Beberapa kali kita dapati satuan-satuan pendidikan mencanangkan bahwa tujuan mereka mengelola satuannya adalah untuk mencetak para pemimpin di masa depan.
Saya agak merenungkan hal ini bbrp waktu belakangan ini. Ada banyak kita dapati di dalam teori (penelitian mendalam yang berbuah pada teori-teori) tentang definisi atau tanda kepemimpinan. Umumnya terkait kepada satu hal, yaitu "pengaruh", lebih lanjut pengaruh tadi berbuah pada "pengorganisasian". Tindakan seseorang yang memiliki pengaruh kepada orang lain menjadi tanda hadirnya suatu kepemimpinan. Yang memberi pengaruh itu disebut pemimpin.
Bila teori ini disosialisasikan, tentulah pengertian "Leader di masa depan" menjadi lebih terarah.
Tetapi bila pengertian Leader tidak utuh, saya merasa ada bahaya besar yang mengancam.
Perjalanan hidup yang saya lalui membuat saya ada dalam beberapa kesimpulan. Pertama, tidak semua orang "berbakat pemimpin". Kedua, tidak semua orang "mau menjadi pemimpin". Pemimpin yang saya maksud di sini sudah jelas pemimpin dalam pengertian yang diambil dari sejumlah teori kepemimpinan yang ada, seperti yang disampaikan di atas.
Ada banyak sekali saya temui, orang yang memang tidak berbakat menjadi pemimpin. Kepada orang-orang seperti ini berbagai motivasipun dicoba untuk dimasukkan, dia tetap tidak bermetamorfosa menjadi pemimpin. Dulu saya menyimpulkan bahwa orang-orang seperti ini betul-betul tidak bisa diharapkan. Atau ada kesalahan organisasi dalam menanamkan kepemimpinan atas orang-orang tipe ini. Tetapi setelah saya dalami benar-benar, tampaknya ada suatu perangkat awal (sangat bisa jadi sejak dari lahirnya) yang dibawa orang-orang seperti ini, yang membuat dia memang tidak berubah menjadi pemimpin. Dalam hal ini saya kesimpulan saya tersambung kepada pernyataan yang pernah saya dengar: Tidak semua orang memang diciptakan Tuhan menjadi pemimpin. Kalau semua orang menjadi pemimpin, siapa yang menjadi anak buah?
Jadi, sebenarnya alangkah baiknya juga untuk memperlakukan orang-orang seperti ini dengan mencoba melihat apa sebenarnya yang menjadi perangkat awal yang dibawanya. Jangan-jangan justru kita bisa menemukan hal luar biasa pada dirinya yang sudah memang dibawanya sejak lahir. Bila dikaitkan dengan jabatan, ada orang yang luar biasa justru sebagai wakil pemimpin. Ada pula saya temui orang yang selalu menjadi kepercayaan dalam mengelola ke dalam (organisasi). Kemudian ada pula yang sangat hebat, teliti, sangat intuitif, kreatif dan setia dalam mengelola keuangan. Ada lagi yang begitu hebatnya bila diberikan tugas-tugas yang sifatnya mobile, begitu tidak kerasannya dia duduk di belakang meja. Dan lain sebagainya.
Yang berikutnya, saya juga menemui orang yang karena pertimbangan dalam dirinya dia merasa sangat tertarik/tertantang akan keingintahuan/penguasaan atas suatu hal. Dia memang tidak mau menjadi pemimpin. Orang-orang seperti ini merasa bahwa bila dia menjadi pemimpin maka dia akan terjebak pada hal-hal yang umum (general) dan tidak dalam, sedangkan dia justru lebih tertarik pada suatu hal yang sifatnya spesifik. Bila arahnya kepada suatu keprigelan, orang-orang seperti ini lebih ingin menuangkan hidupnya kepada hal yang spesifik tersebut. Misalnya seseorang yang ingin betul-betul menyelami bidang geodesi suatu pembangunan fisik. Biarpun semua orang berbicara tentang maraknya tantangan pembangunan secara umum, dia lebih senang hanya menyelami bidang geodesinya suatu pembangunan. Ada juga yang cuma ingin menghitung struktur, ada yang hanya menyelami pelistrikan, dan lain sebagainya. Banyak sekali (walau tidak semua) kita temui orang-orang tipe ini memilih jalan hidup sebagai peneliti, atau pengamat, atau pemusik/seniman untuk instrumen/seni tertentu saja. Dia tidak mau menjadi pemimpin karena dia tidak mau dicampuri urusannya dan dia pula tidak mau mencampuri urusan orang lain.
Bila arahnya pada tekanan tertentu dalam kehidupan, ada orang yang sengaja cuma ingin di posisi yang dia bisa mendapat uang sebanyak-banyaknya misalnya. Jadi dia pertahankan posisi itu sedapat mungkin asal dia dapat uang sebanyak dia bisa. Ada orang yang memilih posisi di organisasi sebagai orang yang berhubungan kepada lapisan masyarakat tertentu saja, karena itu kepuasan yang dikejarnya. Bila dia menjadi pemimpin maka dia merasa tidak akan berhubungan lagi secara intens dengan lapisan tersebut.
Banyak saya temui bahwa orang-orang yang memang tidak mau menjadi pemimpin ini, bila dijadikan pemimpin akan membuat dia menderita dalam batinnya.
Jadi, dari dua hal di atas semogalah kita tidak salah dalam mengartikan tentang definisi Pemimpin. Pemimpin tidak boleh diartikan hanya sekedar sebagai suatu posisi. Menjabat suatu posisi dengan kepemimpinan yang baik, itulah yang diharapkan. Tapi banyak kita lihat orang berada dalam posisi "Pemimpin", tetapi tidak memimpin dengan baik.
Bila para satuan pendidikan mengartikan Pemimpin secara benar maka bila ada lulusannya yang ternyata tidak dalam posisi pemimpin dalam suatu organisasi, bukan berarti satuan pendidikan tersebut telah gagal.
Setiap orang yang tidak berada di dalam posisi pemimpin dalam suatu organisasi, bukanlah orang yang gagal sebagai pemimpin. Dimanapun dia berada, selama dia bisa memberi pengaruh dan ada suatu pengorganisasian bergerak karena dia ada, dia adalah pemimpin. Apakah itu di rumah-tangga, di lingkungan, di antara teman, dan sebagainya.
Memimpin untuk hal yang baik adalah suatu tugas mulia. Berada di posisi pemimpin adalah suatu tanggung-jawab (berarti dia harus memimpin dengan baik). Tetapi kemenangan, adalah suatu kerjasama baik, yang palu kemenangannya justru dipukulkan oleh para anak-buah.
Oleh karena itu saya ingin mengatakan, "Leading Well" adalah baik dan sangat perlu, tetapi "Led Well"lah yang membuat organisasi menang.
Thursday, August 11, 2011
Tuesday, February 15, 2011
Apakah ada Raja Batak? Sisingamangaraja Raja Batak?
Satu pertanyaan menarik, apakah Raja Batak pernah ada? Apakah Sisingamangaraja itu benar Raja Batak?
Ada banyak orang Batak yang asal menjawab, tidak ada. Yang betul, semua orang Batak adalah raja.
Jawaban ini pastilah salah satunya didasarkan pada adat umum orang Batak bahwa semua yang termaktub dalam sebuah "Dalihan na tolu", disebut raja. Karena banyaknya raja dalam Dalihan na tolu dan semua menjadi raja dalam pelaksanaan Dalihan na tolu, maka banyaklah saudara-saudara sesuku Batak langsung dengan cepat mengatakan semua orang Batak adalah raja. Bisa juga segala jawaban ini muncul karena saudara tadi memang tidak tahu bahwa sejarah kerajaan-kerajaan (asli) di tanah Batak. Atau dia sebenarnya tahu di tanah Batak benar ada raja, hanya karena dia juga tahu dia bukan keturunan raja (karena banyak orang Batak dulu dijadikan budak/belian oleh penjajah, maka dia ingin mengorbankan (menyama-nasibkan) semua orang Batak dengan mengatakan semua orang Batak adalah raja.
Dalihan na tolu (Tungku yang bertumpu tiga) adalah falsafah adat orang Batak. Dikatakan demikian karena sebuah tungku akan menjadi stabil bila bertumpu pada tiga batu. 2 pasti tidak stabil, apalagi satu. Itulah maksud orang Batak dengan falsafah tersebut. Orang Batak meyakini bahwa bila hidup orang Batak didasarkan pada Tungku yang berlandas tiga itu, akan terjadi kesempurnaan hidup.
3 landasan itu adalah:
1. Pihak Hula-hula (mereka yang memberikan boru/anak perempuan/saudara perempuan mereka menjadi istri kita). Mereka ini disebut Raja ni Hula-hula.
2. Pihak Dongan Tubu/Dongan Sabutuha (kita semua yang marganya sama, yang sedang mengadakan acara). Kitalah yang disebut Raja ni Dongan Tubu/Dongan Sabutuha.
3. Pihak Boru (semua mereka yang berbagai marga, tetapi mengambil anak/saudara perempuan kita menjadi istri mereka). Merekalah yang disebut Raja ni Boru.
Secara penghormatan, Hula-hula lebih tinggi dari Dongan Tubu. Dongan Tubu lebih tinggi dari Boru. Tapi karena pesta bisa terjadi di manapun, maka setiap orang akan pernah menjadi Hula-hula, pernah menjadi Dongan Tubu dan pernah pula menjadi Boru. Bahkan dalam konstelasi yang semakin kompleks posisi yang ada di dalam sebuah pesta akan menjadi terbalik di pesta di tempat lain.
Dalihan na tolu inilah yang diyakini orang Batak sebagai simbol keseimbangan hidup orang Batak, bahkan simbol demokrasi orang Batak. Sehingga orang Batak sering merasa tidak perlu merasa terlalu rendah setiap saat dengan orang lain karena dalam konstelasi berbeda posisi dalam adat dapat pula berbalik-balik.
Banyaknya penyebutan raja di orang Batak ditambah lagi dengan Undangan lain yang tidak terkait keluarga dengan kita disebut Raja ni Ale-ale (teman-teman) atau Raja ni Dongan Sahuta (teman sepertinggalan/tetangga).
Demikianlah banyaknya penyebutan raja dalam pesta orang Batak.
Tapi yang banyak orang Batak tidak tahu, itu semua (penyebutan raja sesuai Dalihan na tolu) adalah hanya ketika dilaksanakannya pesta/acara adat.
Dalam tulisan ini saya ingin menyampaikan hal yang penting, yaitu orang Batak sebenarnya memiliki Raja, seperti pengertian Raja yang dimiliki orang/suku/bangsa lain.
Memang seorang raja yang wilayah kekuasaannya adalah seluruh tanah Batak yang kita kenal sekarang, sepengetahuan saya belum ada. Tetapi raja-raja yang wilayah kekuasaannya tidak terlalu besar jelas pernah ada di tanah Batak.
Sisingamangaraja ke XII (bermarga Sinambela) adalah benar-benar seorang raja. Hanya kekuasaannya memang tidak mencakup seluruh wilayah tanah Batak. Dia adalah raja dari satu bagian wilayah di tanah Batak. Kerajaannya ada di daerah Bakara (ber-ibukota di Bakara). Kerajaannya disebut Kerajaan Bakara.
Dia jelas memiliki wilayah kekuasaan, walaupun tidak mencakup seluruh tanah Batak. Dia memiliki gedung kerajaan (sebagian sisanya kalau tidak salah masih ada). Dia memiliki singgasana. Dia memiliki tanda-tanda kerajaan seperti mahkota, pedang pusaka, tombak pusaka dan lain sebagainya. Diapun adalah seorang yang sakti. Dia tidak mempan ditembak. Pantangan atas kesaktiannya adalah bersinggungan dengan darah.
Semua benda pusaka itu adalah bukti otentik bahwa dia adalah seorang raja yang mewarisi kerajaan tersebut dari leluhurnya sejak Sisingamangaraja I.
Dia memiliki penjaga keamanan dan pasukan tempur. Jadi jelas dia seorang raja. Yang memberontak kepada Belanda adalah Sisingamangaraja yang ke XII. Namanya adalah Patuan Bosar. Gelarnya Sisingamangaraja ke XII. Karena kepahlawanannya itulah dia menjadi Pahlawan Nasional dari tanah Batak. Gelar tersebut didapatkannya bukan karena dia menguasai seluruh tanah Batak, tetapi karena dia adalah seorang yang gagah berani mengangkat senjata melawan bangsa penjajah yang selama ratusan tahun telah menjajah sebuah wilayah besar yang kelak disebut NKRI. Semangat kemerdekaan nasional NKRI inilah yang melayakkan dia disebut pahlawan nasional. Seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Agung, Sultan Hassanuddin dan yang lain juga bukanlah pemimpin yang menguasai daerah yang terlalu besar juga, tapi karena mereka memiliki semangat seluruh bangsa yang tertabur di daerah yang kelak menamakan diri NKRI untuk merdeka, mereka disebut pahlawan nasional.
Jadi tidak boleh diragukan lagi, bahwa Sisingamangaraja ke XII adalah sungguh-sungguh seorang raja dan dia adalah pahlawan nasional kita.
Sedikit catatan, sebagai raja, Sisingamangaraja adalah juga seorang pemimpin dari kepercayaan kuno orang Batak yang disebut Parmalim. Jadi diapun sering disebut Raja ni Parmalim.
Kakek saya dari pihak ibu adalah juga seorang yang sungguh-sungguh disebut raja. Memang diapun tidak menguasai seluruh Batak, tapi jelas dia seorang raja. Kekuasaannya ada di sekitar Tarutung/Pansurnapitu. Dia bermarga Panggabean. Namanya (maaf kepada semua Tulang saya, saya menyebut nama Ompung itu) Marhusa Panggabean. Gelarnya adalah Patuan Natoras Panggabean.
Wilayahnya sekitar Pansurnapitu. Sisa-sisa kerajaannya masih ada. Bukti otentik bahwa dia betul dulu seorang raja juga masih ada di Pansurnapitu. Pasukannya ada. Benda-benda pusakanya masih ada. Sebelum dia memeluk agama Kristen, diapun dulu adalah seorang yang sakti. Bila dikeluarkannya kesaktiannya, badannya bisa menjadi sekeras batu/besi. Berkali-kali dia ditembak, dijatuhkan ke jurang yang dalam, disiksa dengan ratusan ayunan popor senapan oleh Jepang (kelak di kemudian hari), secara mengherankan dia tidak mati,
Ompung saya ini dulu bersahabat dengan Sisingamangaraja XII (penuturan beberapa sumber), walaupun mereka agak berbeda umur. Dari beberapa rekonstruksi cerita dan sumber tertulis, Ompung saya ini saya duga dulu pernah berkenalan dengan Patuan Bosar (kelak disebut Sisingamangaraja XII) dan seorang raja muda Aceh (kelak akan bertarung bahu membahu dengan gagah berani bersama Sisingamangaraja XII melawan Belanda) ketika mereka sama-sama menimba ilmu ke Malaka.
Agak berbeda dengan Sisingamangaraja ke XII yang non kooperatif dengan Belanda, Patuan Natoras Panggabean menempuh gaya perlawanan kooperatif. Belanda melikuidasi semua raja yang ada di tanah Batak, tetapi keluarga kerajaan mendapatkan hak untuk tidak diangkut menjadi budak (termasuk ibu saya). Wilayah kerajaan oleh Belanda disebut hanya sebuah "negeri". Maka Ompung saya menjadi seorang "Kepala Negeri".
Memang kelak ada banyak orang diangkat oleh Penjajah menjadi kepala negeri (sekarang kira-kira Bupati), tetapi tidak semua kepala negeri itu tadinya seorang raja. Mereka (kepala negeri yang lain itu) berbeda dengan Patuan Natoras Panggabean.
Demikian baiknya hubungan Belanda dengan Patuan Natoras Panggabean, tetapi Belanda tidak tahu bahwa Patuan Natoras Panggabeanlah yang menjadi pemimpin gerilya daerah itu melawan Belanda.
Anak laki-laki tertua dari Patuan Natoras Panggabean ini dididik dan dibentuknya menjadi seorang pejuang yang sangat tangguh dan sangat pemberani. Ditempanya untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda. Walaupun sang ayah sepintas terlihat "berbaik-baik" dengan Belanda tapi sesungguhnya puteranya hidup di hutan belantara dan gunung serta lembah menjadi pejuang gerilya yang luar biasa hebatnya.
Kelak anaknya inilah yang menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima Tentara Nasional Indonesia/Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
Itulah orang Batak yang pernah pangkatnya paling tinggi dalam sejarah negeri ini. Belum pernah ada orang Batak lain yang berpangkat setinggi Beliau dan sebegitu dipercayanya oleh pemimpinnya (waktu itu Presiden/Jendral Soeharto).
Dialah Jendral Maraden Saur Halomoan Panggabean (maaf saya menyebut nama Tulang saya ini). Dialah Tulang (Paman) kandung saya yang tertua.
Meskipun secara hirarkis di atas dia masih ada Wakil Presiden, tetapi sesungguhnya waktu itu kekuasaan kedua atas negeri ini ada di tangan Jendral M. Panggabean. Itulah mandat rahasia Soeharto kepada Beliau waktu itu (menurut penuturan Beliau kepada saya pribadi).
Saya bersyukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan mengenal beliau secara pribadi. Dengan rendah hatinya pernah dimintanya saya (waktu itu saya masih mahasiswa) untuk suatu periode memoles dia menjadi lebih ulung dalam bermain catur, karena dia tahu saya mencintai dan cukup menguasai teori bermain catur. Saya sangat mengetahui tingkat intelektualitas Paman saya itu, kehebatan dan juga pengabdiannya. Kalau ada orang yang melecehkan dia, mereka pastilah orang yang iri/sakit hati dan punya dendam pribadi, pembohong besar dan tidak tahu secara pribadi siapa sebenarnya Beliau. Dia pasti provokator yang membuat rekaan tanpa intelektualitas mendasar.
Salah satu yang Paman pernah katakan pada saya dulu: Bere (Keponakan), orang tidak pernah tahu bagaimana kami (dia dan seluruh jajaran koordinasinya) bertarung habis-habisan menyatukan ABRI, sampai sedemikian kompaknya dan mencantumkan di setiap kantor strukturalnya di seluruh Indonesia, kata-kata: Markas Besar Tentara Nasional Indonesia, dan seterusnya, baru menuliskan kekhasan/sesuai Angkatan dan Kepolisian kantor tersebut, di bawah tulisan itu.
Semua anggota TNI yang tahu, pasti tidak lupa akan jasa besar Jendral M. Panggabean yang menyatukan ABRI kembali dengan baiknya pada waktu itu.
Saya sangat bangga akan Tulang saya ini.
*Sedikit catatan:
Bukan maksud saya mengatakan orang Batak lain tidak hebat. Amir Syarifuddin Harahap pernah menjadi PM tetapi waktu itu situasi Indonesia masih sangat belum stabil dan berbentuk. Lagipula Beliau sama sekali tidak punya kekuatan di TRI/TNI. Dia hanya agak sepikiran dengan Jendral/Panglima perjuangan kemerdekaan kita yang hebat, Soedirman. Letjen TB Simatupang seorang pemikir hebat (pencipta Sapta Marga), tapi hanya sampai di Kastaf TNI (kalau tidak salah), runtuh dimakan pertikaian politik. Kolonel Zulkifli Lubis seorang tentara tulen (perintis cikal bakal Kopassus) tapi sayang juga tersingkirkan dalam persaingan tidak sehat dalam TNI. Jendral AH Nasution ahli perang yang hebat (pelaku dan penulis teori-teori gerilya), tetapi tidak mendapat mandat penuh/dicurigai oleh Presiden Soekarno sehingga jabatannya hanyalah Kastaf ABRI (Menko Kasab/Panglima Koti). Nasutionpun rasanya tidaklah terlalu berhasil menjadi seorang pemimpin tentara. Orang Batak lain yang bukan tentara juga hebat-hebat di bidang masing-masing. Ada pencipta lagu perjuangan, wartawan, ahli hukum, ahli bahasa, sejarawan, teknokrat, ekonom, pemain catur, hamba Tuhan, enterpreneur dan lain sebagainya. Saya mengagumi mereka semua.
Tapi perlu sekali untuk selalu diingat bahwa di tangan Jendral M. Panggabeanlah negara kita yang baru porak poranda dilanda revolusi, ditangani dan dikonsolidasikan dengan sangat baik sehingga keamanan dan ketertiban waktu itu boleh dikatakan sangatlah baiknya. Semua dilakukan oleh Jendral M. Panggabean dengan tanpa banyak bicara (karena sejak mudanya dia lebih mengutamakan tindakan/perbuatan, yaitu bergerilya naik turun gunung dalam kesenyapan, muncul dan hilang tiba-tiba tanpa diketahui orang). Beliau tidak suka bicara ke wartawan. Tidak mencari citra diri. Dia hanya mengabdi dengan setia kepada bangsa dan negara (bukan kepada Soeharto, karena di hari tuanya Beliau meminta mengundurkan diri dari pengabdian kepada negara, walaupun Soeharto tetap masih terus meminta dia untuk mendampingi sang pemimpin Orba itu). Sebelum mundur, sempat Paman saya ini mengingatkan Soeharto akan beberapa hal yang kelihatannya sudah mulai melenceng (menurut penuturan Beliau kepada saya secara pribadi jauh sebelum kejatuhan Orde Baru). Salah satu yang sering dikatakannya kepada saya: kelihatannya kebijakan nasional sudah semakin terfokus pada ekonomi saja, padahal perkara lain seperti keamanan dan ketertiban, sensitivitas nasional, pemerataan pendapatan, dsbnya tetap sama pentingnya.
Sejak saat itu Paman saya sudah tidak ikut lagi dalam pemutusan kebijakan nasional. Sering dia mengeluh dalam pertemuan keluarga, mengapa semakin banyak keputusan nasional menjadi tidak strategis lagi. Sedih sekali, memang akhirnya Orde Baru jatuh tahun 1998.
Buku memoirnya diberinya judul "Berjuang dan Mengabdi." Persis seperti kepribadiannya yang rendah hati, tapi pemberani (benar-benar berani mati). Persis seperti sifat mulia dari kebanyakan orang Batak, setia. Persis seperti Maha Patih Gajah Mada di era Majapahit yang besar itu.
Sementara itu dalam kilas balik, di Pansurnapitu/Tarutung dan sekitarnya, sudah sejak lama dikenal orang seorang jendral. Siapa dia?
Secara resmi memang anak laki-laki tertuanya yang berpangkat Jendral TNI/ABRI, tetapi sesungguhnya Patuan Natoras Panggabean itulah yang mereka sebut Jendral Pemberontak. Sampai sekarang di Pansurnapitu selalu tinggal kenangan akan seorang pejuang pemberani yang sakti mandraguna yang memimpin perlawanan bawah tanah melawan penjajah (meskipun penjajah tidak tahu). Dialah Jendral Pemberontak, Patuan Natoras Panggabean, raja yang tulen dari Pansurnapitu.
