. Tangan kanan memegang hp, tangan kiri menenteng tas kerja tipis.
Ketika pesawat berjalan, stewardess memeragakan petunjuk keselamatan terbang. Tapi kami lihat orang yang punya hp itu terus masih ngobrol menggunakan hpnya. Bahkan sampai ketika stewardess mengatakan agar semua peralatan elektronik termasuk hp harus dimatikan karena akan mengganggu sistem navigasi penerbangan, dia masih belum juga mematikan hpnya.
Hal ini membuat kami berdua kesal. Selain mungkin kami juga sebenarnya cemburu karena belum punya hp, perasaan kami yang tadinya masih agak cuek lihat orang terus bicara dengan hp berubah menjadi kesal. Norak orang ini, pikir kami. Mungkin dasar orang kaya baru, pikir kami.
Ketika pesawat sudah dalam posisi standby dan dalam beberapa saat akan dipacu untuk terbang, Andy yang sudah kesal betul nampaknya berkata kepadaku: "Yang macam ginilah bikin aku palak, Bang" katanya. "Palak" dalam bahasa Medan berarti kesal sekali/keki.
Bagaimana kalau kutegor si goblok ini Bang?, lanjutnya. Karena mengingat keselamatan terbang maka aku menjawab, "Tegorlah Dek". Lalu Andy memanjangkan badan dan lehernya ke depan menghardik orang di depannya itu, "Hey! katanya. Matikan hpmu itu!"
Agak kaget tapi cuek orang itu cuma memandang sebentar ke belakang di mana empat buah bola mata kami sudah memandang dengan kesal kepadanya.
Tidak disangka, orang itu berbalik lagi dan masih terus memakai hpnya! Makin marahlah si Andy. Bagaimana Bang, kutumbuklah orang ini? katanya. (Kutumbuk dalam bahasa Medan artinya kutonjok). Cepat nalarku memberi komando ke mulutku yang dengan geram berkata, "Memang gila ini orang!"
Selanjutnya terjadilah hal yang tak disangka. Andy melepas seatbeltnya, lalu berdiri, dan dari belakang langsung dijitaknya kepala eksekutif muda gila itu dengan keras.
Orang itu kaget dan melihat ke belakang, tapi bertumbukan mata dengan 4 bola mata nanar penuh amarah. Lalu Andy bilang, "Kau mau bikin mati kita semua?! Mau kuhantam lagi kau?!" kata Andy.
Mendengar bentakan keras Andy dan tak kuat melihat mata-mata kami yang sudah memiliki ukuran diameter di atas normal, barulah nampaknya dia kecut dan mematikan hpnya.
Kapal terbang memacu, Andy terduduk dan memasang seatbeltnya. Lalu sejenak kemudian kami sudah di udara, melihat bendungan Jatiluhur sebentar dari atas, lalu mendengar pengumuman akan turun lagi di Halim PK.
Sampai kami turun tidak sedikitpun eksekutif muda yang sok itu berani melihat kepada kami.
Untuk pertama kali aku naik kapal terbang dari Bandung ke Jakarta. Itu adalah perjalanan yang tidak terlalu terpikirkan akan pernah kulakukan. Jakarta-Bandung adalah jarak yang tidak terlalu jauh. Sekian tahun aku menjadi mahasiswa di Bandung kebanyakan aku memakai ka Parahyangan sebagai transportasi utama.
Ketika jalan tol belum ada biasanya pilihan siapapun kita yang akan pergi-pulang ke Bandung akan naik mobil dengan 2 alternatif utama jaman dulu yaitu lewat Jl. Raya Bogor Lama atau lewat Parung.
Setelah jalan tol Jagorawi selesai maka ada 1 alternatif lagi yaitu lewat Jagorawi dan melalui Puncak. Sekarang setelah Jl. Tol Cikampek disambungkan langsung ke Bandung, tentulah perjalanan menjadi sangat cepat (hanya sekitar 1,5 - 2 jam). Ini sungguh luar biasa kalau dibandingkan masa paling baheula yang silam di mana ke Bandung bisa memakan waktu 7-10 jam.
Waktu itu aku berdua dengan kawan kantorku, Andy Natanael Manik. Kami baru menyelesaikan suatu tugas di Bandung dan ingin pulang agak cepat ke Jakarta. Dengan ide yang melintas saja di kepala kami, kami memutuskan naik kapal terbang supaya cepat sampai di Jakarta. Kami start dari Husein Sastranegara di Bandung. Andy yang mencetuskannya ketika kami meninggalkan kantor klien kami. "Bagaimana kalau kita naik kapal terbang saja pulang supaya cepat sampai ke kantor Bang?", katanya. Dia memang selalu memanggil aku abangnya. Akupun sangat setuju.