Sayapun sangat bersyukur kepada Tuhan sempat mengenal Ompung (Kakek) saya yang dulu seorang raja ini. Sejak kecil saya disayang Beliau (seperti juga dia menyayangi semua cucunya). Dia sungguh batu karang terjal yang tidak terkuasai. Walaupun dia sangat jago berdiplomasi (fasih berbahasa Belanda), tapi dia sangat anti dengan hati yang lemah. Dia selalu berkata bahwa memang Indonesia pernah dijajah Belanda, tapi orang Indonesia tidak boleh kalah dengan orang Belanda. Kita harus selalu cerdik, katanya. Saya tidak pernah lupa tangannya yang mengusap (tapi tetap menjaga jarak berdirinya dengan saya) kepala saya ketika sedih, lingkaran tangannya di bahu saya ketika memutuskan harus menghadapi sebuah perjuangan, kerasnya intonasi bicaranya untuk menyimpan air mata saya. Saya mengenang Beliau yang selalu mencari, mengunjungi, manasehati, membawa berjalan-jalan, memberi contoh kepada semua cucunya.
Kalau kita lihat "kelas"nya mereka-mereka yang sekarang diangkat sebagai pahlawan nasional saat-saat ini, baik Patuan Natoras Panggabean maupun Jendral M. Panggabean sudah sangat patut diangkat menjadi pahlawan nasional RI. Sudah harus ada di ibu kota Jakarta sebuah jalan besar bernama Jalan Jendral M. Panggabean.
Demikianlah saya postkan tulisan ini, untuk menyampaikan, baik kepada saudara-saudara non Batak, maupun bahkan kepada saudara-saudara asli Batak, bahwa di tanah Batak memang pernah ada raja, walaupun wilayahnya tidak sebesar tanah Batak atau lebih besar lagi. Bukan sekedar raja-rajaan, seperti yang suka dijawab dengan cepat oleh banyak saudara saya orang Batak, yang mungkin belum terlalu tahu bahwa di tanah Batak memang pernah ada raja-raja.
Walaupun tidak seukuran, bayangkanlah bahwa di tanah Jawapun ada raja Yogya, tapi bukan raja seluruh Jawa Tengah. Ada raja Solo. Di Jawa Barat ada raja Banten, ada raja Cirebon, ada raja Pasundan, dsb.
Di tanah Batakpun ada raja-raja.
Ada banyak orang Batak yang asal menjawab, tidak ada. Yang betul, semua orang Batak adalah raja.
Jawaban ini pastilah salah satunya didasarkan pada adat umum orang Batak bahwa semua yang termaktub dalam sebuah "Dalihan na tolu", disebut raja. Karena banyaknya raja dalam Dalihan na tolu dan semua menjadi raja dalam pelaksanaan Dalihan na tolu, maka banyaklah saudara-saudara sesuku Batak langsung dengan cepat mengatakan semua orang Batak adalah raja. Bisa juga segala jawaban ini muncul karena saudara tadi memang tidak tahu bahwa sejarah kerajaan-kerajaan (asli) di tanah Batak. Atau dia sebenarnya tahu di tanah Batak benar ada raja, hanya karena dia juga tahu dia bukan keturunan raja (karena banyak orang Batak dulu dijadikan budak/belian oleh penjajah, maka dia ingin mengorbankan (menyama-nasibkan) semua orang Batak dengan mengatakan semua orang Batak adalah raja.
Dalihan na tolu (Tungku yang bertumpu tiga) adalah falsafah adat orang Batak. Dikatakan demikian karena sebuah tungku akan menjadi stabil bila bertumpu pada tiga batu. 2 pasti tidak stabil, apalagi satu. Itulah maksud orang Batak dengan falsafah tersebut. Orang Batak meyakini bahwa bila hidup orang Batak didasarkan pada Tungku yang berlandas tiga itu, akan terjadi kesempurnaan hidup.
3 landasan itu adalah:
1. Pihak Hula-hula (mereka yang memberikan boru/anak perempuan/saudara perempuan mereka menjadi istri kita). Mereka ini disebut Raja ni Hula-hula.
2. Pihak Dongan Tubu/Dongan Sabutuha (kita semua yang marganya sama, yang sedang mengadakan acara). Kitalah yang disebut Raja ni Dongan Tubu/Dongan Sabutuha.
3. Pihak Boru (semua mereka yang berbagai marga, tetapi mengambil anak/saudara perempuan kita menjadi istri mereka). Merekalah yang disebut Raja ni Boru.
Secara penghormatan, Hula-hula lebih tinggi dari Dongan Tubu. Dongan Tubu lebih tinggi dari Boru. Tapi karena pesta bisa terjadi di manapun, maka setiap orang akan pernah menjadi Hula-hula, pernah menjadi Dongan Tubu dan pernah pula menjadi Boru. Bahkan dalam konstelasi yang semakin kompleks posisi yang ada di dalam sebuah pesta akan menjadi terbalik di pesta di tempat lain.
Dalihan na tolu inilah yang diyakini orang Batak sebagai simbol keseimbangan hidup orang Batak, bahkan simbol demokrasi orang Batak. Sehingga orang Batak sering merasa tidak perlu merasa terlalu rendah setiap saat dengan orang lain karena dalam konstelasi berbeda posisi dalam adat dapat pula berbalik-balik.
Banyaknya penyebutan raja di orang Batak ditambah lagi dengan Undangan lain yang tidak terkait keluarga dengan kita disebut Raja ni Ale-ale (teman-teman) atau Raja ni Dongan Sahuta (teman sepertinggalan/tetangga).
Demikianlah banyaknya penyebutan raja dalam pesta orang Batak.
Tapi yang banyak orang Batak tidak tahu, itu semua (penyebutan raja sesuai Dalihan na tolu) adalah hanya ketika dilaksanakannya pesta/acara adat.
Dalam tulisan ini saya ingin menyampaikan hal yang penting, yaitu orang Batak sebenarnya memiliki Raja, seperti pengertian Raja yang dimiliki orang/suku/bangsa lain.
Memang seorang raja yang wilayah kekuasaannya adalah seluruh tanah Batak yang kita kenal sekarang, sepengetahuan saya belum ada. Tetapi raja-raja yang wilayah kekuasaannya tidak terlalu besar jelas pernah ada di tanah Batak.
Sisingamangaraja ke XII (bermarga Sinambela) adalah benar-benar seorang raja. Hanya kekuasaannya memang tidak mencakup seluruh wilayah tanah Batak. Dia adalah raja dari satu bagian wilayah di tanah Batak. Kerajaannya ada di daerah Bakara (ber-ibukota di Bakara). Kerajaannya disebut Kerajaan Bakara.
Dia jelas memiliki wilayah kekuasaan, walaupun tidak mencakup seluruh tanah Batak. Dia memiliki gedung kerajaan (sebagian sisanya kalau tidak salah masih ada). Dia memiliki singgasana. Dia memiliki tanda-tanda kerajaan seperti mahkota, pedang pusaka, tombak pusaka dan lain sebagainya. Diapun adalah seorang yang sakti. Dia tidak mempan ditembak. Pantangan atas kesaktiannya adalah bersinggungan dengan darah.
Semua benda pusaka itu adalah bukti otentik bahwa dia adalah seorang raja yang mewarisi kerajaan tersebut dari leluhurnya sejak Sisingamangaraja I.
Dia memiliki penjaga keamanan dan pasukan tempur. Jadi jelas dia seorang raja. Yang memberontak kepada Belanda adalah Sisingamangaraja yang ke XII. Namanya adalah Patuan Bosar. Gelarnya Sisingamangaraja ke XII. Karena kepahlawanannya itulah dia menjadi Pahlawan Nasional dari tanah Batak. Gelar tersebut didapatkannya bukan karena dia menguasai seluruh tanah Batak, tetapi karena dia adalah seorang yang gagah berani mengangkat senjata melawan bangsa penjajah yang selama ratusan tahun telah menjajah sebuah wilayah besar yang kelak disebut NKRI. Semangat kemerdekaan nasional NKRI inilah yang melayakkan dia disebut pahlawan nasional. Seperti Pangeran Diponegoro, Sultan Agung, Sultan Hassanuddin dan yang lain juga bukanlah pemimpin yang menguasai daerah yang terlalu besar juga, tapi karena mereka memiliki semangat seluruh bangsa yang tertabur di daerah yang kelak menamakan diri NKRI untuk merdeka, mereka disebut pahlawan nasional.
Jadi tidak boleh diragukan lagi, bahwa Sisingamangaraja ke XII adalah sungguh-sungguh seorang raja dan dia adalah pahlawan nasional kita.
Sedikit catatan, sebagai raja, Sisingamangaraja adalah juga seorang pemimpin dari kepercayaan kuno orang Batak yang disebut Parmalim. Jadi diapun sering disebut Raja ni Parmalim.
Kakek saya dari pihak ibu adalah juga seorang yang sungguh-sungguh disebut raja. Memang diapun tidak menguasai seluruh Batak, tapi jelas dia seorang raja. Kekuasaannya ada di sekitar Tarutung/Pansurnapitu. Dia bermarga Panggabean. Namanya (maaf kepada semua Tulang saya, saya menyebut nama Ompung itu) Marhusa Panggabean. Gelarnya adalah Patuan Natoras Panggabean.
Wilayahnya sekitar Pansurnapitu. Sisa-sisa kerajaannya masih ada. Bukti otentik bahwa dia betul dulu seorang raja juga masih ada di Pansurnapitu. Pasukannya ada. Benda-benda pusakanya masih ada. Sebelum dia memeluk agama Kristen, diapun dulu adalah seorang yang sakti. Bila dikeluarkannya kesaktiannya, badannya bisa menjadi sekeras batu/besi. Berkali-kali dia ditembak, dijatuhkan ke jurang yang dalam, disiksa dengan ratusan ayunan popor senapan oleh Jepang (kelak di kemudian hari), secara mengherankan dia tidak mati,
Ompung saya ini dulu bersahabat dengan Sisingamangaraja XII (penuturan beberapa sumber), walaupun mereka agak berbeda umur. Dari beberapa rekonstruksi cerita dan sumber tertulis, Ompung saya ini saya duga dulu pernah berkenalan dengan Patuan Bosar (kelak disebut Sisingamangaraja XII) dan seorang raja muda Aceh (kelak akan bertarung bahu membahu dengan gagah berani bersama Sisingamangaraja XII melawan Belanda) ketika mereka sama-sama menimba ilmu ke Malaka.
Agak berbeda dengan Sisingamangaraja ke XII yang non kooperatif dengan Belanda, Patuan Natoras Panggabean menempuh gaya perlawanan kooperatif. Belanda melikuidasi semua raja yang ada di tanah Batak, tetapi keluarga kerajaan mendapatkan hak untuk tidak diangkut menjadi budak (termasuk ibu saya). Wilayah kerajaan oleh Belanda disebut hanya sebuah "negeri". Maka Ompung saya menjadi seorang "Kepala Negeri".
Memang kelak ada banyak orang diangkat oleh Penjajah menjadi kepala negeri (sekarang kira-kira Bupati), tetapi tidak semua kepala negeri itu tadinya seorang raja. Mereka (kepala negeri yang lain itu) berbeda dengan Patuan Natoras Panggabean.
Demikian baiknya hubungan Belanda dengan Patuan Natoras Panggabean, tetapi Belanda tidak tahu bahwa Patuan Natoras Panggabeanlah yang menjadi pemimpin gerilya daerah itu melawan Belanda.
Anak laki-laki tertua dari Patuan Natoras Panggabean ini dididik dan dibentuknya menjadi seorang pejuang yang sangat tangguh dan sangat pemberani. Ditempanya untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda. Walaupun sang ayah sepintas terlihat "berbaik-baik" dengan Belanda tapi sesungguhnya puteranya hidup di hutan belantara dan gunung serta lembah menjadi pejuang gerilya yang luar biasa hebatnya.
Kelak anaknya inilah yang menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima Tentara Nasional Indonesia/Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
Itulah orang Batak yang pernah pangkatnya paling tinggi dalam sejarah negeri ini. Belum pernah ada orang Batak lain yang berpangkat setinggi Beliau dan sebegitu dipercayanya oleh pemimpinnya (waktu itu Presiden/Jendral Soeharto).
Dialah Jendral Maraden Saur Halomoan Panggabean (maaf saya menyebut nama Tulang saya ini). Dialah Tulang (Paman) kandung saya yang tertua.
Meskipun secara hirarkis di atas dia masih ada Wakil Presiden, tetapi sesungguhnya waktu itu kekuasaan kedua atas negeri ini ada di tangan Jendral M. Panggabean. Itulah mandat rahasia Soeharto kepada Beliau waktu itu (menurut penuturan Beliau kepada saya pribadi).
Saya bersyukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan mengenal beliau secara pribadi. Dengan rendah hatinya pernah dimintanya saya (waktu itu saya masih mahasiswa) untuk suatu periode memoles dia menjadi lebih ulung dalam bermain catur, karena dia tahu saya mencintai dan cukup menguasai teori bermain catur. Saya sangat mengetahui tingkat intelektualitas Paman saya itu, kehebatan dan juga pengabdiannya. Kalau ada orang yang melecehkan dia, mereka pastilah orang yang iri/sakit hati dan punya dendam pribadi, pembohong besar dan tidak tahu secara pribadi siapa sebenarnya Beliau. Dia pasti provokator yang membuat rekaan tanpa intelektualitas mendasar.
Salah satu yang Paman pernah katakan pada saya dulu: Bere (Keponakan), orang tidak pernah tahu bagaimana kami (dia dan seluruh jajaran koordinasinya) bertarung habis-habisan menyatukan ABRI, sampai sedemikian kompaknya dan mencantumkan di setiap kantor strukturalnya di seluruh Indonesia, kata-kata: Markas Besar Tentara Nasional Indonesia, dan seterusnya, baru menuliskan kekhasan/sesuai Angkatan dan Kepolisian kantor tersebut, di bawah tulisan itu.
Semua anggota TNI yang tahu, pasti tidak lupa akan jasa besar Jendral M. Panggabean yang menyatukan ABRI kembali dengan baiknya pada waktu itu.
Saya sangat bangga akan Tulang saya ini.
*Sedikit catatan:
Bukan maksud saya mengatakan orang Batak lain tidak hebat. Amir Syarifuddin Harahap pernah menjadi PM tetapi waktu itu situasi Indonesia masih sangat belum stabil dan berbentuk. Lagipula Beliau sama sekali tidak punya kekuatan di TRI/TNI. Dia hanya agak sepikiran dengan Jendral/Panglima perjuangan kemerdekaan kita yang hebat, Soedirman. Letjen TB Simatupang seorang pemikir hebat (pencipta Sapta Marga), tapi hanya sampai di Kastaf TNI (kalau tidak salah), runtuh dimakan pertikaian politik. Kolonel Zulkifli Lubis seorang tentara tulen (perintis cikal bakal Kopassus) tapi sayang juga tersingkirkan dalam persaingan tidak sehat dalam TNI. Jendral AH Nasution ahli perang yang hebat (pelaku dan penulis teori-teori gerilya), tetapi tidak mendapat mandat penuh/dicurigai oleh Presiden Soekarno sehingga jabatannya hanyalah Kastaf ABRI (Menko Kasab/Panglima Koti). Nasutionpun rasanya tidaklah terlalu berhasil menjadi seorang pemimpin tentara. Orang Batak lain yang bukan tentara juga hebat-hebat di bidang masing-masing. Ada pencipta lagu perjuangan, wartawan, ahli hukum, ahli bahasa, sejarawan, teknokrat, ekonom, pemain catur, hamba Tuhan, enterpreneur dan lain sebagainya. Saya mengagumi mereka semua.
Tapi perlu sekali untuk selalu diingat bahwa di tangan Jendral M. Panggabeanlah negara kita yang baru porak poranda dilanda revolusi, ditangani dan dikonsolidasikan dengan sangat baik sehingga keamanan dan ketertiban waktu itu boleh dikatakan sangatlah baiknya. Semua dilakukan oleh Jendral M. Panggabean dengan tanpa banyak bicara (karena sejak mudanya dia lebih mengutamakan tindakan/perbuatan, yaitu bergerilya naik turun gunung dalam kesenyapan, muncul dan hilang tiba-tiba tanpa diketahui orang). Beliau tidak suka bicara ke wartawan. Tidak mencari citra diri. Dia hanya mengabdi dengan setia kepada bangsa dan negara (bukan kepada Soeharto, karena di hari tuanya Beliau meminta mengundurkan diri dari pengabdian kepada negara, walaupun Soeharto tetap masih terus meminta dia untuk mendampingi sang pemimpin Orba itu). Sebelum mundur, sempat Paman saya ini mengingatkan Soeharto akan beberapa hal yang kelihatannya sudah mulai melenceng (menurut penuturan Beliau kepada saya secara pribadi jauh sebelum kejatuhan Orde Baru). Salah satu yang sering dikatakannya kepada saya: kelihatannya kebijakan nasional sudah semakin terfokus pada ekonomi saja, padahal perkara lain seperti keamanan dan ketertiban, sensitivitas nasional, pemerataan pendapatan, dsbnya tetap sama pentingnya.
Sejak saat itu Paman saya sudah tidak ikut lagi dalam pemutusan kebijakan nasional. Sering dia mengeluh dalam pertemuan keluarga, mengapa semakin banyak keputusan nasional menjadi tidak strategis lagi. Sedih sekali, memang akhirnya Orde Baru jatuh tahun 1998.
Buku memoirnya diberinya judul "Berjuang dan Mengabdi." Persis seperti kepribadiannya yang rendah hati, tapi pemberani (benar-benar berani mati). Persis seperti sifat mulia dari kebanyakan orang Batak, setia. Persis seperti Maha Patih Gajah Mada di era Majapahit yang besar itu.
Sementara itu dalam kilas balik, di Pansurnapitu/Tarutung dan sekitarnya, sudah sejak lama dikenal orang seorang jendral. Siapa dia?
Secara resmi memang anak laki-laki tertuanya yang berpangkat Jendral TNI/ABRI, tetapi sesungguhnya Patuan Natoras Panggabean itulah yang mereka sebut Jendral Pemberontak. Sampai sekarang di Pansurnapitu selalu tinggal kenangan akan seorang pejuang pemberani yang sakti mandraguna yang memimpin perlawanan bawah tanah melawan penjajah (meskipun penjajah tidak tahu). Dialah Jendral Pemberontak, Patuan Natoras Panggabean, raja yang tulen dari Pansurnapitu.
Sayapun sangat bersyukur kepada Tuhan sempat mengenal Ompung (Kakek) saya yang dulu seorang raja ini. Sejak kecil saya disayang Beliau (seperti juga dia menyayangi semua cucunya). Dia sungguh batu karang terjal yang tidak terkuasai. Walaupun dia sangat jago berdiplomasi (fasih berbahasa Belanda), tapi dia sangat anti dengan hati yang lemah. Dia selalu berkata bahwa memang Indonesia pernah dijajah Belanda, tapi orang Indonesia tidak boleh kalah dengan orang Belanda. Kita harus selalu cerdik, katanya. Saya tidak pernah lupa tangannya yang mengusap (tapi tetap menjaga jarak berdirinya dengan saya) kepala saya ketika sedih, lingkaran tangannya di bahu saya ketika memutuskan harus menghadapi sebuah perjuangan, kerasnya intonasi bicaranya untuk menyimpan air mata saya. Saya mengenang Beliau yang selalu mencari, mengunjungi, manasehati, membawa berjalan-jalan, memberi contoh kepada semua cucunya.
Kalau kita lihat "kelas"nya mereka-mereka yang sekarang diangkat sebagai pahlawan nasional saat-saat ini, baik Patuan Natoras Panggabean maupun Jendral M. Panggabean sudah sangat patut diangkat menjadi pahlawan nasional RI. Sudah harus ada di ibu kota Jakarta sebuah jalan besar bernama Jalan Jendral M. Panggabean.
Demikianlah saya postkan tulisan ini, untuk menyampaikan, baik kepada saudara-saudara non Batak, maupun bahkan kepada saudara-saudara asli Batak, bahwa di tanah Batak memang pernah ada raja, walaupun wilayahnya tidak sebesar tanah Batak atau lebih besar lagi. Bukan sekedar raja-rajaan, seperti yang suka dijawab dengan cepat oleh banyak saudara saya orang Batak, yang mungkin belum terlalu tahu bahwa di tanah Batak memang pernah ada raja-raja.
Walaupun tidak seukuran, bayangkanlah bahwa di tanah Jawapun ada raja Yogya, tapi bukan raja seluruh Jawa Tengah. Ada raja Solo. Di Jawa Barat ada raja Banten, ada raja Cirebon, ada raja Pasundan, dsb.
Di tanah Batakpun ada raja-raja.
Jong Bataks Bond, siapa?
Dalam sejarah, di mana Sumpah Pemuda diikrarkan tahun 1928, dikatakan ada satu perkumpulan yang ikut bernama Jong Bataks Bond (semoga saya tidak salah menuliskannya).
Ada banyak bond yang lain seperti Jong Sumatera, Jong Sulawesi, Jong Java, Jong Ambon dan sebagainya yang ikut menelorkan Soempah Pemoeda.
Satu pertanyaan yang menggelitik disampaikan Prof. Dr. Irzan Tanjung kepada saya, siapa saja itu yang ikut dalam Jong Bataks Bond? Pada tahun 1928 orang Batak yang ikut itu pastilah orang-orang yang hebat mengingat pusat kemajuan saat itu sebenarnya adanya di Jawa.
Telaah saya dari beberapa sumber menghasilkan bahwa pemimpin Jong Bataks Bond itu adalah Amir Syarifuddin Harahap yang hebat itu. Selanjutnya ada pula saya dapati kedua bersaudara Sanusi Pane dan Armijn Pane. Hanya itu yang baru saya dapat.
Sangat menarik bila ada sumber tertulis yang menyatakan siapa saja mereka orang Batak yang lain yang ikut dalam delegasi tersebut. Silakan saudara-saudara yang memiliki sumbernya memberikan informasinya agar kita rekonstruksikan sejarah yang hebat ini.
Tapi ada satu lagi pertanyaan menggelitik. Mengapa sudah ada Jong Sumatera tapi masih ada lagi Jong Bataks Bond?
Kalau ini saya mendapatkan sumber tertulis jawabannya. Memang Jong Sumatera sudah duluan ada. Tetapi dalam perkembangannya Jong Sumatera didominasi oleh saudara-saudara dari salah satu suku saja yang ada di Sumatera. Melihat gelagat tidak sehat inilah Amir Syarifuddin Harahap dkk tidak mau bergabung lagi dengan Jong Sumatera dan mendirikan terpisah, Jong Bataks Bond.
Ada banyak bond yang lain seperti Jong Sumatera, Jong Sulawesi, Jong Java, Jong Ambon dan sebagainya yang ikut menelorkan Soempah Pemoeda.