Lucu rasanya, sekian tahun di Bandung dan sering ada sejumlah kegiatan sekitar lap terbang di Bandung, tapi baru sekali itu naik kapal terbang dari Bandung. Khusus bagiku lebih berarti rasanya, karena lap terbang ini dekat dengan Jl. Pajajaran, jalan panjang yang dituju oleh tukang becakku ketika kami bermaksud ke Unpad pada awal masa tinggalku di Bandung. (Lihat tulisanku Tgl 7 Maret 2009, "Naik becak ke Universitas Pajajaran")
Kapal terbangnya CN 235. Untuk kedua kalinya jenis pesawat ini kupakai (yang pertama ketika kami dari Ujung Pandang/Makassar menuju Pomalaa/Sulawesi Tenggara). Perjalanan udara ternyata begitu singkat, hanya sekitar 15 menit. Dalam waktu sesingkat itu kami telah mendarat lagi di lap terbang Halim Perdana Kusumah, Jakarta. Di sana supir dan mobil kantor kami masing-masing telah siap menjemput dan membawa kami langsung ke kantor.
Itulah uniknya perjalanan itu. Dari kantor klien kami yang cukup jauh (untuk ukuran Bandung) di sekitar Ujung Berung ke lap terbang Husein S. diperlukan sejumlah waktu karena siang itu traffic cukup padat di sekitar Jl. Pahlawan dan juga di sekitar Jl. Pajajaran/Andir. Untuk membeli tiket kemudian menunggu untuk naik ke pesawat juga membutuhkan sejumlah waktu. Ketika kami sampai di Halim PK Jakarta menuju kantor, juga makan waktu karena agak macet. Padahal komponen perjalanan terjauh (Bandung-Jakarta) justru berlangsung cuma 15 menit. Sebentar saja kami take off, lalu sudah turun lagi.
Waktu itu belum banyak orang memiliki handphone. Sebagai eksekutif di perusahaan kami, saat itu perusahaan belum membekali kami dengan hp. Hp pun waktu itu masih sangat mahal. Terlalu mahal untuk kami beli secara pribadi.
Yang duduk di depan kami di pesawat ternyata adalah orang yang sejak di ruang tunggu di Husein S. telah memakai-makai hp. Lumayanlah petantang-petentengnya dia. Maklum waktu itu pemakai hp masih langka. Dari penampilannya kelihatannya dia seorang eksekutif muda perusahaan swasta. Badannya cukup tegap. Tangan kanan memegang hp, tangan kiri menenteng tas kerja tipis.
Ketika pesawat berjalan, stewardess memeragakan petunjuk keselamatan terbang. Tapi kami lihat orang yang punya hp itu terus masih ngobrol menggunakan hpnya. Bahkan sampai ketika stewardess mengatakan agar semua peralatan elektronik termasuk hp harus dimatikan karena akan mengganggu sistem navigasi penerbangan, dia masih belum juga mematikan hpnya.
Hal ini membuat kami berdua kesal. Selain mungkin kami juga sebenarnya cemburu karena belum punya hp, perasaan kami yang tadinya masih agak cuek lihat orang terus bicara dengan hp berubah menjadi kesal. Norak orang ini, pikir kami. Mungkin dasar orang kaya baru, pikir kami.
Ketika pesawat sudah dalam posisi standby dan dalam beberapa saat akan dipacu untuk terbang, Andy yang sudah kesal betul nampaknya berkata kepadaku: "Yang macam ginilah bikin aku palak, Bang" katanya. "Palak" dalam bahasa Medan berarti kesal sekali/keki.
Bagaimana kalau kutegor si goblok ini Bang?, lanjutnya. Karena mengingat keselamatan terbang maka aku menjawab, "Tegorlah Dek". Lalu Andy memanjangkan badan dan lehernya ke depan menghardik orang di depannya itu, "Hey! katanya. Matikan hpmu itu!"
Agak kaget tapi cuek orang itu cuma memandang sebentar ke belakang di mana empat buah bola mata kami sudah memandang dengan kesal kepadanya.
Tidak disangka, orang itu berbalik lagi dan masih terus memakai hpnya! Makin marahlah si Andy. Bagaimana Bang, kutumbuklah orang ini? katanya. (Kutumbuk dalam bahasa Medan artinya kutonjok). Cepat nalarku memberi komando ke mulutku yang dengan geram berkata, "Memang gila ini orang!"
Selanjutnya terjadilah hal yang tak disangka. Andy melepas seatbeltnya, lalu berdiri, dan dari belakang langsung dijitaknya kepala eksekutif muda gila itu dengan keras.
Orang itu kaget dan melihat ke belakang, tapi bertumbukan mata dengan 4 bola mata nanar penuh amarah. Lalu Andy bilang, "Kau mau bikin mati kita semua?! Mau kuhantam lagi kau?!" kata Andy.
Mendengar bentakan keras Andy dan tak kuat melihat mata-mata kami yang sudah memiliki ukuran diameter di atas normal, barulah nampaknya dia kecut dan mematikan hpnya.
Kapal terbang memacu, Andy terduduk dan memasang seatbeltnya. Lalu sejenak kemudian kami sudah di udara, melihat bendungan Jatiluhur sebentar dari atas, lalu mendengar pengumuman akan turun lagi di Halim PK.
Sampai kami turun tidak sedikitpun eksekutif muda yang sok itu berani melihat kepada kami.
Subscribe to:
Posts (Atom)