Satu pertanyaan yang menggelitik disampaikan Prof. Dr. Irzan Tanjung kepada saya, siapa saja itu yang ikut dalam Jong Bataks Bond? Pada tahun 1928 orang Batak yang ikut itu pastilah orang-orang yang hebat mengingat pusat kemajuan saat itu sebenarnya adanya di Jawa.
Telaah saya dari beberapa sumber menghasilkan bahwa pemimpin Jong Bataks Bond itu adalah Amir Syarifuddin Harahap yang hebat itu. Selanjutnya ada pula saya dapati kedua bersaudara Sanusi Pane dan Armijn Pane. Hanya itu yang baru saya dapat.
Sangat menarik bila ada sumber tertulis yang menyatakan siapa saja mereka orang Batak yang lain yang ikut dalam delegasi tersebut. Silakan saudara-saudara yang memiliki sumbernya memberikan informasinya agar kita rekonstruksikan sejarah yang hebat ini.
Tapi ada satu lagi pertanyaan menggelitik. Mengapa sudah ada Jong Sumatera tapi masih ada lagi Jong Bataks Bond?
Kalau ini saya mendapatkan sumber tertulis jawabannya. Memang Jong Sumatera sudah duluan ada. Tetapi dalam perkembangannya Jong Sumatera didominasi oleh saudara-saudara dari salah satu suku saja yang ada di Sumatera. Melihat gelagat tidak sehat inilah Amir Syarifuddin Harahap dkk tidak mau bergabung lagi dengan Jong Sumatera dan mendirikan terpisah, Jong Bataks Bond.
Orang Batak terkaya di dunia bermarga Tanjung.
Membicarakan record diri sendiri memang sebenarnya tidak begitu enak. Tapi ketika dalam suatu pesta kawin siang ini (ada seorang marga Tanjung menikah dengan boru Mangunsong di Ruma Gorga II/Pondok Bambu), kami berbicara dengan beberapa teman bermarga Tanjung. Ada terungkap dalam bincang-bincang tersebut bahwa sering sekali kami marga Tanjung dianggap "kecil" oleh marga-marga Batak yang lain. Yah anggapan yang mengecilkan kami tentu saja tidak perlu terlalu kami tanggapi dengan panas hati. Tokh kami sadar bahwa yang terpenting sebenarnya bukanlah kuantitas, tetapi kualitas kita.
Alangkah leganya hati kami dalam bincang-bincang tadi, ternyata terungkap beberapa hal yang cukuplah untuk membanggakan kami yang sering dianggap kecil ini.
1. Dalam suatu pesta adat (biasanya adat Toba), memang umumnya jumlah kami tidak terlalu besar. Tapi itu sangat bisa dimaklumi, karena biasanya yang menjalankan adat seperti itu umumnya adalah orang-orang Batak yang beragama Kristen. Memang kami marga Tanjung (putera dari Si Raja Borbor), yang beragama Kristen hanya sekitar 2% dari seluruh marga Tanjung.
98% an saudara-saudara kami beragama Islam (dahulu kebanyakan marga Tanjung meninggalkan tanah leluhur kami di Haunatas-Habinsaran-Parsoburan pindah ke selatan, walaupun ada juga yang ke utara, seperti leluhur saya ke Tarutung).
Jadi sesungguhnya bila tidak memandang agama, kami datang bersama, sangat boleh jadi marga-marga yang mengecilkan kami itu tidak ada artinya dalam hal jumlah, dibandingkan dengan kami marga Tanjung.
2. Dari Forbes terbaru (on line) dapat kita lihat bahwa hanya ada 1 orang Batak dalam list 40 orang Indonesia terkaya. Dia adalah Chaerul Tanjung (pemilik Bank Mega, Trans TV, Trans 7, Bandung Supermall, dsb.). Urutan ke 18, dg kekayaan 1.25 Billion USD. Berarti orang Batak terkaya di dunia adalah bermarga Tanjung.
Dalam daftar itu ada yang bernama Martua Sitorus, tapi dia bukanlah seorang yang asli Batak. (Maaf Pak Martua Sitorus, tulisan saya sama sekali tidak bermaksud merendahkan anda).
3. Dalam sejarah RI, hanya ada 1 marga yang pernah ada sekaligus 2 puteranya berpangkat setara menteri duduk di dalam satu kabinet. Dan itu adalah marga Tanjung. Itu terjadi dalam salah satu kabinet pembangunan yang lalu. Kedua orang itu adalah Akbar Tanjung dan Jendral Feisal Tanjung.
Marga-marga yang menganggap kami kecil, paling pernah menaruh puteranya satu orang dalam sebuah kabinet RI. Malah marga-marga yang suka vocal menghina kami itu barangkali belum pernah puteranya ada dalam kabinet RI.
Tulisan ini saya postkan bukan untuk mengangkat kesombongan, tapi hendaklah kita orang Batak kompak dan tidak perlu meninggi-ninggikan diri, apalagi merendahkan marga lain, juga saudara-saudara kita orang Indonesia yang lain.
Alangkah leganya hati kami dalam bincang-bincang tadi, ternyata terungkap beberapa hal yang cukuplah untuk membanggakan kami yang sering dianggap kecil ini.
1. Dalam suatu pesta adat (biasanya adat Toba), memang umumnya jumlah kami tidak terlalu besar. Tapi itu sangat bisa dimaklumi, karena biasanya yang menjalankan adat seperti itu umumnya adalah orang-orang Batak yang beragama Kristen. Memang kami marga Tanjung (putera dari Si Raja Borbor), yang beragama Kristen hanya sekitar 2% dari seluruh marga Tanjung.
98% an saudara-saudara kami beragama Islam (dahulu kebanyakan marga Tanjung meninggalkan tanah leluhur kami di Haunatas-Habinsaran-Parsoburan pindah ke selatan, walaupun ada juga yang ke utara, seperti leluhur saya ke Tarutung).
Jadi sesungguhnya bila tidak memandang agama, kami datang bersama, sangat boleh jadi marga-marga yang mengecilkan kami itu tidak ada artinya dalam hal jumlah, dibandingkan dengan kami marga Tanjung.
2. Dari Forbes terbaru (on line) dapat kita lihat bahwa hanya ada 1 orang Batak dalam list 40 orang Indonesia terkaya. Dia adalah Chaerul Tanjung (pemilik Bank Mega, Trans TV, Trans 7, Bandung Supermall, dsb.). Urutan ke 18, dg kekayaan 1.25 Billion USD. Berarti orang Batak terkaya di dunia adalah bermarga Tanjung.
Dalam daftar itu ada yang bernama Martua Sitorus, tapi dia bukanlah seorang yang asli Batak. (Maaf Pak Martua Sitorus, tulisan saya sama sekali tidak bermaksud merendahkan anda).
3. Dalam sejarah RI, hanya ada 1 marga yang pernah ada sekaligus 2 puteranya berpangkat setara menteri duduk di dalam satu kabinet. Dan itu adalah marga Tanjung. Itu terjadi dalam salah satu kabinet pembangunan yang lalu. Kedua orang itu adalah Akbar Tanjung dan Jendral Feisal Tanjung.
Marga-marga yang menganggap kami kecil, paling pernah menaruh puteranya satu orang dalam sebuah kabinet RI. Malah marga-marga yang suka vocal menghina kami itu barangkali belum pernah puteranya ada dalam kabinet RI.
Tulisan ini saya postkan bukan untuk mengangkat kesombongan, tapi hendaklah kita orang Batak kompak dan tidak perlu meninggi-ninggikan diri, apalagi merendahkan marga lain, juga saudara-saudara kita orang Indonesia yang lain.
Friday, January 28, 2011
Paradigma Korupsi
Kok bisa ya di negeri ini terbentuk pola pikir (mungkin sistem hukumnya begitu) bahwa yang namanya korupsi paradigmanya "Pemberi - Penerima". Sehingga seolah-olah si Pemberi itu yang inisiator dan lebih salah.
Padahal kenyataan di lapangan kita semua tahu yang ada adalah pola "Peminta - Pemberi". Pemberi itu kan terpaksa memberi, agar urusannya beres (tugas si pengemban otoritas dilaksanakan).
Peminta (peminta-minta) itu sebenarnya yang inisiator, atau setidaknya dipermaklumkan bahwa hendaklah semua orang tahu bahwa si pemikul tanggung-jawab pekerjaan (pemegang otoritas) harus disuap dulu.
Atau semua harus tahu bahwa kelak bila tugasnya dilaksanakan si pemegang otoritas itu harus diberi imbalan atas jasanya membereskan tugasnya. Padahal ketika dia hendak mulai mengemban tugasnya dia telah bersumpah jabatan, akan melaksanakan tugasnya (sesuai ketentuan/undang-undang), tanpa disuap dulu. Berarti itu memang tugasnya, dan dia digaji untuk itu.
Jadi kalau dia meminta lagi, berarti dia meminta uang lain lagi. Maka terang dia yang salah, melanggar sumpahnya. Kan dia yang justru paling salah. Paling harus dihukum.
Ada yg bilang di negara lain si Peminta itu yang dihukum mati. Bukan si Pemberi. Kalau itu dilakukan apa ada lagi yang berani meminta? Si Pemberi mau memberi kepada siapa kalau yang menerima tidak ada yang berani lagi?
Padahal kenyataan di lapangan kita semua tahu yang ada adalah pola "Peminta - Pemberi". Pemberi itu kan terpaksa memberi, agar urusannya beres (tugas si pengemban otoritas dilaksanakan).
Peminta (peminta-minta) itu sebenarnya yang inisiator, atau setidaknya dipermaklumkan bahwa hendaklah semua orang tahu bahwa si pemikul tanggung-jawab pekerjaan (pemegang otoritas) harus disuap dulu.
Atau semua harus tahu bahwa kelak bila tugasnya dilaksanakan si pemegang otoritas itu harus diberi imbalan atas jasanya membereskan tugasnya. Padahal ketika dia hendak mulai mengemban tugasnya dia telah bersumpah jabatan, akan melaksanakan tugasnya (sesuai ketentuan/undang-undang), tanpa disuap dulu. Berarti itu memang tugasnya, dan dia digaji untuk itu.
Jadi kalau dia meminta lagi, berarti dia meminta uang lain lagi. Maka terang dia yang salah, melanggar sumpahnya. Kan dia yang justru paling salah. Paling harus dihukum.
Ada yg bilang di negara lain si Peminta itu yang dihukum mati. Bukan si Pemberi. Kalau itu dilakukan apa ada lagi yang berani meminta? Si Pemberi mau memberi kepada siapa kalau yang menerima tidak ada yang berani lagi?
Wednesday, November 24, 2010
Proses pelahiran seorang tokoh/pemimpin
Di tengah hiruk pikuk abnormalnya negara, entah mengapa pikiran saya terarah kepada proses pelahiran seorang tokoh/pemimpin.
Saat ini rakyat sedang menyaksikan suatu perjalanan panjang terpilihnya pemimpin KPK karena Antasari Anshar (pemimpin KPK sebelumnya) tervonis secara hukum. Kandidat terpilih ada dua orang. Secara hati kita cukup terharu (seperti biasanya bagaimana seorang tokoh akan terpilih di negara ini, karena kita sebagai rakyat selalu merindukan sosok yang kita harapkan mampu menjadi pemimpin kita), bahwa rasanya kredibilitas siapapun yang akan terpilih ini kelihatannya cukup menjanjikan.
Akan tetapi betapa sedihnya saya barusan, ketika melihat suatu tayangan dari salah satu stasiun TV yang menampilkan salah satu dari kandidat yang diadu dengan seorang lawyer kawakan. Acara ini sendiri dipandu oleh salah satu penyiar kawakan dari stasiun TV tersebut.
Penyiar mencoba membangun suatu kontoversi yang membuat salah satu kandidat pemimpin KPK pada posisi berseberangan dengan lawyer kawakan tersebut. Semua dimulai dari titik berangkat bahwa sesungguhnya pekerjaan sehari-hari keduanya sebenarnya adalah lawyer.
Saya sebetulnya selama ini termasuk seorang yang sangat tidak suka dengan gaya bicara, lagak dan opini-opini si lawyer kawakan, walaupun dia kebetulan satu suku dengan saya. Lawyer kawakan ini selalu membuat saya merasa terganggu selama ini dengan segala tutur sikap, bicara dan gayanya.
Di awal perseberangan sepertinya terlihat bahwa kandidat ketua KPK itu memukul telak si lawyer karena gayanya yang santun dan elegan.
Akan tetapi si calon ketua KPK mulai memukul si lawyer dengan kata-kata yang menurut saya kasar (walaupun dengan gaya yang kelihatannya sopan) bahwa si lawyer sedang menjalankan "stategi neraka", dan si calket KPK (secara konsekuensi pembicaraan berada pada strategi sorga). Di sinilah terlihat belangnya si calket KPK itu. Menurut saya dia tidak perlu mencaci (maaf sekali lagi, walaupun dengan gaya sok santun dengan suara mendayu sesuai kekhasannya). Menurut saya buat apa dia harus memukul orang lain dan menepuk dada seolah dia orang paling baik di dunia ini.
Si lawyer kontroversial itu tentu saja bereaksi dengan gaya khasnya yang tengil tetapi sangat intelektual dan sangat membuktikan bahwa dia seorang yang sangat profesional. Semua yang dinyatakan oleh si calket KPK dimentahkan oleh si lawyer dengan baik sekali. Konstelasi pencacian terhadap dirinya justru dibalikkan oleh si lawyer menjadi suatu ajang untuk mengejek kemunafikan si calket KPK. Saya sungguh terbelalak melihat hal ini. Meskipun si lawyer orang yang selama tidak saya sukai, justru pada malam ini saya jelas berpihak pada si lawyer. Bukan karena unsur primordialisme (tokh dari dulu saya tidak pernah suka pada si lawyer), tapi semata karena logikalah keberpihakan saya tertuju pada si lawyer.
Merasa sudah tersudut, si calket KPK mulai lagi dengan pembelaan yang sangat fals mencoba menyatakan dirinya pada sudut moral dan menyebut si lawyer terkenal pada sisi/pemikiran profesional (yang katanya sangat antagonis dan tidak bisa dengan mudah diperbandingkan). Tentulah di sini si calket KPK secara obyektif sudah kalah karena mereka sebenarnya mereka seprofesi, tapi gelar profesional sudah diberikannya pada lawan yang dicercanya dalam pembicaraan). Lalu makin munafiklah saya lihat ketertelanjangan si calket KPK itu. Jelaslah dia sudah main subyektivitas dengan mengelakkan konstelasi (buktinya dia kerutkan posisi menjadi moral vs profesionalisme, berarti dia sudah mengaku kalah secara profesi bahwa di antara kedua lawyer ini si lawyer kawakanlah yang disebutnya pada posisi profesional). Kalau dalam tinju sebenarnya dia sendiri yang sudah melempar handuk, tapi berlagak masih mau main.
Sebagai dalih untuk tidak mau kalah (karena munafik dan sifat ngeyel rupanya ciri khasnya), dikatakannya dia berada pada sisi moral. Mata yang tajam sebenarnya tentu melihat bahwa dia sudah menarik pembicaraan pada sentimen yang ada padanya. Dia merasa sistem sentimen yang dimilikinya yang lebih hebat (dari si lawyer). Kekecewaan saya makin mantap ketika saya lihat si penyiarpun sepertinya sudah lebih pula berpihak pada si calket KPK yang munafik itu. Lucu sekali segera terlihat bahwa si penyiar memberi pertanyaan atau tanggapan otomatis (terlihat dari cara bicara, gaya tubuh dan gaya matanya) yang lebih memihak pada si munafik. Mengapa? Sistem sentimen!
Sistem sentimen si penyiar lebih mirip dengan sistem sentimen si munafik.
Untunglah si lawyer kawakan pandai menempatkan dirinya dan terus mengepung dengan profesionalismenya. Sehingga ketika si penyiar menutup acaranya dia seolah juga ikut kalah.
Itulah titik penting olah pikir saya tentang terlahirnya seorang pemimpin di negara ini. Saya memakai kata pelahiran dan bukan kelahiran, karena istilah pelahiran menurut saya lebih menyiratkan peran dominan pihak lain dalam proses terlahirnya sesuatu. Baru saya sadar betapa kacaunya negeri ini. Para pemimpin yang lahir dari suatu seleksi yang mulanya selalu kita pikir bagus atau demokratislah atau sesuai undang-undanglah dsb, padahal sesungguhnya semu dan penuh rekayasa. Pantaslah lahir pemimpin-pemimpin semu. Pemilihan ketua KPK baru juga saya sadari sebenarnya tidak jauh dari pelahiran yang penuh rekayasa juga. Apalagi sebabnya kalau bukan sentimen-sentimen yang itu-itu juga.
Di Amerika, Eropa Barat yang maju, Jepang dan sebagainya selalu pelahiran seorang tokoh/pemimpin ditandai dengan upaya untuk meminimasi rekayasa. Dieliminirlah politik uang (walaupun tentu tidak 100% hilang, tapi sangat penuh konsekuensi untuk kasus yang jelas sudah telanjang), dieliminirlah unsur sentimen pribadi (lihatlah Obama yang kulit hitam bisa menjadi presiden AS), dsb.
Pelahiran lebih mengutamakan evaluasi atas program yang akan dijalankan. Bukan dengan melihat pada titik mana seorang calon berdiri yang sarat dengan aroma sistem sentimen. Kalau yang terakhir ini dipakai, maka orang akan fanatik dengan calon mana yang sistem sentimennya sama, jadi tidak obyektif lagi.
Di negara yang disebut demokratis, terbukti bahwa seseorang bisa memilih calon yang berbeda sistem sentimennya dengan dia karena terlihat bahwa program calon tersebut lebih masuk di akalnya dan jelas lebih berpihak kepadanya.
Jelaslah di halaman kita selama ini lahir pemimpin-pemimpin semu. Jelaslah penyebab hiruk pikuk semua keadaan dengan segala keabnormalannya. Kasihan negeri ini!
Saat ini rakyat sedang menyaksikan suatu perjalanan panjang terpilihnya pemimpin KPK karena Antasari Anshar (pemimpin KPK sebelumnya) tervonis secara hukum. Kandidat terpilih ada dua orang. Secara hati kita cukup terharu (seperti biasanya bagaimana seorang tokoh akan terpilih di negara ini, karena kita sebagai rakyat selalu merindukan sosok yang kita harapkan mampu menjadi pemimpin kita), bahwa rasanya kredibilitas siapapun yang akan terpilih ini kelihatannya cukup menjanjikan.
Akan tetapi betapa sedihnya saya barusan, ketika melihat suatu tayangan dari salah satu stasiun TV yang menampilkan salah satu dari kandidat yang diadu dengan seorang lawyer kawakan. Acara ini sendiri dipandu oleh salah satu penyiar kawakan dari stasiun TV tersebut.
Penyiar mencoba membangun suatu kontoversi yang membuat salah satu kandidat pemimpin KPK pada posisi berseberangan dengan lawyer kawakan tersebut. Semua dimulai dari titik berangkat bahwa sesungguhnya pekerjaan sehari-hari keduanya sebenarnya adalah lawyer.
Saya sebetulnya selama ini termasuk seorang yang sangat tidak suka dengan gaya bicara, lagak dan opini-opini si lawyer kawakan, walaupun dia kebetulan satu suku dengan saya. Lawyer kawakan ini selalu membuat saya merasa terganggu selama ini dengan segala tutur sikap, bicara dan gayanya.
Di awal perseberangan sepertinya terlihat bahwa kandidat ketua KPK itu memukul telak si lawyer karena gayanya yang santun dan elegan.
Akan tetapi si calon ketua KPK mulai memukul si lawyer dengan kata-kata yang menurut saya kasar (walaupun dengan gaya yang kelihatannya sopan) bahwa si lawyer sedang menjalankan "stategi neraka", dan si calket KPK (secara konsekuensi pembicaraan berada pada strategi sorga). Di sinilah terlihat belangnya si calket KPK itu. Menurut saya dia tidak perlu mencaci (maaf sekali lagi, walaupun dengan gaya sok santun dengan suara mendayu sesuai kekhasannya). Menurut saya buat apa dia harus memukul orang lain dan menepuk dada seolah dia orang paling baik di dunia ini.
Si lawyer kontroversial itu tentu saja bereaksi dengan gaya khasnya yang tengil tetapi sangat intelektual dan sangat membuktikan bahwa dia seorang yang sangat profesional. Semua yang dinyatakan oleh si calket KPK dimentahkan oleh si lawyer dengan baik sekali. Konstelasi pencacian terhadap dirinya justru dibalikkan oleh si lawyer menjadi suatu ajang untuk mengejek kemunafikan si calket KPK. Saya sungguh terbelalak melihat hal ini. Meskipun si lawyer orang yang selama tidak saya sukai, justru pada malam ini saya jelas berpihak pada si lawyer. Bukan karena unsur primordialisme (tokh dari dulu saya tidak pernah suka pada si lawyer), tapi semata karena logikalah keberpihakan saya tertuju pada si lawyer.
Merasa sudah tersudut, si calket KPK mulai lagi dengan pembelaan yang sangat fals mencoba menyatakan dirinya pada sudut moral dan menyebut si lawyer terkenal pada sisi/pemikiran profesional (yang katanya sangat antagonis dan tidak bisa dengan mudah diperbandingkan). Tentulah di sini si calket KPK secara obyektif sudah kalah karena mereka sebenarnya mereka seprofesi, tapi gelar profesional sudah diberikannya pada lawan yang dicercanya dalam pembicaraan). Lalu makin munafiklah saya lihat ketertelanjangan si calket KPK itu. Jelaslah dia sudah main subyektivitas dengan mengelakkan konstelasi (buktinya dia kerutkan posisi menjadi moral vs profesionalisme, berarti dia sudah mengaku kalah secara profesi bahwa di antara kedua lawyer ini si lawyer kawakanlah yang disebutnya pada posisi profesional). Kalau dalam tinju sebenarnya dia sendiri yang sudah melempar handuk, tapi berlagak masih mau main.
Sebagai dalih untuk tidak mau kalah (karena munafik dan sifat ngeyel rupanya ciri khasnya), dikatakannya dia berada pada sisi moral. Mata yang tajam sebenarnya tentu melihat bahwa dia sudah menarik pembicaraan pada sentimen yang ada padanya. Dia merasa sistem sentimen yang dimilikinya yang lebih hebat (dari si lawyer). Kekecewaan saya makin mantap ketika saya lihat si penyiarpun sepertinya sudah lebih pula berpihak pada si calket KPK yang munafik itu. Lucu sekali segera terlihat bahwa si penyiar memberi pertanyaan atau tanggapan otomatis (terlihat dari cara bicara, gaya tubuh dan gaya matanya) yang lebih memihak pada si munafik. Mengapa? Sistem sentimen!
Sistem sentimen si penyiar lebih mirip dengan sistem sentimen si munafik.
Untunglah si lawyer kawakan pandai menempatkan dirinya dan terus mengepung dengan profesionalismenya. Sehingga ketika si penyiar menutup acaranya dia seolah juga ikut kalah.
Itulah titik penting olah pikir saya tentang terlahirnya seorang pemimpin di negara ini. Saya memakai kata pelahiran dan bukan kelahiran, karena istilah pelahiran menurut saya lebih menyiratkan peran dominan pihak lain dalam proses terlahirnya sesuatu. Baru saya sadar betapa kacaunya negeri ini. Para pemimpin yang lahir dari suatu seleksi yang mulanya selalu kita pikir bagus atau demokratislah atau sesuai undang-undanglah dsb, padahal sesungguhnya semu dan penuh rekayasa. Pantaslah lahir pemimpin-pemimpin semu. Pemilihan ketua KPK baru juga saya sadari sebenarnya tidak jauh dari pelahiran yang penuh rekayasa juga. Apalagi sebabnya kalau bukan sentimen-sentimen yang itu-itu juga.
Di Amerika, Eropa Barat yang maju, Jepang dan sebagainya selalu pelahiran seorang tokoh/pemimpin ditandai dengan upaya untuk meminimasi rekayasa. Dieliminirlah politik uang (walaupun tentu tidak 100% hilang, tapi sangat penuh konsekuensi untuk kasus yang jelas sudah telanjang), dieliminirlah unsur sentimen pribadi (lihatlah Obama yang kulit hitam bisa menjadi presiden AS), dsb.
Pelahiran lebih mengutamakan evaluasi atas program yang akan dijalankan. Bukan dengan melihat pada titik mana seorang calon berdiri yang sarat dengan aroma sistem sentimen. Kalau yang terakhir ini dipakai, maka orang akan fanatik dengan calon mana yang sistem sentimennya sama, jadi tidak obyektif lagi.
Di negara yang disebut demokratis, terbukti bahwa seseorang bisa memilih calon yang berbeda sistem sentimennya dengan dia karena terlihat bahwa program calon tersebut lebih masuk di akalnya dan jelas lebih berpihak kepadanya.
Jelaslah di halaman kita selama ini lahir pemimpin-pemimpin semu. Jelaslah penyebab hiruk pikuk semua keadaan dengan segala keabnormalannya. Kasihan negeri ini!
Monday, August 16, 2010
Rapat-rapat dimulai pukul 10.00
Setiap tahun peringatan detik-detik Proklamasi di istana dilaksanakan mulai pukul 10 pagi. Kalau tidak salah karena memang pada tahun 1945 yang lalu itu Proklamasi kemerdekaan negara RI dilaksanakan pukul 10 pagi di Jl. Pegangsaan Timur (sekarang Jl. Proklamasi) No.56.
Kalau saya membaca dokumen-dokumen sejarah, saya juga mendapati bahwa rapat-rapat PPKI/BPUPKI sebelum kemerdekaan itu dimulai kebanyakan pukul 10 pagi.
Entah apa persisnya sebabnya, pada masa-masa sekarang ini sayapun mendapati bahwa rapat-rapat di banyak sekali kantor, terutama kantor pemerintahan dimulai pukul 10 pagi.
Menurut hemat saya kita perlu untuk memperbaiki ini.
Nomor satu, rapat pukul 10 bisa membuat waktu pagi sebelum pukul/jam 10 pagi menjadi terbuang sia-sia. Untuk kantor yang mulai dibuka jam 8 pagi (umumnya kantor di Indonesia), para pegawai yang akan rapat jam 10, pikirannya sudah lebih terfokus pada rapat yang akan diadakan pukul 10. Untuk mengerjakan sesuatu sebelum jam 10 rasanya tanggung. Kalau memang ada yang dikerjakan sebelum pukul 10 maka pekerjaan tersebut dilakukan tergesa-gesa karena sebentar lagi rapat akan dimulai. Terlebih-lebih mereka yang punya hirarki cukup tinggi, mudah sekali untuk terjebak mencepat-cepatkan urusan dengan alasan sebentar lagi akan rapat. Keadaan menjadi tidak baik bila pekerjaan pra jam 10 ternyata belum/selesai jam 10, maka besar sekali kemungkinan akan terlambat datang ke rapat jam 10 yang telah diskedulkan.
Untuk tenangnya menjelang rapat, banyak sekali pegawai saya temui hanya killing time dengan aktivitas apa saja yang tidak produktif.
Nomor dua, rapat jam 10 adalah sangat riskan menyentuh jam 12 siang. Ini berarti harus disiapkan makan siang bila sudah menjelang jam 12. Dana rapat akan membengkak (anti penghematan), dan beberapa pegawai bawahan bisa terganggun mengerjakan tugasnya kalau diminta membantu mempersiapkan makan siang rapat.
Keadaan menjadi makin rumit bila rapat diadakan hari Jumat, karena jam 11.30an banyak yang harus bersiap akan menjalankan sembahyang Jumat. Betapa makin tidak efisiennya lagi rapat hari Jumat bila banyak peserta rapat terlambat datang ketika jam 10 rapat akan dimulai.
Rapat-rapat yang diteruskan setelah makan siang sering juga saya lihat menjadi rapat yang tidak bersemangat lagi karena orang yang kenyang (baru makan) mulai mengantuk. Penyakit orang Indonesia adalah tidak bisa menahan kantuk dan agak tidak perduli untuk tidur di dalam rapat.
Rapat jam 10 juga menyebabkan sejumlah orang (terutama hirarki tinggi) bahkan dari rumah sengaja melambatkan berangkat ke kantor atau pergi dulu kemana-mana, baru langsung menuju ke tempat rapat jam 10. Syukur kalau tidak terlambat. Syukur pula kalau tidak sesudah rapat pergi lagi keluar kantor entah kemana.
Rapat jam 10 juga secara psikologis membuat bawahan cenderung datang terlambat. Dalam pikiran mereka tokh baru mendekati jam 10 nanti bosnya baru datang.
Saya mengusulkan rapat dimulai sesuai dimulainya jam kantor. Jam 8 untuk kantor yang mulai jam 8, atau jam 9 untuk kantor yang mulai jam 9. Tidak usahlah kita bahas kantor yang mulai jam 10.
Memang untuk rapat yang peserta rapatnya multi kantor agak bisa diterima bila rapat dimulai jam 10 pagi, dengan alasan datang sebentar ke kantor sendiri dulu baru jam 10 di kantor lain tempat rapat diadakan. Tetapi bila dikaji masak-masak, sebenarnya langsung juga mulai jam 8 rapat di kantor lain tidak masalah. Itu cuma pengaturan yang baik. Urusan kantor sendiri bisa saja digeser ke jam sesudah rapat selesai.
Pengalaman saya ketika menjadi pimpinan di pekerjaan profesional (masa-masa sebelum saya memutuskan bekerja sebagai dosen), saya selalu mengatur rapat di waktu pagi (kalau tidak ada yang terlalu memaksa, dimulai jam 8).
Alangkah enaknya rapat di waktu pagi. Pikiran masih jernih, fisik masih prima, batin masih enteng.
Saya sangat mencela pengambil keputusan yang senang membuat rapat jam 2 atau 3 sore. Rapat jam 3 cenderung diikuti banyak peserta yang terlambat karena berbagai urgensi pekerjaan yang telah dimulai dan harus diakhiri sebelum rapat. Biasanya sudah tidak terlalu semangat lagi meneruskan pekerjaan sesudah rapat, apalagi rapat panjang sampai jam 5, 6 sore atau lebih malam.
Sepengamatan saya kebanyakan mereka yang memutuskan rapat jam 3 adalah orang-orang yang kurang bisa memanage/mengelola waktu. Walaupun tidak semua, tetapi saya amati kebanyakan mereka adalah orang yang cenderung datang terlambat ke kantor. Mereka juga adalah tipe orang yang senang mengisi waktu pagi yang cerah dengan banyak telepon, canda ceria, urusan pribadi, menunda sejumlah pekerjaan kemarin sore untuk diteruskan pagi keesokan harinya dan lain sebagainya. Saat-saat sekarang ini banyak yang harus buka facebook dulu di waktu pagi (dulu e-mail). Inipun saya lihat memang ada yang berhubungan dengan pekerjaan, tetapi sulit juga mereka menghindar dari bercanda di antara secuil hal yang katakanlah agak penting. Kalau dicermati benar-benar dan mereka mau jujur, saya amati sebenarnya banyak sekali kegiatan mereka di waktu pagi sebenarnya sangat tidak efektif.
Saya sering berpikir, bukankah lebih baik kita mulai rapat di pagi hari di mana kita masih segar secara fisik maupun pikiran? Bukankah setelah itu pekerjaan rutin kita akan kita kerjakan dengan tanpa hambatan? Lagipula sudah saya nikmati benar ketika saya memimpin beberapa kegiatan, semua orang menjadi sangat jelas akan apa yang akan dilaksanakan ketika semua sudah dibicarakan dengan matang di dalam rapat pagi hari. Bila rapat diadakan sore hari yang terjadi adalah kebalikannya, orang jadi meraba-raba apakah yang dilakukannya sudah benar.
Rapat yang dilakukan sore hari juga menjadi hal yang kurang konstruktif bila sebelum rapat kita sempat pada hari itu telah melewati sebuah silang pendapat, debat, cela, ketersinggungan dan lain sebagainya, terutama dengan rekan kita.
Bagaimana, maukah kita mengelola waktu bekerja kita lebih baik?
Kalau saya membaca dokumen-dokumen sejarah, saya juga mendapati bahwa rapat-rapat PPKI/BPUPKI sebelum kemerdekaan itu dimulai kebanyakan pukul 10 pagi.
Entah apa persisnya sebabnya, pada masa-masa sekarang ini sayapun mendapati bahwa rapat-rapat di banyak sekali kantor, terutama kantor pemerintahan dimulai pukul 10 pagi.
Menurut hemat saya kita perlu untuk memperbaiki ini.
Nomor satu, rapat pukul 10 bisa membuat waktu pagi sebelum pukul/jam 10 pagi menjadi terbuang sia-sia. Untuk kantor yang mulai dibuka jam 8 pagi (umumnya kantor di Indonesia), para pegawai yang akan rapat jam 10, pikirannya sudah lebih terfokus pada rapat yang akan diadakan pukul 10. Untuk mengerjakan sesuatu sebelum jam 10 rasanya tanggung. Kalau memang ada yang dikerjakan sebelum pukul 10 maka pekerjaan tersebut dilakukan tergesa-gesa karena sebentar lagi rapat akan dimulai. Terlebih-lebih mereka yang punya hirarki cukup tinggi, mudah sekali untuk terjebak mencepat-cepatkan urusan dengan alasan sebentar lagi akan rapat. Keadaan menjadi tidak baik bila pekerjaan pra jam 10 ternyata belum/selesai jam 10, maka besar sekali kemungkinan akan terlambat datang ke rapat jam 10 yang telah diskedulkan.
Untuk tenangnya menjelang rapat, banyak sekali pegawai saya temui hanya killing time dengan aktivitas apa saja yang tidak produktif.
Nomor dua, rapat jam 10 adalah sangat riskan menyentuh jam 12 siang. Ini berarti harus disiapkan makan siang bila sudah menjelang jam 12. Dana rapat akan membengkak (anti penghematan), dan beberapa pegawai bawahan bisa terganggun mengerjakan tugasnya kalau diminta membantu mempersiapkan makan siang rapat.
Keadaan menjadi makin rumit bila rapat diadakan hari Jumat, karena jam 11.30an banyak yang harus bersiap akan menjalankan sembahyang Jumat. Betapa makin tidak efisiennya lagi rapat hari Jumat bila banyak peserta rapat terlambat datang ketika jam 10 rapat akan dimulai.
Rapat-rapat yang diteruskan setelah makan siang sering juga saya lihat menjadi rapat yang tidak bersemangat lagi karena orang yang kenyang (baru makan) mulai mengantuk. Penyakit orang Indonesia adalah tidak bisa menahan kantuk dan agak tidak perduli untuk tidur di dalam rapat.
Rapat jam 10 juga menyebabkan sejumlah orang (terutama hirarki tinggi) bahkan dari rumah sengaja melambatkan berangkat ke kantor atau pergi dulu kemana-mana, baru langsung menuju ke tempat rapat jam 10. Syukur kalau tidak terlambat. Syukur pula kalau tidak sesudah rapat pergi lagi keluar kantor entah kemana.
Rapat jam 10 juga secara psikologis membuat bawahan cenderung datang terlambat. Dalam pikiran mereka tokh baru mendekati jam 10 nanti bosnya baru datang.
Saya mengusulkan rapat dimulai sesuai dimulainya jam kantor. Jam 8 untuk kantor yang mulai jam 8, atau jam 9 untuk kantor yang mulai jam 9. Tidak usahlah kita bahas kantor yang mulai jam 10.
Memang untuk rapat yang peserta rapatnya multi kantor agak bisa diterima bila rapat dimulai jam 10 pagi, dengan alasan datang sebentar ke kantor sendiri dulu baru jam 10 di kantor lain tempat rapat diadakan. Tetapi bila dikaji masak-masak, sebenarnya langsung juga mulai jam 8 rapat di kantor lain tidak masalah. Itu cuma pengaturan yang baik. Urusan kantor sendiri bisa saja digeser ke jam sesudah rapat selesai.
Pengalaman saya ketika menjadi pimpinan di pekerjaan profesional (masa-masa sebelum saya memutuskan bekerja sebagai dosen), saya selalu mengatur rapat di waktu pagi (kalau tidak ada yang terlalu memaksa, dimulai jam 8).
Alangkah enaknya rapat di waktu pagi. Pikiran masih jernih, fisik masih prima, batin masih enteng.
Saya sangat mencela pengambil keputusan yang senang membuat rapat jam 2 atau 3 sore. Rapat jam 3 cenderung diikuti banyak peserta yang terlambat karena berbagai urgensi pekerjaan yang telah dimulai dan harus diakhiri sebelum rapat. Biasanya sudah tidak terlalu semangat lagi meneruskan pekerjaan sesudah rapat, apalagi rapat panjang sampai jam 5, 6 sore atau lebih malam.
Sepengamatan saya kebanyakan mereka yang memutuskan rapat jam 3 adalah orang-orang yang kurang bisa memanage/mengelola waktu. Walaupun tidak semua, tetapi saya amati kebanyakan mereka adalah orang yang cenderung datang terlambat ke kantor. Mereka juga adalah tipe orang yang senang mengisi waktu pagi yang cerah dengan banyak telepon, canda ceria, urusan pribadi, menunda sejumlah pekerjaan kemarin sore untuk diteruskan pagi keesokan harinya dan lain sebagainya. Saat-saat sekarang ini banyak yang harus buka facebook dulu di waktu pagi (dulu e-mail). Inipun saya lihat memang ada yang berhubungan dengan pekerjaan, tetapi sulit juga mereka menghindar dari bercanda di antara secuil hal yang katakanlah agak penting. Kalau dicermati benar-benar dan mereka mau jujur, saya amati sebenarnya banyak sekali kegiatan mereka di waktu pagi sebenarnya sangat tidak efektif.
Saya sering berpikir, bukankah lebih baik kita mulai rapat di pagi hari di mana kita masih segar secara fisik maupun pikiran? Bukankah setelah itu pekerjaan rutin kita akan kita kerjakan dengan tanpa hambatan? Lagipula sudah saya nikmati benar ketika saya memimpin beberapa kegiatan, semua orang menjadi sangat jelas akan apa yang akan dilaksanakan ketika semua sudah dibicarakan dengan matang di dalam rapat pagi hari. Bila rapat diadakan sore hari yang terjadi adalah kebalikannya, orang jadi meraba-raba apakah yang dilakukannya sudah benar.
Rapat yang dilakukan sore hari juga menjadi hal yang kurang konstruktif bila sebelum rapat kita sempat pada hari itu telah melewati sebuah silang pendapat, debat, cela, ketersinggungan dan lain sebagainya, terutama dengan rekan kita.
Bagaimana, maukah kita mengelola waktu bekerja kita lebih baik?
Wednesday, August 11, 2010
Transportasi terbang secara pribadi
Menurut saya tidak akan lama lagi akan segera dioperasikan secara luas alat semacam jet yang akan mengangkat kita secara pribadi (tandem satu duaan orang) ke udara. Seperti yang kita lihat di film James Bond di masa lalu.
Kita akan bepergian ke sana dan ke mari dengan alat tersebut.
Polisi-polisi jalan udara akan sangat sibuk mengatur di atas sana para pengendara jet pribadi tersebut. Pengaturan sangat perlu, baik secara jalur maupun secara ketinggian. Kalau tidak akan terjadi tabrakan antar pengendara jet pribadi.
Di udara kita bisa bertemu dan mungkin bisa bercengkerama dengan orang yang kita kenal.
Bila di darat orang bertanya kepada kita di mana kita bertemu seseorang yang kita laporkan baru kita temui, akan kita jawab: di udara, tadi.
Mobil-mobilpun akan dengan perlengkapan jet naik semua ke udara. Udara akan bertambah hiruk pikuk.
Masih perlukan ban mobil dan jalan-jalan raya? Mungkin masih perlu juga karena tetap dipelihara kemungkinan bahwa mobil dengan tenaga jet itu dalam keadaan tidak urgent akan tetap jalan di jalan raya.
Mungkin yang tidak naik ke udara adalah kereta api.
Mungkin kapal laut pesiar atau dengan tonase besarpun tidak.
Mari kita lihat!
Kita akan bepergian ke sana dan ke mari dengan alat tersebut.
Polisi-polisi jalan udara akan sangat sibuk mengatur di atas sana para pengendara jet pribadi tersebut. Pengaturan sangat perlu, baik secara jalur maupun secara ketinggian. Kalau tidak akan terjadi tabrakan antar pengendara jet pribadi.
Di udara kita bisa bertemu dan mungkin bisa bercengkerama dengan orang yang kita kenal.
Bila di darat orang bertanya kepada kita di mana kita bertemu seseorang yang kita laporkan baru kita temui, akan kita jawab: di udara, tadi.
Mobil-mobilpun akan dengan perlengkapan jet naik semua ke udara. Udara akan bertambah hiruk pikuk.
Masih perlukan ban mobil dan jalan-jalan raya? Mungkin masih perlu juga karena tetap dipelihara kemungkinan bahwa mobil dengan tenaga jet itu dalam keadaan tidak urgent akan tetap jalan di jalan raya.
Mungkin yang tidak naik ke udara adalah kereta api.
Mungkin kapal laut pesiar atau dengan tonase besarpun tidak.
Mari kita lihat!
Brongsongan
Menyermati keadaan udara yang semakin buruk di dunia ini, di masa datang rasanya kita semua (setidaknya di Jakarta-yang saat ini saja sudah tidak memenuhi syarat lagi kebersihan udaranya) akan memakai semacam brongsongan (masker) zat asam.
Setiap kita akan secara periodik membeli refill zat asam di pinggir jalan apabila zat asam di brongsongan/masker kita telah akan habis.
Setiap kita akan secara periodik membeli refill zat asam di pinggir jalan apabila zat asam di brongsongan/masker kita telah akan habis.
Monday, June 21, 2010
Mencerdaskan kehidupan bangsa
Yang ditulis dalam pembukaan UUD 45 kita adalah "mencerdaskan kehidupan bangsa".
Jadi "kehidupan bangsa" itulah yang perlu dicerdaskan.
Mengikuti hukum DM (Diterangkan-Menerangkan), maka D nya "kehidupan". M nya "bangsa". Yang penting? D nya, yaitu "kehidupan". (Sama seperti "mobil hitam", "mobil"nya yang penting. Bukan "hitam"nya. "Hitam"nya adalah sekunder, bertugas menerangkan "mobil". Mendorong mobil hitam artinya mendorong mobil, bukan mendorong hitam.
Itu berarti bukan semua orang Indonesia dengan secepatnya dibuat menjadi sarjana, tetapi "perikehidupan" orang Indonesia yang perlu dicerdaskan. Itupun bukan berarti orang Indonesia yang sudah sarjana adalah bangsa yang cerdas. Banyak sekali sarjana strata tertinggi rusak moralnya.
Tidakpun seseorang menjadi sarjana, apabila dia telah memaknai dan melaksanakan dengan baik hakekat kehidupan berbangsa, dia telah menjadi unsur pembentuk kehidupan bangsa yang cerdas.
Ciri-ciri kehidupan bangsa yang cerdas? Di antaranya yang penting: sopan/hormat dan tertib, menjunjung tinggi permufakatan, meletakkan nilai-nilai subyektif/pribadi di bawah nilai-nilai kebersamaan yang sudah disepakati, melaksanakan semua ketentuan dari otoritas yang ada (lalu lintas, disiplin organisasi, disiplin kemasyarakatan), menyadari bahwa tidak ada yang homogen (yang benar adalah "di mana-mana selalu ada perbedaan"), menyadari bahwa fungsi mayoritas justru adalah membela minoritas, menyetop semua perbuatan/tindakannya yang merendahkan/mengurangi/menghilangkan hak orang lain, menghargai pendapat yang berbeda, menghormati antrian.
Di "sana" yang kehidupan bangsanya telah cerdas, orang berpikir untuk kebaikan kehidupan masyarakatnya. Membuang sampah ke tempatnya. Bertanggung jawab untuk kebersihan lingkungannya. Tidak melanggar lalu lintas walaupun tidak ada polisi. Antri pada jalurnya. Committed kepada keadilan dan hukum, taat membayar pajak. Menyetop segala hal yang berasal dari dirinya yang bisa mengganggu tetangganya. Berjalan kaki di sisi yang seharusnya (tidak sembrono kemana dia suka). Malu dan bertanggung jawab atas kegagalan menjalankan apa yang seharusnya dilakukan. Menghormati orang yang berbeda sistem nilainya, berbeda alirannya, berbeda fisiknya. Ramai-ramai kompak menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan. Menangkap pencuri untuk diserahkan pada yang berwajib, bukan untuk disiksa dan main hakim sendiri. Mencintai keragamannya untuk membuktikan betapa hebatnya muncul secara bersama sebagai suatu bangsa.
Mari kita berjuang, Bangsa Indonesia!
Jadi "kehidupan bangsa" itulah yang perlu dicerdaskan.
Mengikuti hukum DM (Diterangkan-Menerangkan), maka D nya "kehidupan". M nya "bangsa". Yang penting? D nya, yaitu "kehidupan". (Sama seperti "mobil hitam", "mobil"nya yang penting. Bukan "hitam"nya. "Hitam"nya adalah sekunder, bertugas menerangkan "mobil". Mendorong mobil hitam artinya mendorong mobil, bukan mendorong hitam.
Itu berarti bukan semua orang Indonesia dengan secepatnya dibuat menjadi sarjana, tetapi "perikehidupan" orang Indonesia yang perlu dicerdaskan. Itupun bukan berarti orang Indonesia yang sudah sarjana adalah bangsa yang cerdas. Banyak sekali sarjana strata tertinggi rusak moralnya.
Tidakpun seseorang menjadi sarjana, apabila dia telah memaknai dan melaksanakan dengan baik hakekat kehidupan berbangsa, dia telah menjadi unsur pembentuk kehidupan bangsa yang cerdas.
Ciri-ciri kehidupan bangsa yang cerdas? Di antaranya yang penting: sopan/hormat dan tertib, menjunjung tinggi permufakatan, meletakkan nilai-nilai subyektif/pribadi di bawah nilai-nilai kebersamaan yang sudah disepakati, melaksanakan semua ketentuan dari otoritas yang ada (lalu lintas, disiplin organisasi, disiplin kemasyarakatan), menyadari bahwa tidak ada yang homogen (yang benar adalah "di mana-mana selalu ada perbedaan"), menyadari bahwa fungsi mayoritas justru adalah membela minoritas, menyetop semua perbuatan/tindakannya yang merendahkan/mengurangi/menghilangkan hak orang lain, menghargai pendapat yang berbeda, menghormati antrian.
Di "sana" yang kehidupan bangsanya telah cerdas, orang berpikir untuk kebaikan kehidupan masyarakatnya. Membuang sampah ke tempatnya. Bertanggung jawab untuk kebersihan lingkungannya. Tidak melanggar lalu lintas walaupun tidak ada polisi. Antri pada jalurnya. Committed kepada keadilan dan hukum, taat membayar pajak. Menyetop segala hal yang berasal dari dirinya yang bisa mengganggu tetangganya. Berjalan kaki di sisi yang seharusnya (tidak sembrono kemana dia suka). Malu dan bertanggung jawab atas kegagalan menjalankan apa yang seharusnya dilakukan. Menghormati orang yang berbeda sistem nilainya, berbeda alirannya, berbeda fisiknya. Ramai-ramai kompak menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan. Menangkap pencuri untuk diserahkan pada yang berwajib, bukan untuk disiksa dan main hakim sendiri. Mencintai keragamannya untuk membuktikan betapa hebatnya muncul secara bersama sebagai suatu bangsa.
Mari kita berjuang, Bangsa Indonesia!
Pengumpul sertifikat
Salah satu kesalahan fatal dari kita bermasyarakat adalah disambungkannya sertifikat pencapaian suatu kemampuan dengan hirarki jabatan dalam organisasi. Wujud nyatanya misalnya untuk jabatan tertentu di suatu organisasi dipersyaratkan harus sarjana, S2, S3 dan sebagainya. Apalagi kalau ditambahkan embel-embel bahwa sertifikat yang diakui hanyalah dari badan-badan yang dianggap kredibel.
Lalu ini dimasukkan ke dalam syarat-syarat untuk mencapai suatu jabatan.
Keadaan ini sudah sangat merebak di masyarakat kita, terutama memang di birokrasi-birokrasi kita.
Ini salah total.
Sudah umum terjadi sekarang, dan ini aneh bin ajaib, untuk mensahkan dijabatnya suatu jabatan atau kenaikan pangkat dalam suatu birokrasi, orang-orang menjadi pengumpul sertifikat. Orang-orang yang dicalonkan untuk menjadi pemimpin tertentu diperiksa apakah sudah sarjana, S2, S3, sudah ikut kursus ini dan itu, sudah ikut penataran ini dan itu dan sebagainya.
Ini rusak berat. Inilah salah satu pangkal korupsi itu.
Bukankah untuk mengetahui keabsahan seseorang yang akan diangkat seharusnya justru diuji kemampuan dan kepemimpinannya? Salah sekali bila penentuan hanya dilaksanakan dengan melihat segala sertifikat yang dimilikinya.
Dalam perjalanan hidup saya, saya pernah bergabung dengan beberapa perusahaan internasional besar dengan jangkauan bisnis di seluruh dunia. Secara prinsip tidak sekalipun pernah dipersoalkan sertifikat apa yang dimiliki oleh seseorang untuk menduduki jabatan tertentu. Tidak pernah sekalipun dipersoalkan seseorang menduduki jabatan tertentu karena memiliki sertifikat dari organisasi pengeluar sertifikat yang dianggap tidak hebat/kredibel.
Saya pernah mengikuti suatu interview selama satu hari penuh oleh seorang GM bangsa asing dari negara yang sangat maju untuk jabatan Project Manager. Tidak satu kalipun ditanya apakah saya seorang sarjana atau bukan, apalagi menanyakan bahwa saya sarjana dari universitas mana. Sejak pagi sampai jauh malam yang diujikan pada saya melulu persoalan teknis/non teknis tugas sebagai seorang Project Manager.
Baru setelah saya dinyatakan lulus, dia melihat-lihat dengan puas sertifikat yang saya miliki.
Jadi yang penting calon itu diuji. Sejauh seseorang telah memenuhi uji kualifikasi (untuk kenaikan pangkat ujian dilakukan selama kurun waktu yang panjang/bukan ujian sesaat, apalagi rekomendasi orang lain), dia berhak diangkat untuk jabatan itu.
Bila dia punya sertifikat ini dan itu, tentu lebih baik lagi.
Pernah saya temukan bahwa pemimpin perusahaan kami hanyalah seorang sarjana muda, sementara kami bawahannya ada yang S2, S3 dan juga sejumlah Professor Teknik.
Tapi jangan coba-coba bertanding dengan dia tentang kemampuan teknis lapangan, kemampuan memimpin, teknis negosiasi, pengambilan keputusan, pemasaran dunia, kemampuan sosial, kemampuan bahasa dan lain sebagainya, tidak mudah bagi kami untuk mengalahkan dia.
Mereka yang tegar tengkuk, terutama dari birokrasi negeri ini pernah menyanggah pernyataan saya ini dengan mengatakan kalau begitu buat apa orang sekolah capek capek mencapai strata tinggi? Buat apa itu? kata mereka.
Jawab saya, ya justru itulah kita semua harus sekolah setinggi-tingginya untuk siap mencapai kualifikasi yang dibutuhkan ketika kita diuji kelak. Bukan dengan menyodorkan sertifikat-sertifikat yang kita miliki lalu kita meminta untuk dinaikkan pangkat. Itulah kebodohan besar, ciri bangsa yang tidak cerdas.
Semoga organisasi kita semua sadar untuk tidak melakukan kekeliruan dengan mengabsahkan kualifikasi dengan melihat sertifikat atau menggagalkan kualifikasi karena pengeluar sertifikat adalah bukan badan/universitas yang dianggap favorit/kredibel. Tidak ada dasarnya mengatakan pemegang suatu sertfikat dari badan yang dianggap kredibel pasti lebih hebat dari yang dianggap tidak kredibel.
Uji kualifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan, itulah kuncinya.
Lalu ini dimasukkan ke dalam syarat-syarat untuk mencapai suatu jabatan.
Keadaan ini sudah sangat merebak di masyarakat kita, terutama memang di birokrasi-birokrasi kita.
Ini salah total.
Sudah umum terjadi sekarang, dan ini aneh bin ajaib, untuk mensahkan dijabatnya suatu jabatan atau kenaikan pangkat dalam suatu birokrasi, orang-orang menjadi pengumpul sertifikat. Orang-orang yang dicalonkan untuk menjadi pemimpin tertentu diperiksa apakah sudah sarjana, S2, S3, sudah ikut kursus ini dan itu, sudah ikut penataran ini dan itu dan sebagainya.
Ini rusak berat. Inilah salah satu pangkal korupsi itu.
Bukankah untuk mengetahui keabsahan seseorang yang akan diangkat seharusnya justru diuji kemampuan dan kepemimpinannya? Salah sekali bila penentuan hanya dilaksanakan dengan melihat segala sertifikat yang dimilikinya.
Dalam perjalanan hidup saya, saya pernah bergabung dengan beberapa perusahaan internasional besar dengan jangkauan bisnis di seluruh dunia. Secara prinsip tidak sekalipun pernah dipersoalkan sertifikat apa yang dimiliki oleh seseorang untuk menduduki jabatan tertentu. Tidak pernah sekalipun dipersoalkan seseorang menduduki jabatan tertentu karena memiliki sertifikat dari organisasi pengeluar sertifikat yang dianggap tidak hebat/kredibel.
Saya pernah mengikuti suatu interview selama satu hari penuh oleh seorang GM bangsa asing dari negara yang sangat maju untuk jabatan Project Manager. Tidak satu kalipun ditanya apakah saya seorang sarjana atau bukan, apalagi menanyakan bahwa saya sarjana dari universitas mana. Sejak pagi sampai jauh malam yang diujikan pada saya melulu persoalan teknis/non teknis tugas sebagai seorang Project Manager.
Baru setelah saya dinyatakan lulus, dia melihat-lihat dengan puas sertifikat yang saya miliki.
Jadi yang penting calon itu diuji. Sejauh seseorang telah memenuhi uji kualifikasi (untuk kenaikan pangkat ujian dilakukan selama kurun waktu yang panjang/bukan ujian sesaat, apalagi rekomendasi orang lain), dia berhak diangkat untuk jabatan itu.
Bila dia punya sertifikat ini dan itu, tentu lebih baik lagi.
Pernah saya temukan bahwa pemimpin perusahaan kami hanyalah seorang sarjana muda, sementara kami bawahannya ada yang S2, S3 dan juga sejumlah Professor Teknik.
Tapi jangan coba-coba bertanding dengan dia tentang kemampuan teknis lapangan, kemampuan memimpin, teknis negosiasi, pengambilan keputusan, pemasaran dunia, kemampuan sosial, kemampuan bahasa dan lain sebagainya, tidak mudah bagi kami untuk mengalahkan dia.
Mereka yang tegar tengkuk, terutama dari birokrasi negeri ini pernah menyanggah pernyataan saya ini dengan mengatakan kalau begitu buat apa orang sekolah capek capek mencapai strata tinggi? Buat apa itu? kata mereka.
Jawab saya, ya justru itulah kita semua harus sekolah setinggi-tingginya untuk siap mencapai kualifikasi yang dibutuhkan ketika kita diuji kelak. Bukan dengan menyodorkan sertifikat-sertifikat yang kita miliki lalu kita meminta untuk dinaikkan pangkat. Itulah kebodohan besar, ciri bangsa yang tidak cerdas.
Semoga organisasi kita semua sadar untuk tidak melakukan kekeliruan dengan mengabsahkan kualifikasi dengan melihat sertifikat atau menggagalkan kualifikasi karena pengeluar sertifikat adalah bukan badan/universitas yang dianggap favorit/kredibel. Tidak ada dasarnya mengatakan pemegang suatu sertfikat dari badan yang dianggap kredibel pasti lebih hebat dari yang dianggap tidak kredibel.
Uji kualifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan, itulah kuncinya.
Sunday, June 20, 2010
Orang Indonesia sulit bersikap khidmat
Sudah beberapa kali Presiden SBY menyatakan kemarahannya bila sedang berbicara/berpidato mendapati peserta saling berbicara (mengobrol satu sama lain) atau mengantuk. Yang dimarahi ada yang berpangkat menteri, gubernur, pejabat tinggi dan lain sebagainya.
Sebagai seorang dosen, sayapun sering mendapati para mahasiswa mengobrol seenaknya ketika saya sedang mengajar. Tidak cuma mhs S1, juga pada tingkat lebih tinggi! Sayapun ada beberapa kali harus marah, terutama bila telah memberi peringatan beberapa kali dan tidak diindahkan.
Sepengamatan saya inipun terjadi sejak dulu di sekolah ketika saya memimpin rapat-rapat OSIS atau memimpin upacara bendera sebagai komandan/inspektur. Seringkali teman-teman mengobrol kiri-kanan dan depan-belakang seenaknya. Tidak perduli apa yang terjadi di depan dan seolah tidak menganggap perlu apa yang dibicarakan di depan. Berkali-kali harus dimintai perhatian, tetapi orang-orang akan senyap sejenak untuk kemudian mengobrol lagi.
Juga ketika di kantor dalam pertemuan-pertemuan rutin. Sering sekali orang mengobrol satu sama lain.
Keadaan sama saya temui pada banyak pertemuan lain yang saya amati. Kalau untuk pertemuan resmi saja orang tidak perduli apalagi di rapat-rapat RT, organisasi keluarga, kemasyarakatan dan termasuk keagamaan. Yang lebih mengerikan lagi, juga di tempat-tempat ibadah.
Di Indonesia betul-betul sering tidak tertib/khidmat suasana pertemuan-pertemuan yang diadakan. Apalagi bila ada dan banyak anak-anak. Anak-anak tidak terkendali untuk bicara seenaknya, berteriak, menangis, lari ke sana-kemari, dan lain sebagainya.
Sangat kontras perbedaannya saya lihat di negara-negara yang kita sebut "maju". Di sana orang semua akan diam khidmat ketika presiden/perdana menteri/direktur/pemimpin pertemuan berbicara. Semua akan mendengar dan memperhatikan dengan serius apa yang sedang dibicarakan. Tidak akan ada yang berbicara, menyela, atau bahkan tidur. Semua orang akan duduk dengan tegak, mendengar dengan khidmat. Tidak akan ada komentar merendahkan yang ingin didiskusikan dengan teman di sebelahnya. Itu semua sudah menjadi kebiasaan setiap orang. (Ciri masyarakat cerdas)
Yang paling hebat di tempat-tempat ibadah dan bahkan di tempat pergelaran musik klasik dilaksanakan, semua orang akan dengan serta merta untuk duduk dengan tenang mendengarkan. Di tempat-tempat ibadah atau tempat pergelaran musik juga banyak anak kecil, tetapi semua anak bisa dengan tenang mengikuti acara. Dengan elegan semua orangtua dapat mengendalikan agar anak-anaknya tidak berbicara, ngobrol atau berlarian ke sana ke mari. Andaikanpun ada sesuatu yang penting hendak ditanyakan, anak-anak akan menanya dengan tertib dan berbunyi setengah suara. Dengan setengah suara pula orangtua akan menjawab pertanyaan anak-anaknya dengan baik.
Ini berarti bahwa setiap orang di keluarga masing-masing telah terjadi proses pendidikan yang baik. Ini berarti bahwa di setiap keluarga telah diajarkan untuk saling menghormati orang lain.
Saya sangat sedih dengan perbedaan ini. Kebanyakan saya lihat yang mengobrol itu adalah orang yang tinggi hati yang merasa bahwa orang yang sedang berbicara di depan selalu lebih bodoh daripada dia (yang mendengar), sehingga perlu diobrolkan kepada orang lain. Entah mengapa orang Indonesia senang menyeletuk, memrotes, merasa lebih pintar, merasa harus mendiskusikan dengan setengah suara pidato/ceramah yang sedang dibagikan segera di ruang rapat tersebut ketika pidato/ceramah sedang dibagikan. Kalau tidak mereka, maka yang sering tidak tertib ini umumnya adalah saudara-saudara yang tingkat kehidupan bermasyarakatnya memang masih rendah.
Betapa orang Indonesia kehilangan banyak hal penting dengan mengabaikan/menganggap rendah pembicaraan yang sedang berlangsung. Betapa kita kehilangan banyak isi/konteks/makna dari pembicaraan/pidato/ceramah yang sedang dibagikan. Betapa rusak berantakannya kita mengartikan/mengartikulasikan/mengejawantahkan apa yang telah dibagikan. Selalu salah konteks, salah pengertian, salah sambung, dan seterusnya.
Tetapi selalu merasa sebagai bangsa yang besar/hebat/cerdas dan lain sebagainya.
Apabila ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, kita harus bisa mengendalikan diri kita, teman-teman dan keluarga (termasuk anak-anak). Janganlah bermimpi menjadi bangsa yang besar, apalagi merasa sudah dekat menjadi bangsa yang besar.
Selama masih sering mengobrol satu sama lain di pertemuan-pertemuan dan tidak bisa mengendalikan anak-anak di acara-acara, kita tetaplah menjadi bangsa yang tolol.
Masih jauh cita-cita itu terwujud. Padahal sudah 65 tahun merdeka. Jangan kita cari excuse dengan melihat negara lain yang sudah berumur panjang. Banyak bangsa lain lebih muda dari kita merdeka, tapi sudah jauh meninggalkan kita.
Sebagai seorang dosen, sayapun sering mendapati para mahasiswa mengobrol seenaknya ketika saya sedang mengajar. Tidak cuma mhs S1, juga pada tingkat lebih tinggi! Sayapun ada beberapa kali harus marah, terutama bila telah memberi peringatan beberapa kali dan tidak diindahkan.
Sepengamatan saya inipun terjadi sejak dulu di sekolah ketika saya memimpin rapat-rapat OSIS atau memimpin upacara bendera sebagai komandan/inspektur. Seringkali teman-teman mengobrol kiri-kanan dan depan-belakang seenaknya. Tidak perduli apa yang terjadi di depan dan seolah tidak menganggap perlu apa yang dibicarakan di depan. Berkali-kali harus dimintai perhatian, tetapi orang-orang akan senyap sejenak untuk kemudian mengobrol lagi.
Juga ketika di kantor dalam pertemuan-pertemuan rutin. Sering sekali orang mengobrol satu sama lain.
Keadaan sama saya temui pada banyak pertemuan lain yang saya amati. Kalau untuk pertemuan resmi saja orang tidak perduli apalagi di rapat-rapat RT, organisasi keluarga, kemasyarakatan dan termasuk keagamaan. Yang lebih mengerikan lagi, juga di tempat-tempat ibadah.
Di Indonesia betul-betul sering tidak tertib/khidmat suasana pertemuan-pertemuan yang diadakan. Apalagi bila ada dan banyak anak-anak. Anak-anak tidak terkendali untuk bicara seenaknya, berteriak, menangis, lari ke sana-kemari, dan lain sebagainya.
Sangat kontras perbedaannya saya lihat di negara-negara yang kita sebut "maju". Di sana orang semua akan diam khidmat ketika presiden/perdana menteri/direktur/pemimpin pertemuan berbicara. Semua akan mendengar dan memperhatikan dengan serius apa yang sedang dibicarakan. Tidak akan ada yang berbicara, menyela, atau bahkan tidur. Semua orang akan duduk dengan tegak, mendengar dengan khidmat. Tidak akan ada komentar merendahkan yang ingin didiskusikan dengan teman di sebelahnya. Itu semua sudah menjadi kebiasaan setiap orang. (Ciri masyarakat cerdas)
Yang paling hebat di tempat-tempat ibadah dan bahkan di tempat pergelaran musik klasik dilaksanakan, semua orang akan dengan serta merta untuk duduk dengan tenang mendengarkan. Di tempat-tempat ibadah atau tempat pergelaran musik juga banyak anak kecil, tetapi semua anak bisa dengan tenang mengikuti acara. Dengan elegan semua orangtua dapat mengendalikan agar anak-anaknya tidak berbicara, ngobrol atau berlarian ke sana ke mari. Andaikanpun ada sesuatu yang penting hendak ditanyakan, anak-anak akan menanya dengan tertib dan berbunyi setengah suara. Dengan setengah suara pula orangtua akan menjawab pertanyaan anak-anaknya dengan baik.
Ini berarti bahwa setiap orang di keluarga masing-masing telah terjadi proses pendidikan yang baik. Ini berarti bahwa di setiap keluarga telah diajarkan untuk saling menghormati orang lain.
Saya sangat sedih dengan perbedaan ini. Kebanyakan saya lihat yang mengobrol itu adalah orang yang tinggi hati yang merasa bahwa orang yang sedang berbicara di depan selalu lebih bodoh daripada dia (yang mendengar), sehingga perlu diobrolkan kepada orang lain. Entah mengapa orang Indonesia senang menyeletuk, memrotes, merasa lebih pintar, merasa harus mendiskusikan dengan setengah suara pidato/ceramah yang sedang dibagikan segera di ruang rapat tersebut ketika pidato/ceramah sedang dibagikan. Kalau tidak mereka, maka yang sering tidak tertib ini umumnya adalah saudara-saudara yang tingkat kehidupan bermasyarakatnya memang masih rendah.
Betapa orang Indonesia kehilangan banyak hal penting dengan mengabaikan/menganggap rendah pembicaraan yang sedang berlangsung. Betapa kita kehilangan banyak isi/konteks/makna dari pembicaraan/pidato/ceramah yang sedang dibagikan. Betapa rusak berantakannya kita mengartikan/mengartikulasikan/mengejawantahkan apa yang telah dibagikan. Selalu salah konteks, salah pengertian, salah sambung, dan seterusnya.
Tetapi selalu merasa sebagai bangsa yang besar/hebat/cerdas dan lain sebagainya.
Apabila ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, kita harus bisa mengendalikan diri kita, teman-teman dan keluarga (termasuk anak-anak). Janganlah bermimpi menjadi bangsa yang besar, apalagi merasa sudah dekat menjadi bangsa yang besar.
Selama masih sering mengobrol satu sama lain di pertemuan-pertemuan dan tidak bisa mengendalikan anak-anak di acara-acara, kita tetaplah menjadi bangsa yang tolol.
Masih jauh cita-cita itu terwujud. Padahal sudah 65 tahun merdeka. Jangan kita cari excuse dengan melihat negara lain yang sudah berumur panjang. Banyak bangsa lain lebih muda dari kita merdeka, tapi sudah jauh meninggalkan kita.
Thursday, June 17, 2010
Busway (Bus Jakarta Transport)
Saya rasa suatu saat Busway (Bus Jakarta Transport) akan dibongkar dan dihapus.
World Cup participants - Peserta Piala Dunia sekarang
Since the participants of the World Cup now were drawn from allotment system, as the consequence the participants grow higher (32 countries). I have the feeling that the tension (and perhaps the quality) of world cup goes lower.
I think (not offensing or humiliating) Honduras, New Zealand and some Africans are a little bit "lower class" than the others who failed at qualification stages such as Russia, Czech, Belgium, Sweden, etc.
Japan and Koreans are also in my opinion "not too strong", even up to now we still hope they will survive. South Korea got romantic memory of 2002, but at that time they were one of the hosts. At the 1st round they beat Greek (ex-Euro champion but unbelievably appear so weak this time. They won yesterday but still unpromising) but yesterday were crushed 1-4 by Argentine.
Some years ago world cup triumphant participants were 16. Schedules arranged in knock out system since round 1. It was so exciting since the beginning. A real world soccer fiesta.
Now it can not be done as in the past. Perhaps because of tolerance to give chances to the other countries to participate, additional allotments given. Now participants higher and of course not easy to apply knock out sistem since round 1.
The arranger of world cup must rethink about this. Perhaps considerable if participants of "second class" countries be put into such a preliminary rounds to get 4 qualifiers. Say, 4 out of 16. But the "first class" countries also will have a preliminary rounds to get 12 countries (maybe 12 from 16, the system can be arranged). Then the last 16 candidates drawn in free knock outs.
Hopefully it will be more exciting and the quality of football gets better.
Karena negara-negara peserta piala dunia sekarang diatur dengan sistem jatah dan sebagai konsekuensinya jumlah peserta menjadi lebih banyak (32 negara), maka saya merasa bahwa ada penurunan ketegangan (mungkin pula kualitas) dari piala dunia. Saya pikir Honduras, Selandia Baru dan beberapa negara Afrika agak lebih rendah kualitasnya dibandingkan beberapa yang gagal kualifikasi, seperti Rusia, Ceko, Belgia, Swedia, dan beberapa negara kuat lain.
Jepang, Korsel dan Korut juga sebenarnya tidak terlalu kuat, tapi sampai hari ini masih agak kelihatan kuat. Korsel memang punya nostalgia tahun 2002, tapi itu karena mereka termasuk tuan rumah (sempat menang 2-0 dari Yunani, eks juara Eropa yang sangat mengherankan bermain jauh di bawah form, tapi tadi malam Korsel dihajar Argentina 4-1).
Dulu jumlah peserta terfokus pada 16 besar. Sistem gugur (KO) sejak ronde pertama. Betul-betul seru dan menegangkan sejak awal. Benar-benar pesta sepak bola dunia.
Sekarang tidak lagi demikian. Mungkin karena tidak sampai hati maka diberikan jatah tambahan kepada beberapa negara yang dianggap masih di bawah kualitas agar bisa berpartisipasi. Kalau langsung sistem gugur tentu tidak mudah mengaturnya.
Penyelenggara piala dunia perlu memikirkan formulasi negara peserta agar tension piala dunia betul-betul seru.
Mungkin bisa dipikirkan untuk membuat preliminary rounds dulu untuk sejumlah peserta "kelas bawah" untuk menghasilkan 4 kandidat. Katakanlah mendapatkan 4 dari 16 negara. Lalu beberapa negara "kelas satu"pun bertarung untuk menghasilkan 12 kandidat. Mungkin 12 dari 16. Sistemnya bisa diatur.
Lalu yang 16 ini diundi untuk sistem gugur sampai ke final.
Semoga piala dunia menjadi lebih seru dan mutu sepakbola dunia meningkat.
I think (not offensing or humiliating) Honduras, New Zealand and some Africans are a little bit "lower class" than the others who failed at qualification stages such as Russia, Czech, Belgium, Sweden, etc.
Japan and Koreans are also in my opinion "not too strong", even up to now we still hope they will survive. South Korea got romantic memory of 2002, but at that time they were one of the hosts. At the 1st round they beat Greek (ex-Euro champion but unbelievably appear so weak this time. They won yesterday but still unpromising) but yesterday were crushed 1-4 by Argentine.
Some years ago world cup triumphant participants were 16. Schedules arranged in knock out system since round 1. It was so exciting since the beginning. A real world soccer fiesta.
Now it can not be done as in the past. Perhaps because of tolerance to give chances to the other countries to participate, additional allotments given. Now participants higher and of course not easy to apply knock out sistem since round 1.
The arranger of world cup must rethink about this. Perhaps considerable if participants of "second class" countries be put into such a preliminary rounds to get 4 qualifiers. Say, 4 out of 16. But the "first class" countries also will have a preliminary rounds to get 12 countries (maybe 12 from 16, the system can be arranged). Then the last 16 candidates drawn in free knock outs.
Hopefully it will be more exciting and the quality of football gets better.
Karena negara-negara peserta piala dunia sekarang diatur dengan sistem jatah dan sebagai konsekuensinya jumlah peserta menjadi lebih banyak (32 negara), maka saya merasa bahwa ada penurunan ketegangan (mungkin pula kualitas) dari piala dunia. Saya pikir Honduras, Selandia Baru dan beberapa negara Afrika agak lebih rendah kualitasnya dibandingkan beberapa yang gagal kualifikasi, seperti Rusia, Ceko, Belgia, Swedia, dan beberapa negara kuat lain.
Jepang, Korsel dan Korut juga sebenarnya tidak terlalu kuat, tapi sampai hari ini masih agak kelihatan kuat. Korsel memang punya nostalgia tahun 2002, tapi itu karena mereka termasuk tuan rumah (sempat menang 2-0 dari Yunani, eks juara Eropa yang sangat mengherankan bermain jauh di bawah form, tapi tadi malam Korsel dihajar Argentina 4-1).
Dulu jumlah peserta terfokus pada 16 besar. Sistem gugur (KO) sejak ronde pertama. Betul-betul seru dan menegangkan sejak awal. Benar-benar pesta sepak bola dunia.
Sekarang tidak lagi demikian. Mungkin karena tidak sampai hati maka diberikan jatah tambahan kepada beberapa negara yang dianggap masih di bawah kualitas agar bisa berpartisipasi. Kalau langsung sistem gugur tentu tidak mudah mengaturnya.
Penyelenggara piala dunia perlu memikirkan formulasi negara peserta agar tension piala dunia betul-betul seru.
Mungkin bisa dipikirkan untuk membuat preliminary rounds dulu untuk sejumlah peserta "kelas bawah" untuk menghasilkan 4 kandidat. Katakanlah mendapatkan 4 dari 16 negara. Lalu beberapa negara "kelas satu"pun bertarung untuk menghasilkan 12 kandidat. Mungkin 12 dari 16. Sistemnya bisa diatur.
Lalu yang 16 ini diundi untuk sistem gugur sampai ke final.
Semoga piala dunia menjadi lebih seru dan mutu sepakbola dunia meningkat.
Thursday, June 10, 2010
Piala Dunia
Tidak terasa Piala Dunia 2010 besok dimulai. Bagi saya piala dunia seolah perjalanan hidup. Seingat saya, saya menonton semua siaran langsung piala dunia sejak saya "melek" piala dunia pada tahun 1970.
Piala dunia 1970 itu sangat memorable buat saya. Waktu itu yang bisa dinikmati di Indonesia adalah finalnya saja. Final kali itu dilangsungkan di Mexico di mana di final bertemu Brazil melawan Italia.
Sejak sore ayah saya telah menggelar kasur di depan televisi agar saya dan adik (Tigor) bisa tidur dulu sejenak bila telah mengantuk menunggu. Ayah berjanji akan membangunkan kami lepas tengah malam di mana final disiarkan secara langsung oleh TVRI (satu-satunya saluran tv di tanah air waktu itu).
Ini adalah kali kedua ayah kami menyiapkan kasur di mana kami disuruh tidur dulu dan akan dibangunkan pada sekitar jam 2 lepas tengah malam. Yang pertama adalah tahun sebelumnya yakni tahun 1969, ketika kami menonton siaran langsung pendaratan Apollo 11 di bulan. Ayah berkata kepada kami berdua (saya kelas 5 SD dan Tigor kelas 4 SD), bahwa yang akan kami tonton adalah sejarah besar dunia. Ayah ingin kami menjadi saksi sejarah atas pendaratan pertama manusia di bulan. Dalam keadaan sangat mengantuk, kami mencoba membangun kesadaran ketika ayah membangunkan dan menyemangati kami berdua anakya untuk menonton. Cara ayah sangat membangun semangat. Dia mencoba menerangkan apa yang sedang kami saksikan. Walaupun kualitas gambar tidak terlalu baik tetapi kami jelas melihat bagaimana pesawat pendarat mendekati, dan bahkan mendarat di bulan. Itu berlangsung cukup lama. Bahkan kami melihat bagaimana Neil Amstrong keluar, menginjak bulan dan berjalan di bulan. Diikuti pula oleh Edwin Aldrin. Sementara kedua temannya ini mendarat dan berjalan di bulan, astronot ke 3 Michael Collins mengorbit bulan, siap menerima kedua temannya ini kelak bergabung kembali dengan pesawat pelontar yang akan bergabung dengan pesawat Collins dan mereka bertiga kembali ke bumi. Dengan sangat baiknya ayah menerangkan semua kejadian itu sehingga selama beberapa tahun saya ingat dengan baik nama semua pesawat/sub pesawat dari Apollo 11. Sayang hari ini saya sudah mulai lupa.
Tahun 1970 itu kami menonton bagaimana final hebat piala dunia dimenangkan oleh Brazil dengan skor 4-1. Pele mencetak 1 gol. Habis pertandingan Pele diarak dan didukung oleh banyak sekali orang. Pele tinggal memakai celana dalam karena semua pakaiannya telah habis ditarik dan dirobek oleh penggemarnya untuk dijadikan kenang-kenangan.
Pele memang pemain terbaik masa itu. Dialah pemain terbaik dunia saat itu. Dan bagi saya dialah tetap pemain terbaik dunia sampai saat ini. Maradona bagi saya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Pele. Maradona bagi saya adalah kesempurnaan skill pemain umum yang justru lebih "Eropa". Maradona sanggup bermain dengan kecepatan luar biasa dengan kontrol yang prima, tetapi semua seolah menjalankan satu set-up yang sudah ditentukan. Messi sejenis tapi masih di bawah Maradona. Pele bukan hanya sempurna dalam segala skill, tetapi dia juga sanggup mengatur ritme bermain dan bergerak sehingga permainan langsung terlihat bisa bervariasi setiap saat dan kapan saja Pele menghendakinya. Pele orangnya ramah, santun, permainannya bersih dan baik hati. Moralnya baik dan tampang/ekspresinya adalah orang elok pula. Maradona kebalikannya dalam segala hal. Tidak ramah, tidak santun, pemain "super kotor", culas dan bermoral buruk. Ekspresinyapun adalah ekspresi penjahat.
Walaupun yang dapat dinikmati waktu itu adalah siaran langsung final, tetapi saya dan adik saya mengikuti dengan cermat seluruh perkembangan final di Mexico sejak babak pertama. Semua kami dapatkan dari surat kabar. Kami sangat mengagumi sketsa terjadinya gerakan hebat atau gol yang terjadi yang disajikan dalam karikatur. Di lapangan (karena kami juga sangat senang bermain bola), sketsa itu sering kami coba-coba tiru dengan sesama anak-anak tetangga teman kami bermain bola. Itulah sebabnya kami sangat mengenal Sandro Mazzola, Facchetti, Boninsegna, kiper Albertosi, Gianni Rivera dan bahkan penyerang paling terkenal Italia yaitu Luigi Riva. Yang terakhir ini sering dipanggil Gigi Riva. Saya sangat menyenangi dia. Dia sangat hebat dan gigih. Sayang Italia yang memomulerkan "Il Cattenaccio"/Sistem Grendel itu gagal di final dan cuma mencetak satu gol.
Adapun Carlos Alberto, Rivelinho, Tostao, Gerson, Jairzinho dan Pele adalah pemain-pemain yang hampir semua gerakan mereka ada di kepala dan hati kami dan sering kami praktekkan di lapangan. Dulu klub sepak bola kami dinamai PSFP I (Pers. Spkbola Flat Pertamina I). Kami waktu itu tinggal di sebuah flat Pertamina di Tanah Abang V, Jakarta.
Kami juga mengenal pemain-pemain kesebelasan lain. Yang sangat meresap di hati saya adalah Jerman Barat. Tahun 1970 itulah saya jatuh cinta pada kesebelasan Jerman Barat (sekarang Jerman). Sampai sekarang saya telah menonton pergelaran 10 piala dunia dan saya belum pernah berubah untuk tetap menjagokan Jerman Barat (Jerman). Tahun 70 itu saya jatuh cinta pada permainan Franz Beckenbauer (dia telah main tahun 1966 di Inggris). Cara bermain dia (sbg libero) sangat mengilhami saya dalam berpikir dan bertindak dalam hidup. Banyak feed back orang lain yang saya terima atas perilaku saya, saya pikir sangat terilhami oleh cara bermain Beckenbauer. Puluhan organisasi besar kecil yang saya ketuai (hampir di semua organisasi yang saya ikuti, saya dipilih menjadi ketua) saya handle dengan ilham posisi libero. Menurut saya posisi libero itu sangat agung. Secara umum bermain sebagai libero itu artinya mengatur permainan keseluruhan dengan terus bergerak menemani dan mendukung semua pemain yang sedang menguasai bola. Jadi kita harus siap berlari ke depan/belakang, kiri/kanan dengan mata yang terus mengamati perkembangan yang ada. Bila dalam bertahan kita ikut menggalang dan mengatur pertahanan, dalam membangun serangan kita menjadi sentral pola permainan, dalam menyerang kita menjadi eksponen ekstra yang menyukseskan terjadinya gol. Banyak yang tidak sadar bahwa selain memainkan bola dan mata, seorang libero harus juga bermain dengan mulut! Artinya setiap saat apakah kita di depan atau di samping atau di belakang teman kita, kita memberi informasi dan aba-aba yang dibutuhkan oleh teman kita itu. Tidak heran bila Beckenbauer itu digelari "Der Kaizer". Dia betul-betul seorang kaisar. Sayang sang Kaisar hanya bisa membawa timnya sampai di semi final. Ditekuk Italia dengan skor 4-3 lewat pertandingan super dramatis.
Sayapun sangat mengagumi Sepp Maier yang merupakan penjaga gawang pujaan saya sampai saat ini. Lalu, pemain favorit saya sepanjang masa adalah Gerd Muller. Pemain dengan julukan "Der Bomber" ini selalu mengagumkan saya dengan kejeliannya untuk berdiri di tempat terbaik dan memainkan manuver brilyan untuk mencetak gol. Dia digelari pula raja kotak penalti. Dia pencetak gol terhebat dalam era modern (14 gol dalam 2 piala dunia, rata-rata 7 gol!). Ronaldo dari Brazil yang tidak saya sukai itu mematahkannya dengan 15 gol, tetapi dalam 3 piala dunia (rata-rata 5 gol). Ronaldo sangat tidak bisa disejajarkan dengan Gerd Muller.
Tahun 70 itu saya juga masih melihat kehebatan dari Uwe Seeler. Pemain Hamburger SV ini adalah "header"/penanduk bola yang belum ada duanya sampai saat ini. Betapa bahagianya saya ketika suatu saat di masa yang lalu Seeler pernah datang ke Indonesia. Tentu saja tahun 70 itu sayapun waktu itu mengenal Juergen Grabowski, Wolfgang Overath, Schnellinger dan lain-lainnya. Juga pemain-pemain dari kesebelasan negara lain. Kelak di kemudian hari ada sebuah film dokumenter tentang final piala dunia 70 ini yang diputar di bioskop-bioskop. Sudah pasti saya dan adik saya Tigor menonton film ini. Judulnya "The world is under their feet". Kami menonton di Jakarta Theater (bioskop paling top jaman itu). Di situ kami makin melihat betapa hebatnya strategi yang dibuat para kesebelasan, yang diselenggarakan di lapangan dengan skill tingkat dunia.
Tahun 74 saya sudah SMP kelas 2. Final mempertemukan Jerman Barat dengan Belanda. Hampir semua orang di Indonesia dan dunia memegang Belanda, termasuk ayah dan adik saya. Saya tetaplah Jerman Barat. Saya punya kompleks ketidaksukaan pada Belanda. Entah mengapa kompleks itu tidak pernah hilang sampai hari ini. Saya suka agak kesal melihat orang pro Belanda. Saya selalu melihat Belanda sebagai kesebelasan yang sombong.
Memang perjalanan Belanda ke final 74 itu hebat. Cruyff dengan timnya mencetak banyak gol dan tidak pernah kebobolan. Kiper Jongbloed, Krol, Hulshoff, Neeskens, Rep, van Hanegem dan lain-lainnya memang mengagumkan. Tetapi saya melihat mereka tetaplah kesebelasan yang punya kelemahan. Kelemahan mereka menurut saya adalah pada ketidakstabilan diri mereka. Terlalu banyak bintang justru menurut saya merupakan kelemahan mereka. Saya selalu merasa jauh sebelum final dimulai bahwa kekuatan Jerman Barat sebagai tim adalah jauh lebih hebat. Jerman Barat menang menurut saya dalam kekompakan dan usaha maksimal bersama sebagai suatu bangsa. Ketika menit awal Belanda leading saya tetap tenang. Akhirnya Jerman Barat yang menang dengan skor 2-1. Suatu trauma bagi Cruyff dan Belanda pada umumnya yang menurut saya tidak pernah hilang dari jidat mereka sampai hari ini. Lihat saja kejuaraan Eropa 2008 yang lalu. Begitu sombongnya pencinta Belanda bilang bahwa Belanda tinggal memilih lawan untuk di final nanti (untuk kemudian akan dihancurkan pula oleh Belanda). Semua ini karena rekor yang mengagumkan di awal. Ternyata keok kepada Rusia. Kelihatannya Belanda menjadi spesialis hebat di awal tapi rapuh di ujung. Yah semoga sajalah tahun ini bisa sembuh.
Tahun 78 saya menonton final di Argentina sebagai mahasiswa S1 di Bandung. Itu adalah masa yang memorable karena kampus saya sedang tidak normal berkenaan dengan bentrok demo besar-besaran saat itu. Ada kelas-kelas yang menyelenggarakan proses belajar mengajar dengan TV siaran terbatas. Jadi hanya 1 dosen yang mengajar tapi disiarkan ke banyak kelas. Kita melihat dosen mengajar kita melalui tv. Betapa shocknya dosen melihat dari monitor feedbacknya para mahasiswa mengerubungi tv yang terletak di ujung setiap kelas yang diganti channelnya untuk melihat siaran piala dunia. Sejak saat itulah program TVST di kampus saya diganti dengan single channel dan akhirnya gagal total.
Jerman keok. Di final Belanda yang "kelihatannya hebat" dipurukkan oleh duet Argentina Mario Kempes dan Leopoldo Luque.
Tahun 82 saya berharap banyak tetapi Jerman di final dikalahkan oleh Italia 3-1. Saya menonton pada tingkat akhir di perkuliahan.
Tahun 86 Jerman dikalahkan Argentina 3-2 di menit-menit akhir (berawal dari umpan silang yang hebat dari Maradona). Waktu itu saya telah memulai karir dalam bekerja.
Tahun 90 Jerman menjadi juara dunia mengalahkan Argentina 1-0 (Maradona menangis tersedu-sedu). Waktu itu saya dalam persiapan menuju pernikahan.
Tahun 94 dan 98 adalah tahun kelam bagi Jerman. Semua saya tonton dalam rona kehidupan yang berbeda di mana anak-anak beranjak besar dan perubahan karir dari bekerja profesional menjadi dosen.
Tahun 2002 Jerman kalah lagi di final kepada Brazil (2-0). Gol dicetak oleh Ronaldo dan Rivaldo (dikenal dengan sebutan Ro-Ro). Saya memegang sebuah jabatan tinggi di sebuah universitas.
Tahun 2006 Jerman dikalahkan di semi final oleh Italia dalam pertandingan yang dramatis.
Demikianlah piala dunia. Dia terus bergulir. Entah mengapa rasanya saya melihatnya seperti pilar-pilar berjarak sama yang dihiasi oleh ornamen-ornamen dan tumbuhan menjalar yang membuat pilar-pilar itu indah. Nama ornamen-ornamen itu, "kehidupan saya."
Piala dunia 1970 itu sangat memorable buat saya. Waktu itu yang bisa dinikmati di Indonesia adalah finalnya saja. Final kali itu dilangsungkan di Mexico di mana di final bertemu Brazil melawan Italia.
Sejak sore ayah saya telah menggelar kasur di depan televisi agar saya dan adik (Tigor) bisa tidur dulu sejenak bila telah mengantuk menunggu. Ayah berjanji akan membangunkan kami lepas tengah malam di mana final disiarkan secara langsung oleh TVRI (satu-satunya saluran tv di tanah air waktu itu).
Ini adalah kali kedua ayah kami menyiapkan kasur di mana kami disuruh tidur dulu dan akan dibangunkan pada sekitar jam 2 lepas tengah malam. Yang pertama adalah tahun sebelumnya yakni tahun 1969, ketika kami menonton siaran langsung pendaratan Apollo 11 di bulan. Ayah berkata kepada kami berdua (saya kelas 5 SD dan Tigor kelas 4 SD), bahwa yang akan kami tonton adalah sejarah besar dunia. Ayah ingin kami menjadi saksi sejarah atas pendaratan pertama manusia di bulan. Dalam keadaan sangat mengantuk, kami mencoba membangun kesadaran ketika ayah membangunkan dan menyemangati kami berdua anakya untuk menonton. Cara ayah sangat membangun semangat. Dia mencoba menerangkan apa yang sedang kami saksikan. Walaupun kualitas gambar tidak terlalu baik tetapi kami jelas melihat bagaimana pesawat pendarat mendekati, dan bahkan mendarat di bulan. Itu berlangsung cukup lama. Bahkan kami melihat bagaimana Neil Amstrong keluar, menginjak bulan dan berjalan di bulan. Diikuti pula oleh Edwin Aldrin. Sementara kedua temannya ini mendarat dan berjalan di bulan, astronot ke 3 Michael Collins mengorbit bulan, siap menerima kedua temannya ini kelak bergabung kembali dengan pesawat pelontar yang akan bergabung dengan pesawat Collins dan mereka bertiga kembali ke bumi. Dengan sangat baiknya ayah menerangkan semua kejadian itu sehingga selama beberapa tahun saya ingat dengan baik nama semua pesawat/sub pesawat dari Apollo 11. Sayang hari ini saya sudah mulai lupa.
Tahun 1970 itu kami menonton bagaimana final hebat piala dunia dimenangkan oleh Brazil dengan skor 4-1. Pele mencetak 1 gol. Habis pertandingan Pele diarak dan didukung oleh banyak sekali orang. Pele tinggal memakai celana dalam karena semua pakaiannya telah habis ditarik dan dirobek oleh penggemarnya untuk dijadikan kenang-kenangan.
Pele memang pemain terbaik masa itu. Dialah pemain terbaik dunia saat itu. Dan bagi saya dialah tetap pemain terbaik dunia sampai saat ini. Maradona bagi saya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Pele. Maradona bagi saya adalah kesempurnaan skill pemain umum yang justru lebih "Eropa". Maradona sanggup bermain dengan kecepatan luar biasa dengan kontrol yang prima, tetapi semua seolah menjalankan satu set-up yang sudah ditentukan. Messi sejenis tapi masih di bawah Maradona. Pele bukan hanya sempurna dalam segala skill, tetapi dia juga sanggup mengatur ritme bermain dan bergerak sehingga permainan langsung terlihat bisa bervariasi setiap saat dan kapan saja Pele menghendakinya. Pele orangnya ramah, santun, permainannya bersih dan baik hati. Moralnya baik dan tampang/ekspresinya adalah orang elok pula. Maradona kebalikannya dalam segala hal. Tidak ramah, tidak santun, pemain "super kotor", culas dan bermoral buruk. Ekspresinyapun adalah ekspresi penjahat.
Walaupun yang dapat dinikmati waktu itu adalah siaran langsung final, tetapi saya dan adik saya mengikuti dengan cermat seluruh perkembangan final di Mexico sejak babak pertama. Semua kami dapatkan dari surat kabar. Kami sangat mengagumi sketsa terjadinya gerakan hebat atau gol yang terjadi yang disajikan dalam karikatur. Di lapangan (karena kami juga sangat senang bermain bola), sketsa itu sering kami coba-coba tiru dengan sesama anak-anak tetangga teman kami bermain bola. Itulah sebabnya kami sangat mengenal Sandro Mazzola, Facchetti, Boninsegna, kiper Albertosi, Gianni Rivera dan bahkan penyerang paling terkenal Italia yaitu Luigi Riva. Yang terakhir ini sering dipanggil Gigi Riva. Saya sangat menyenangi dia. Dia sangat hebat dan gigih. Sayang Italia yang memomulerkan "Il Cattenaccio"/Sistem Grendel itu gagal di final dan cuma mencetak satu gol.
Adapun Carlos Alberto, Rivelinho, Tostao, Gerson, Jairzinho dan Pele adalah pemain-pemain yang hampir semua gerakan mereka ada di kepala dan hati kami dan sering kami praktekkan di lapangan. Dulu klub sepak bola kami dinamai PSFP I (Pers. Spkbola Flat Pertamina I). Kami waktu itu tinggal di sebuah flat Pertamina di Tanah Abang V, Jakarta.
Kami juga mengenal pemain-pemain kesebelasan lain. Yang sangat meresap di hati saya adalah Jerman Barat. Tahun 1970 itulah saya jatuh cinta pada kesebelasan Jerman Barat (sekarang Jerman). Sampai sekarang saya telah menonton pergelaran 10 piala dunia dan saya belum pernah berubah untuk tetap menjagokan Jerman Barat (Jerman). Tahun 70 itu saya jatuh cinta pada permainan Franz Beckenbauer (dia telah main tahun 1966 di Inggris). Cara bermain dia (sbg libero) sangat mengilhami saya dalam berpikir dan bertindak dalam hidup. Banyak feed back orang lain yang saya terima atas perilaku saya, saya pikir sangat terilhami oleh cara bermain Beckenbauer. Puluhan organisasi besar kecil yang saya ketuai (hampir di semua organisasi yang saya ikuti, saya dipilih menjadi ketua) saya handle dengan ilham posisi libero. Menurut saya posisi libero itu sangat agung. Secara umum bermain sebagai libero itu artinya mengatur permainan keseluruhan dengan terus bergerak menemani dan mendukung semua pemain yang sedang menguasai bola. Jadi kita harus siap berlari ke depan/belakang, kiri/kanan dengan mata yang terus mengamati perkembangan yang ada. Bila dalam bertahan kita ikut menggalang dan mengatur pertahanan, dalam membangun serangan kita menjadi sentral pola permainan, dalam menyerang kita menjadi eksponen ekstra yang menyukseskan terjadinya gol. Banyak yang tidak sadar bahwa selain memainkan bola dan mata, seorang libero harus juga bermain dengan mulut! Artinya setiap saat apakah kita di depan atau di samping atau di belakang teman kita, kita memberi informasi dan aba-aba yang dibutuhkan oleh teman kita itu. Tidak heran bila Beckenbauer itu digelari "Der Kaizer". Dia betul-betul seorang kaisar. Sayang sang Kaisar hanya bisa membawa timnya sampai di semi final. Ditekuk Italia dengan skor 4-3 lewat pertandingan super dramatis.
Sayapun sangat mengagumi Sepp Maier yang merupakan penjaga gawang pujaan saya sampai saat ini. Lalu, pemain favorit saya sepanjang masa adalah Gerd Muller. Pemain dengan julukan "Der Bomber" ini selalu mengagumkan saya dengan kejeliannya untuk berdiri di tempat terbaik dan memainkan manuver brilyan untuk mencetak gol. Dia digelari pula raja kotak penalti. Dia pencetak gol terhebat dalam era modern (14 gol dalam 2 piala dunia, rata-rata 7 gol!). Ronaldo dari Brazil yang tidak saya sukai itu mematahkannya dengan 15 gol, tetapi dalam 3 piala dunia (rata-rata 5 gol). Ronaldo sangat tidak bisa disejajarkan dengan Gerd Muller.
Tahun 70 itu saya juga masih melihat kehebatan dari Uwe Seeler. Pemain Hamburger SV ini adalah "header"/penanduk bola yang belum ada duanya sampai saat ini. Betapa bahagianya saya ketika suatu saat di masa yang lalu Seeler pernah datang ke Indonesia. Tentu saja tahun 70 itu sayapun waktu itu mengenal Juergen Grabowski, Wolfgang Overath, Schnellinger dan lain-lainnya. Juga pemain-pemain dari kesebelasan negara lain. Kelak di kemudian hari ada sebuah film dokumenter tentang final piala dunia 70 ini yang diputar di bioskop-bioskop. Sudah pasti saya dan adik saya Tigor menonton film ini. Judulnya "The world is under their feet". Kami menonton di Jakarta Theater (bioskop paling top jaman itu). Di situ kami makin melihat betapa hebatnya strategi yang dibuat para kesebelasan, yang diselenggarakan di lapangan dengan skill tingkat dunia.
Tahun 74 saya sudah SMP kelas 2. Final mempertemukan Jerman Barat dengan Belanda. Hampir semua orang di Indonesia dan dunia memegang Belanda, termasuk ayah dan adik saya. Saya tetaplah Jerman Barat. Saya punya kompleks ketidaksukaan pada Belanda. Entah mengapa kompleks itu tidak pernah hilang sampai hari ini. Saya suka agak kesal melihat orang pro Belanda. Saya selalu melihat Belanda sebagai kesebelasan yang sombong.
Memang perjalanan Belanda ke final 74 itu hebat. Cruyff dengan timnya mencetak banyak gol dan tidak pernah kebobolan. Kiper Jongbloed, Krol, Hulshoff, Neeskens, Rep, van Hanegem dan lain-lainnya memang mengagumkan. Tetapi saya melihat mereka tetaplah kesebelasan yang punya kelemahan. Kelemahan mereka menurut saya adalah pada ketidakstabilan diri mereka. Terlalu banyak bintang justru menurut saya merupakan kelemahan mereka. Saya selalu merasa jauh sebelum final dimulai bahwa kekuatan Jerman Barat sebagai tim adalah jauh lebih hebat. Jerman Barat menang menurut saya dalam kekompakan dan usaha maksimal bersama sebagai suatu bangsa. Ketika menit awal Belanda leading saya tetap tenang. Akhirnya Jerman Barat yang menang dengan skor 2-1. Suatu trauma bagi Cruyff dan Belanda pada umumnya yang menurut saya tidak pernah hilang dari jidat mereka sampai hari ini. Lihat saja kejuaraan Eropa 2008 yang lalu. Begitu sombongnya pencinta Belanda bilang bahwa Belanda tinggal memilih lawan untuk di final nanti (untuk kemudian akan dihancurkan pula oleh Belanda). Semua ini karena rekor yang mengagumkan di awal. Ternyata keok kepada Rusia. Kelihatannya Belanda menjadi spesialis hebat di awal tapi rapuh di ujung. Yah semoga sajalah tahun ini bisa sembuh.
Tahun 78 saya menonton final di Argentina sebagai mahasiswa S1 di Bandung. Itu adalah masa yang memorable karena kampus saya sedang tidak normal berkenaan dengan bentrok demo besar-besaran saat itu. Ada kelas-kelas yang menyelenggarakan proses belajar mengajar dengan TV siaran terbatas. Jadi hanya 1 dosen yang mengajar tapi disiarkan ke banyak kelas. Kita melihat dosen mengajar kita melalui tv. Betapa shocknya dosen melihat dari monitor feedbacknya para mahasiswa mengerubungi tv yang terletak di ujung setiap kelas yang diganti channelnya untuk melihat siaran piala dunia. Sejak saat itulah program TVST di kampus saya diganti dengan single channel dan akhirnya gagal total.
Jerman keok. Di final Belanda yang "kelihatannya hebat" dipurukkan oleh duet Argentina Mario Kempes dan Leopoldo Luque.
Tahun 82 saya berharap banyak tetapi Jerman di final dikalahkan oleh Italia 3-1. Saya menonton pada tingkat akhir di perkuliahan.
Tahun 86 Jerman dikalahkan Argentina 3-2 di menit-menit akhir (berawal dari umpan silang yang hebat dari Maradona). Waktu itu saya telah memulai karir dalam bekerja.
Tahun 90 Jerman menjadi juara dunia mengalahkan Argentina 1-0 (Maradona menangis tersedu-sedu). Waktu itu saya dalam persiapan menuju pernikahan.
Tahun 94 dan 98 adalah tahun kelam bagi Jerman. Semua saya tonton dalam rona kehidupan yang berbeda di mana anak-anak beranjak besar dan perubahan karir dari bekerja profesional menjadi dosen.
Tahun 2002 Jerman kalah lagi di final kepada Brazil (2-0). Gol dicetak oleh Ronaldo dan Rivaldo (dikenal dengan sebutan Ro-Ro). Saya memegang sebuah jabatan tinggi di sebuah universitas.
Tahun 2006 Jerman dikalahkan di semi final oleh Italia dalam pertandingan yang dramatis.
Demikianlah piala dunia. Dia terus bergulir. Entah mengapa rasanya saya melihatnya seperti pilar-pilar berjarak sama yang dihiasi oleh ornamen-ornamen dan tumbuhan menjalar yang membuat pilar-pilar itu indah. Nama ornamen-ornamen itu, "kehidupan saya."
Friday, May 15, 2009
Terbang ke Medan
Terbang ke Medan adalah sesuatu yang kerap kulakukan.
Sekali waktu aku terbang sendiri ke Medan. Waktu itu belum banyak orang memakai handphone. Akupun baru saja mendapat handphone dari kantor.
Ketika pesawat baru saja touch down di Polonia Medan, terdengar seorang dengan suara logat Bataknya yang kental memberi instruksi dengan suara agak keras, nampaknya kepada anaknya di rumahnya di Medan:
"Kau itu Ucok?" Sejenak mungkin diiyakan oleh anaknya yang menerima telepon di rumah. Lalu laki-laki setengah baya dan berkumis (sesudah agak kucari dari mana suara orang yang langsung menghidupkan handphone itu) itu meneruskan: "Na jemput dulu Bapa ya!" katanya.
Sekian detik kemudian dia berkata lagi dengan suara keras: "Di mana lagi?! Ya di Airport!"
Dalam hati aku ketawa, dasar kawan ini tidak bisa untuk sedikit lebih lembut (apalagi kepada anaknya sendiri). Apalah salahnya kalau dia terangkan dulu bahwa dia (sang ayah ini) baru mendarat di Polonia dan minta tolong untuk dijemput oleh anaknya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekali waktu yang lain aku terbang dengan seorang teman kantorku. Sama dengan aku, dia juga seorang berdarah Sumatera Utara.
Sejak naiknya sejumlah orang memang kulihat ada seorang wanita yang kelihatannya menangis sedih. Teman-temannyapun demikian.
Dan ketika pesawat telah mengangkasapun masih terdengar isak tangis perempuan. Tetapi yang membuat penasaran adalah kedengarannya suara isak tangis datang dari dua sumber yang berbeda.
Sumber pertama tampaknya datang dari belakang, yaitu dari perempuan dengan rombongan yang tadi kulihat naik ke pesawat (aku dan temanku telah duluan naik dan duduk di pesawat).
Sumber yang kedua tampaknya ada di sisi depan (kursi yang menghadap langsung ke dinding pemisah kelas ekonomi dengan kelas bisnis).
Kalau agak didengarkan memang kita jadi agak terganggu juga mendengar tangisan yang datang dari dua tempat itu.
Temanku terbang yang duduk di sebelahku itu memang seorang yang punya sifat "selalu mau tau". Maka setelah sekian waktu dia mengatakan bahwa dia akan ke toilet belakang sambil mencoba mengetahui kenapa perempuan yang duduk di belakang itu menangis.
Aku membiarkan dia pergi ke belakang.
Ketika dia sudah kembali lagi, agak bersemangat dia menceritakan temuannya. Dia mengatakan bahwa perempuan yang menangis di belakang itu rupanya pulang ke Medan untuk melihat suaminya yang meninggal di Medan.
Yang paling membuat perempuan itu sedih rupanya adalah bagaimana dia akan bersikap/atau bagaimana caranya dia datang ke tempat duka karena dia adalah bukan istri pertama.
Mungkin karena penasaran, beberapa saat kemudian dia bangkit lagi dan menuju ke arah depan pesawat. Sebetulnya aku tidak terlalu memperhatikan dia.
Ketika dia kembali lagi ke tempat duduk di sampingku, mukanya agak merah dan sedikit terengah-engah. Dikatakannya bahwa perempuan yang menangis di depan juga pulang ke Medan melihat suaminya yang meninggal, dan keduanya datang ke orang (meninggal) yang sama! (Rupanya temanku yang selalu ingin tahu ini sempat di belakang tadi menanya dengan lebih jauh tentang nama orang yang meninggal dan alamat duka yang dituju).
Yang paling hebat menurut dia, yang menangis di belakang dan di depan ini tidak tahu kalau mereka mendatangi orang yang sama!
Lalu dengan agak takjub dan sedikit geli kami mendiskusikan bagaimana kalau isteri-isteri ini nanti bertemu, termasuk dengan isteri pertama yang mungkin ditemui di Medan, dan bagaimana kalau ada isteri yang lain lagi?
Sekali waktu aku terbang sendiri ke Medan. Waktu itu belum banyak orang memakai handphone. Akupun baru saja mendapat handphone dari kantor.
Ketika pesawat baru saja touch down di Polonia Medan, terdengar seorang dengan suara logat Bataknya yang kental memberi instruksi dengan suara agak keras, nampaknya kepada anaknya di rumahnya di Medan:
"Kau itu Ucok?" Sejenak mungkin diiyakan oleh anaknya yang menerima telepon di rumah. Lalu laki-laki setengah baya dan berkumis (sesudah agak kucari dari mana suara orang yang langsung menghidupkan handphone itu) itu meneruskan: "Na jemput dulu Bapa ya!" katanya.
Sekian detik kemudian dia berkata lagi dengan suara keras: "Di mana lagi?! Ya di Airport!"
Dalam hati aku ketawa, dasar kawan ini tidak bisa untuk sedikit lebih lembut (apalagi kepada anaknya sendiri). Apalah salahnya kalau dia terangkan dulu bahwa dia (sang ayah ini) baru mendarat di Polonia dan minta tolong untuk dijemput oleh anaknya.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekali waktu yang lain aku terbang dengan seorang teman kantorku. Sama dengan aku, dia juga seorang berdarah Sumatera Utara.
Sejak naiknya sejumlah orang memang kulihat ada seorang wanita yang kelihatannya menangis sedih. Teman-temannyapun demikian.
Dan ketika pesawat telah mengangkasapun masih terdengar isak tangis perempuan. Tetapi yang membuat penasaran adalah kedengarannya suara isak tangis datang dari dua sumber yang berbeda.
Sumber pertama tampaknya datang dari belakang, yaitu dari perempuan dengan rombongan yang tadi kulihat naik ke pesawat (aku dan temanku telah duluan naik dan duduk di pesawat).
Sumber yang kedua tampaknya ada di sisi depan (kursi yang menghadap langsung ke dinding pemisah kelas ekonomi dengan kelas bisnis).
Kalau agak didengarkan memang kita jadi agak terganggu juga mendengar tangisan yang datang dari dua tempat itu.
Temanku terbang yang duduk di sebelahku itu memang seorang yang punya sifat "selalu mau tau". Maka setelah sekian waktu dia mengatakan bahwa dia akan ke toilet belakang sambil mencoba mengetahui kenapa perempuan yang duduk di belakang itu menangis.
Aku membiarkan dia pergi ke belakang.
Ketika dia sudah kembali lagi, agak bersemangat dia menceritakan temuannya. Dia mengatakan bahwa perempuan yang menangis di belakang itu rupanya pulang ke Medan untuk melihat suaminya yang meninggal di Medan.
Yang paling membuat perempuan itu sedih rupanya adalah bagaimana dia akan bersikap/atau bagaimana caranya dia datang ke tempat duka karena dia adalah bukan istri pertama.
Mungkin karena penasaran, beberapa saat kemudian dia bangkit lagi dan menuju ke arah depan pesawat. Sebetulnya aku tidak terlalu memperhatikan dia.
Ketika dia kembali lagi ke tempat duduk di sampingku, mukanya agak merah dan sedikit terengah-engah. Dikatakannya bahwa perempuan yang menangis di depan juga pulang ke Medan melihat suaminya yang meninggal, dan keduanya datang ke orang (meninggal) yang sama! (Rupanya temanku yang selalu ingin tahu ini sempat di belakang tadi menanya dengan lebih jauh tentang nama orang yang meninggal dan alamat duka yang dituju).
Yang paling hebat menurut dia, yang menangis di belakang dan di depan ini tidak tahu kalau mereka mendatangi orang yang sama!
Lalu dengan agak takjub dan sedikit geli kami mendiskusikan bagaimana kalau isteri-isteri ini nanti bertemu, termasuk dengan isteri pertama yang mungkin ditemui di Medan, dan bagaimana kalau ada isteri yang lain lagi?
Tuesday, May 12, 2009
Prof. KT Sirait masih menyimpan Tugas Akhir saya!
Hari ini istri saya yang mengajar di UKI (Sekretaris Universitas UKI) tanpa disengaja bertemu dengan Prof. KT Sirait.
Prof. DR. Ing. KT Sirait adalah mantan Rektor UKI. Beliau seorang yang hebat di bidangnya. Sekian puluh tahun dia mengajar di ITB Jurusan Elektro. Secara bersamaan dia mengajar juga di UKI Jurusan Elektro. Beliau ahli tegangan tinggi. Dikenal sebagai salah seorang ahli paling ternama di Indonesia di bidang ini. Menurut cerita, ketika beliau mengikuti test masuk di salah satu universitas yang sangat top di Jerman, beliau mendapatkan nilai tertinggi. Mengalahkan semua calon dari negara lain dan satu-satunya orang dari Indonesia saat itu. Kemudian dalam perjalanan karirnya, dia terpilih menjadi Rektor UKI. Selanjutnya dia dikenal pula sebagai seorang aktivis politik dan kemasyarakatan. Beberapa saat lamanya beliau bersama abangnya, Prof. DR. Midian Sirait, membentuk dan membina partai politik yang diberi nama PDKB (Partai Demokrasi Kasih Bangsa).
Meskipun tidak banyak jumlahnya, kiprah wakil mereka di DPR sangat berarti. Sekian tahun pula Prof. KT Sirait menjadi anggota DPR.
Tetapi bagi saya beliau itu sangat khusus, karena beliaulah pembimbing tugas akhir S1 saya di ITB beberapa tahun yang lampau. Waktu itu beliau juga adalah Dekan Fakultas Teknologi Industri. Jurusan Elektro adalah salah satu jurusan di bawah pengelolaan beliau.
Istri saya mengatakan bahwa beliau senang sekali bertemu dengan istri saya pada hari ini. Kebetulan memang ada hubungan khusus antara beliau dengan ayah mertua saya, Prof. DR. O. Simbolon, karena mereka pernah bekerjasama di banyak organisasi. Mulai dari di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional sampai ke organisasi-organisasi kemasyarakatan lain.
Hubungan antar Prof. Sirait dengan mertua saya memang sangat baik. Mereka selalu saling mengirim salam satu sama lain. Mereka selalu saling mengingat. Beliau tahu bahwa saya (salah seorang yang pernah dibimbingnya di ITB) menyunting salah satu putri Prof. Simbolon, itulah istri saya. Beliau datang ke resepsi pernikahan kami beberapa tahun yang lampau sebagai rasa persahabatan yang erat dengan memenuhi undangan dari mertua saya.
Banyak mereka membicarakan tentang mertua saya. Beliau terkejut mendengar mertua saya mengalami stroke. Beliau berjanji suatu saat akan mengunjungi mertua saya.
Lalu pembicaraan mereka hari ini bergeser ke arah saya. Beliau dengan senang dan bangga menceritakan tentang saya (ini sungguh luar biasa bagi saya). Dengan senang diberikannya kartu namanya kepada istri saya agar disampaikan kepada saya. Saya selalu ingat sama dia (maksudnya saya), kata Beliau. Tugas akhirnya sampai sekarang masih saya pegang, lanjut Beliau (ini hebat bukan?!). Yang lebih mengagetkan saya lagi, Beliau menambahkan bahwa walaupun saya anak bimbingannya, tetapi Beliau merasa banyak mendapat input rohani dari saya (ini lebih gila lagi!).
Lama sekali waktu yang saya lalui untuk menyelesaikan tugas akhir S1 saya di ITB. Persoalan utamanya adalah ketidaktersediaan data yang memadai untuk penyusunan tugas akhir itu. Judul Tugas Akhir saya itu adalah "Pengaruh Ketinggian Kelompok Awan Rendah pada Penentuan Parameter Petir di Indonesia".
Sekian lama saya mondar-mandir mencari data, tetapi tidak saya dapatkan yang memadai waktu itu. Tidak terasa perjalanan membuat tugas akhir sudah tahunan. Lalu Pak Sirait meneguhkan saya agar saya mengontak ke luar negeri. Pergaulan, kompetensi dan kharisma Pak Sirait rupanya dikenal bukan hanya di Indonesia, tapi juga di banyak negara lain.
Syukurlah saya dikaruniai Tuhan kemampuan berbahasa Inggris yang cukup lumayan. Sambil memberikan daftar nama-nama rekanan beliau di luar negeri, saya ingat betul beliau memuji konsep surat saya kepada mereka yang telah saya siapkan. Tentunya dalam bahasa Inggris.
Dengan menggunakan telex (alat komunikasi paling canggih jaman itu), saya berkomunikasi dengan banyak ahli di luar negeri yang sayapun belum kenal sebelumnya. Luar biasa rupanya pergaulan antar ilmuwan di dunia ini (atau karena nama Pak Sirait yang begitu hebat?). Semua telex yang saya kirimkan tidak ada yang tidak berbalas. Bahkan ketika saya melebarkan kontak ke banyak ahli negara lain yang bukan rekomendasi Pak Siraitpun, saya mendapat balasan. Bayangkan bagaimana hebatnya saya berbalas telex dengan ahli dari Jerman, AS, Swiss, Perancis, Jepang, Kanada, Inggris dan banyak negara lain lagi, bahkan sampai dengan Afrika Selatan (waktu itu WNI tidak boleh pergi ke sana karena alasan politik, padahal saya berhubungan dengan telex). Pada prinsipnya semua mereka berusaha membantu. Saya cukup heran dengan solidaritas mereka. Banyak sekali bahan tertulis saya dapat dari luar negeri (dikirimkan cuma-cuma). Dari Jerman salah seorang yang baru promosi Doktor mengirimkan copy disertasinya!
Sempat saya berpikir apa yang memotivasi mereka untuk memberikan reaksi yang begitu hangat? Belakangan tampaknya saya sampai ke kesimpulan bahwa semua ahli itu memiliki solidaritas yang tinggi, karena sadar bahwa penelitian orang lain akan merupakan manfaat pula bagi mereka kelak di kemudian hari! Berarti mereka menganggap bahwa semua orang yang melakukan penelitian di dunia ini adalah saling menopang.
Akan tetapi sangat disayangkan bahwa bukan data utama yang saya perlukan yang mereka berikan. Hal ini karena rupanya dalam hal penelitian saya, merekapun belum tentu lebih hebat dari kita (Ingat bahwa Indonesia adalah negara yang amat kaya akan petir. Jauh lebih kaya dibandingkan dengan banyak negara, termasuk negara-negara yang dianggap memiliki teknologi tinggi. Suatu berkah yang luar biasa dari Tuhan bagi bangsa Indonesia).
Jadi sekian tahunlah tugas akhir saya itu tidak selesai-selesai. Sampai suatu ketika datang pertolongan Tuhan yang membisikkan kepada saya bahwa kondisi di Indonesia (data utama yang saya perlukan) bisa saya prediksi dengan menggunakan suatu rumus transformasi dari data-data lain yang tersedia. Jembatan pencapaian ini saya dapati dengan asumsi bahwa sesungguhnya fenomena fisika (alam) adalah sesungguhnya suatu data yang tersambung dengan sistem yang mengelilinginya.
Mendapat ide yang dari Tuhan itu saya lari menghadap Pak Sirait. Saya jelaskan dan tanyakan pada Pak Sirait, bolehkah data yang saya pakai adalah data transformasi (hal ini dinyatakan secara tertulis dalam tugas akhir saya, jadi sama sekali tidak ada maksud untuk berbohong). Langsung Pak Sirait menjawab, Boleh!
Satu minggu tanpa tidur saya mengetik (masih dengan mesin tik manual) menyelesaikan bab 4 dan bab 5 dari tugas akhir saya. Pada hari deadline untuk mengejar wisuda, saya lari pagi itu menghadap Pak Sirait. Biasanya pemeriksaan Pembimbing akan memakan waktu beberapa hari, dan dengan sejumlah koreksi pula. Pagi itu bagiku tidak ada hari lain karena sebelum jam 12 semua tandatangan Pembimbing harus didapatkan untuk kelengkapan sidang.
Mujizat datang ketika Pak Sirait memeriksa dengan seksama tulisan saya beberapa lama, tidak menemui sesuatu kesalahan prinsipiil sedikitpun, kecuali ada dua atau tiga notasi yang perlu ditambahkan. Pak Sirait berkali-kali mengucapkan kepuasannya tentang kata-kata yang saya susun. Beberapa kali dia bilang, Bagus ini, bagus ini! seolah dia sedang betul-betul menikmati tulisan itu.
Saya lari ke rumah memperbaikinya, membawa ke fotocopy dan semua selesai hari itu.
Tidak disangka ketika esoknya akan diadakan Sidang Tugas Akhir bagi saya, Pak Sirait tidak bisa datang karena rapat penting di Fakultas! Beliau memanggil 3 orang kami yang akan disidang esok hari. Beliau mengutarakan penyesalannya karena tidak bisa hadir besok. Lalu Beliau bertanya bagaimana kalau sidang ditunda. Betapa berkecamuk hati saya karena berarti saya harus menunggu wisuda setidaknya satu semester lagi, padahal sudah lama sekali saya belum lulus juga (sudah 7 tahun).
Karena kami bertiga membisu, Beliau melanjutkan bertanya lagi, Tapi saya mau bertanya pada saudara-saudara, apa saudara-saudara berani maju tanpa saya?
2 orang teman saya terdiam dan agak menggeleng ketika Pak Sirait memandang mereka satu persatu. Ketika pandangan Beliau sampai kepada saya, tanpa saya sadari ada kekuatan dari dada saya untuk berkata mantap: Berani Pak!
Pak Sirait gembira dan bangga dengan jawaban saya. Kata Beliau, Nah begitu dong! Saya bangga saudara Sahat berani, katanya.
Harus begitu. Kita harus berani, kata Beliau lagi.
Masih saya ingat, sambil berkata demikian Beliau mengepalkan tangan kanannya di dadanya.
Bagaimana saudara berdua yang lain ini? lanjutnya lagi.
Barulah kedua teman saya yang lain mengangguk pelan. Pak Sirait mengatakan bahwa Beliau akan mengutus salah seorang Dosen asisten Beliau untuk mendampingi kami.
Habislah saya dibantai tanpa Pembimbing di suatu hari yang bagi saya merupakan salah satu hari terpanjang dalam hidup saya (waktu berjalan lambat sekali di ruang sidang itu). Saya harus berhadapan dengan para penguji tanpa dihadiri Pembimbing. Saya mendapat nilai Judicium, B.
Ketika hari telah siang dan Pak Sirait telah kembali ke kantornya, saya menghadap. Beliau terperanjat karena saya dapat B. Beliau merasa tidak puas. Baiklah, katanya. Meskipun mereka memberi B, bagi saya saudara mendapat A, katanya lagi. Maka di kolom untuk nilai dari Pembimbing, beliau memberikan nilai A pada saya. Kami berjabatan tangan. Saya menjadi Insinyur Elektro ITB!
Suatu hari beberapa waktu sebelum semua hal di atas ini ..........................
saya bertugas menjadi salah satu anggota dari panitia Natal ITB. Pak Sirait menjadi Ketua Perayaan Natal ITB saat itu. Adalah beberapa kali kami bertemu dan berdiskusi untuk menyukseskan perayaan Natal tersebut. Mungkin secara tidak sengaja kami menjadi cukup bersahabat. Pak Sirait adalah seorang yang baik hati dan tidak banyak cingcong. Kami panitiapun telah berketetapan hati untuk tidak membuat Pak Sirait pusing. Semua urusan kami tackle dengan baik dengan bimbingan dan pengarahan Pak Sirait.
Ketika perayaan dilaksanakan, saya diminta untuk menjadi Pembawa Acara. Memang saya berusaha sekuat tenaga untuk membawakan acara tersebut dengan baik. Menurut banyak orang acara berlangsung dengan sangat baik. Baik dari para pendukung acara, penyusunan acara, maupun pemanduan keseluruhan acara. Banyak sekali orang yang merasa terkesan.
Ketika acara selesai Pak Sirait dan Ibu secara khusus datang menyalami saya. Masih saya ingat kata-kata Beliau, Saya merasa melihat seorang Pembawa Acara yang very professional! kata Beliau. Pak Sirait dan Ibu sangat senang waktu itu.
Suatu hari dalam hari-hari tanpa akhir ketika menyusun tugas akhir yang tidak berakhir-berakhir, Pak Sirait tiba-tiba memanggil saya. Itu adalah sesuatu yang amat menyentak, karena biasanya saya yang menghadap beliau untuk melaporkan progress tugas akhir. Kali ini Beliau yang memanggil saya. Berdebar-debar hati saya menuju ke kantor Beliau. Berita apakah gerangan akan Beliau sampaikan pada saya? tanya hati saya.
Ketika saya masuk, dia menerima saya dengan senang sekali. Rupanya kehadiran saya sudah ditunggu. Lalu dengan senang dia menceritakan bahwa dia membutuhkan saya hari itu, tapi bukan urusan tugas akhir. Hari itu rupanya ada salah satu staf Departemen yang kemalangan. Rupanya Beliau ingin mengirim karangan bunga besar. Hanya, Beliau sungguh-sungguh tidak tahu bagaimana kata-kata terbaik untuk dituliskan di karangan bunga itu. Itulah sebabnya dia memanggil saya.
Bukankah itu sesuatu yang luar biasa? Sekian banyak orang di sekitar Beliau yang dapat menolong seharusnya, tapi mengapa saya yang dibutuhkan Beliau? Saya betul-betul merasa dihargai oleh kerendahan hati Beliau. Lalu dia memanggil stafnya untuk mengikuti kata-kata yang saya keluarkan. Bagi saya memang ini tidak terlalu sulit karena sekian tahun lamanya saya kuliah di Bandung, saya mengikuti berbagai organisasi sosial kemasyarakatan. Melakukan hal-halyang seperti ini sudah biasa bagi saya.
Begitu tulisan yang dua kalimat itu selesai, Beliau begitu senang. Beliau menginstruksikan stafnya untuk segera mengirim tulisan itu ke ahli pembuat kembang untuk dipasang di karangan bunga. Tapi sebelum tulisan dibawa, lebih dulu Pak Sirait "menguliahi" staf-stafnya, bahwa inilah kata-kata yang dari tadi tidak keluar dari tangannya walaupun sebenarnya ada di pikirannya.
Berkali-kali beliau mengucapkan terima kasih pada saya. Aneh bukan?
Dalam proses pembimbingan Tugas Akhir, sekali Pak Sirait berkata pada saya, Kalau kau nanti, jadi asistenkulah kau ya, ujarnya. Ada berapa kali kata-kata ini diucapkannya kepada saya.
Saya merasa amat tersanjung. Tetapi di kemudian hari saya tidak memenuhinya, karena saya mendapat impresi yang salah dan persepsi yang salah pula melihat Isnuwardianto, kawan saya seangkatan yang telah lebih dulu menjadi dosen dan asisten Pak Sirait.
Sekarang Isnu menjadi Dekan Fakultas Teknologi Industri (sudah pernah menjadi Pembantu Rektor III) di ITB.
Saya memilih untuk meninggalkan Bandung dan bekerja profesional di beberapa perusahaan. Yah, memang jalan hidup orang berragam adanya.
Sekali waktu, ketika saya sudah sekian tahun bekerja, seorang teman mengajak saya bertemu Pak Sirait yang sudah menjadi Rektor UKI. Dia mengajak saya karena tahu bahwa saya punya hubungan dekat dengan Pak Sirait. Rupanya salah seorang teman kami yang sedang bersekolah di Inggris terancam tidak dapat meneruskan menjadi S3 karena dananya diputuskan dari Indonesia. Teman yang mengajak saya ini berinisiatif untuk meminta pertolongan Pak Sirait agar teman kami yang di Inggris itu kuliahnya tidak putus di tengah jalan.
Kami berdua pergi ke UKI. Secara protokoler kami agak dihambat Satpam karena pagi itu kami datang tanpa perjanjian dengan Pak Sirait. Pak Siraitpun memang belum datang. Kami diminta untuk datang lain kali. (Gayanya Satpam agak pongah, yah tentu dapat dimengertilah bahwa itu semua tentu tuntutan protokoler juga). Ketika kami mau meninggalkan ruang Rektorat, Pak Sirait datang. Dari jauh saya sangat berharap Beliau masih mengingat saya. Tanpa dinyana, justru Beliau yang berteriak, Hei, anda rupanya! katanya. Aku sedang cari anda!, lanjutnya pula.
Kami berjabatan tangan dengan erat sekali, penuh sukacita. Saya memperkenalkan teman yang bersama dengan saya (Edu Napitupulu). Dibimbingnya kami ke ruangannya yang besar. Tanpa tedeng aling-aling dia mengajak saya ke meja besarnya yang terletak di tengah ruangan.
Ada yang mau saya tunjukkan, katanya bahagia. Di atas meja besar itu saya lihat ada banyak dokumen. Sambil membimbing saya ke meja besar itu, dia mengatakan bahwa besok dia akan ke Perancis dan akan membawakan berbicara di suatu seminar.
Tahukah seminar apa yang akan saya bawakan? tanyanya pada saya sambil dari tadi tidak terlalu menghiraukan teman saya yang datang bersama saya tadi.
Dengan bangga diangkat dan dibukanya sebuah dokumen, lalu didekatkannya kepada saya sambil bertanya, Coba dulu perhatikan bagian yang ini, kenal tidak dengan materi ini? tanyanya.
Saya perhatikan pelan-pelan (sudah lama saya tidak memegang langsung masalah elektro). Lalu ketika memori saya bertaut, saya menjawab, Saya tahu Pak, jawab saya. Ini adalah tugas akhir saya di S1 dulu!
Begitu senangnya Pak Sirait rupanya Pak Sirait bisa memperlihatkan materi seminarnya itu kepada saya. Lalu dia menjelaskan lebih lanjut mengenai persiapan-persiapannya untuk membawa sejumlah materi yang salah satunya adalah tugas akhir saya sekian tahun yang lampau itu. Beliau merasa lega sekali memperlihatkan ini pada saya.
Teman kami yang sekolah di Inggris itu kemudian hari akhirnya bisa menyelesaikan S3nya dengan baik.
Sekian tahun kemudian seorang kerabat dekat saya meninggal dunia. Waktu itu saya telah berubah profesi menjadi dosen (saya tinggalkan dunia profesional). Di rumah duka itu saya bertemu dengan Pak Sirait. Betapa senang bertemu kembali dengan Beliau. Lalu Beliau bertanya pada saya, apa yang saya kerjakan sekarang. Lalu dengan agak tersipu-sipu saya menjawab, Saya sekarang mengajar Pak, kata saya.
Tiba-tiba Beliau tersentak dengan mata yang berbinar-binar, Nah, apa saya bilang dulu kan? Kan sudah dari dulu saya minta anda menjadi asisten saya. Sudah dari dulu saya perhatikan bahwa anda memiliki bakat mengajar! katanya. Akhirnya tidak kemana-mana juga bukan? Akhirnya anda jadi dosen juga!
Kami ketawa-ketawa.
Begitulah berkat besar hari ini. Bukankah suatu pengalaman menyedihkan sekolah 7 tahun mengambil S1 di ITB? Semua orang sudah meninggalkan (sudah lulus) saya. Tidak terhitung banyaknya air mata dan kesedihan pada waktu itu. Rasanya saya orang paling sial di dunia ini. Tetapi melihat pada hari ini, bahwa seorang sebesar Pak Sirait masih memegang tugas akhir saya dan selalu masih mengingat saya dengan "beberapa hal kecil" yang tidak saya perhitungkan sama sekali, bukankah itu suatu perkara yang besar?
Berapa ratus/mungkin ribu orang sudah dibimbing oleh Pak Sirait yang hebat itu, tapi tugas akhir dari saya yang bodoh ini yang masih dipegang Beliau. Yang saya susun bertahun-tahun. Dan Beliau masih ingat saya. Itu mujizat besar bagi saya. Sayapun tidak akan pernah melupakan Beliau dengan segala kebaikan dan kerendahan hatinya.
Kiranya Pak Sirait senantiasa diberkati Tuhan dan selalu memberikan kiprah terbaik bagi bangsa dan negara.
Prof. DR. Ing. KT Sirait adalah mantan Rektor UKI. Beliau seorang yang hebat di bidangnya. Sekian puluh tahun dia mengajar di ITB Jurusan Elektro. Secara bersamaan dia mengajar juga di UKI Jurusan Elektro. Beliau ahli tegangan tinggi. Dikenal sebagai salah seorang ahli paling ternama di Indonesia di bidang ini. Menurut cerita, ketika beliau mengikuti test masuk di salah satu universitas yang sangat top di Jerman, beliau mendapatkan nilai tertinggi. Mengalahkan semua calon dari negara lain dan satu-satunya orang dari Indonesia saat itu. Kemudian dalam perjalanan karirnya, dia terpilih menjadi Rektor UKI. Selanjutnya dia dikenal pula sebagai seorang aktivis politik dan kemasyarakatan. Beberapa saat lamanya beliau bersama abangnya, Prof. DR. Midian Sirait, membentuk dan membina partai politik yang diberi nama PDKB (Partai Demokrasi Kasih Bangsa).
Meskipun tidak banyak jumlahnya, kiprah wakil mereka di DPR sangat berarti. Sekian tahun pula Prof. KT Sirait menjadi anggota DPR.
Tetapi bagi saya beliau itu sangat khusus, karena beliaulah pembimbing tugas akhir S1 saya di ITB beberapa tahun yang lampau. Waktu itu beliau juga adalah Dekan Fakultas Teknologi Industri. Jurusan Elektro adalah salah satu jurusan di bawah pengelolaan beliau.
Istri saya mengatakan bahwa beliau senang sekali bertemu dengan istri saya pada hari ini. Kebetulan memang ada hubungan khusus antara beliau dengan ayah mertua saya, Prof. DR. O. Simbolon, karena mereka pernah bekerjasama di banyak organisasi. Mulai dari di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional sampai ke organisasi-organisasi kemasyarakatan lain.
Hubungan antar Prof. Sirait dengan mertua saya memang sangat baik. Mereka selalu saling mengirim salam satu sama lain. Mereka selalu saling mengingat. Beliau tahu bahwa saya (salah seorang yang pernah dibimbingnya di ITB) menyunting salah satu putri Prof. Simbolon, itulah istri saya. Beliau datang ke resepsi pernikahan kami beberapa tahun yang lampau sebagai rasa persahabatan yang erat dengan memenuhi undangan dari mertua saya.
Banyak mereka membicarakan tentang mertua saya. Beliau terkejut mendengar mertua saya mengalami stroke. Beliau berjanji suatu saat akan mengunjungi mertua saya.
Lalu pembicaraan mereka hari ini bergeser ke arah saya. Beliau dengan senang dan bangga menceritakan tentang saya (ini sungguh luar biasa bagi saya). Dengan senang diberikannya kartu namanya kepada istri saya agar disampaikan kepada saya. Saya selalu ingat sama dia (maksudnya saya), kata Beliau. Tugas akhirnya sampai sekarang masih saya pegang, lanjut Beliau (ini hebat bukan?!). Yang lebih mengagetkan saya lagi, Beliau menambahkan bahwa walaupun saya anak bimbingannya, tetapi Beliau merasa banyak mendapat input rohani dari saya (ini lebih gila lagi!).
Lama sekali waktu yang saya lalui untuk menyelesaikan tugas akhir S1 saya di ITB. Persoalan utamanya adalah ketidaktersediaan data yang memadai untuk penyusunan tugas akhir itu. Judul Tugas Akhir saya itu adalah "Pengaruh Ketinggian Kelompok Awan Rendah pada Penentuan Parameter Petir di Indonesia".
Sekian lama saya mondar-mandir mencari data, tetapi tidak saya dapatkan yang memadai waktu itu. Tidak terasa perjalanan membuat tugas akhir sudah tahunan. Lalu Pak Sirait meneguhkan saya agar saya mengontak ke luar negeri. Pergaulan, kompetensi dan kharisma Pak Sirait rupanya dikenal bukan hanya di Indonesia, tapi juga di banyak negara lain.
Syukurlah saya dikaruniai Tuhan kemampuan berbahasa Inggris yang cukup lumayan. Sambil memberikan daftar nama-nama rekanan beliau di luar negeri, saya ingat betul beliau memuji konsep surat saya kepada mereka yang telah saya siapkan. Tentunya dalam bahasa Inggris.
Dengan menggunakan telex (alat komunikasi paling canggih jaman itu), saya berkomunikasi dengan banyak ahli di luar negeri yang sayapun belum kenal sebelumnya. Luar biasa rupanya pergaulan antar ilmuwan di dunia ini (atau karena nama Pak Sirait yang begitu hebat?). Semua telex yang saya kirimkan tidak ada yang tidak berbalas. Bahkan ketika saya melebarkan kontak ke banyak ahli negara lain yang bukan rekomendasi Pak Siraitpun, saya mendapat balasan. Bayangkan bagaimana hebatnya saya berbalas telex dengan ahli dari Jerman, AS, Swiss, Perancis, Jepang, Kanada, Inggris dan banyak negara lain lagi, bahkan sampai dengan Afrika Selatan (waktu itu WNI tidak boleh pergi ke sana karena alasan politik, padahal saya berhubungan dengan telex). Pada prinsipnya semua mereka berusaha membantu. Saya cukup heran dengan solidaritas mereka. Banyak sekali bahan tertulis saya dapat dari luar negeri (dikirimkan cuma-cuma). Dari Jerman salah seorang yang baru promosi Doktor mengirimkan copy disertasinya!
Sempat saya berpikir apa yang memotivasi mereka untuk memberikan reaksi yang begitu hangat? Belakangan tampaknya saya sampai ke kesimpulan bahwa semua ahli itu memiliki solidaritas yang tinggi, karena sadar bahwa penelitian orang lain akan merupakan manfaat pula bagi mereka kelak di kemudian hari! Berarti mereka menganggap bahwa semua orang yang melakukan penelitian di dunia ini adalah saling menopang.
Akan tetapi sangat disayangkan bahwa bukan data utama yang saya perlukan yang mereka berikan. Hal ini karena rupanya dalam hal penelitian saya, merekapun belum tentu lebih hebat dari kita (Ingat bahwa Indonesia adalah negara yang amat kaya akan petir. Jauh lebih kaya dibandingkan dengan banyak negara, termasuk negara-negara yang dianggap memiliki teknologi tinggi. Suatu berkah yang luar biasa dari Tuhan bagi bangsa Indonesia).
Jadi sekian tahunlah tugas akhir saya itu tidak selesai-selesai. Sampai suatu ketika datang pertolongan Tuhan yang membisikkan kepada saya bahwa kondisi di Indonesia (data utama yang saya perlukan) bisa saya prediksi dengan menggunakan suatu rumus transformasi dari data-data lain yang tersedia. Jembatan pencapaian ini saya dapati dengan asumsi bahwa sesungguhnya fenomena fisika (alam) adalah sesungguhnya suatu data yang tersambung dengan sistem yang mengelilinginya.
Mendapat ide yang dari Tuhan itu saya lari menghadap Pak Sirait. Saya jelaskan dan tanyakan pada Pak Sirait, bolehkah data yang saya pakai adalah data transformasi (hal ini dinyatakan secara tertulis dalam tugas akhir saya, jadi sama sekali tidak ada maksud untuk berbohong). Langsung Pak Sirait menjawab, Boleh!
Satu minggu tanpa tidur saya mengetik (masih dengan mesin tik manual) menyelesaikan bab 4 dan bab 5 dari tugas akhir saya. Pada hari deadline untuk mengejar wisuda, saya lari pagi itu menghadap Pak Sirait. Biasanya pemeriksaan Pembimbing akan memakan waktu beberapa hari, dan dengan sejumlah koreksi pula. Pagi itu bagiku tidak ada hari lain karena sebelum jam 12 semua tandatangan Pembimbing harus didapatkan untuk kelengkapan sidang.
Mujizat datang ketika Pak Sirait memeriksa dengan seksama tulisan saya beberapa lama, tidak menemui sesuatu kesalahan prinsipiil sedikitpun, kecuali ada dua atau tiga notasi yang perlu ditambahkan. Pak Sirait berkali-kali mengucapkan kepuasannya tentang kata-kata yang saya susun. Beberapa kali dia bilang, Bagus ini, bagus ini! seolah dia sedang betul-betul menikmati tulisan itu.
Saya lari ke rumah memperbaikinya, membawa ke fotocopy dan semua selesai hari itu.
Tidak disangka ketika esoknya akan diadakan Sidang Tugas Akhir bagi saya, Pak Sirait tidak bisa datang karena rapat penting di Fakultas! Beliau memanggil 3 orang kami yang akan disidang esok hari. Beliau mengutarakan penyesalannya karena tidak bisa hadir besok. Lalu Beliau bertanya bagaimana kalau sidang ditunda. Betapa berkecamuk hati saya karena berarti saya harus menunggu wisuda setidaknya satu semester lagi, padahal sudah lama sekali saya belum lulus juga (sudah 7 tahun).
Karena kami bertiga membisu, Beliau melanjutkan bertanya lagi, Tapi saya mau bertanya pada saudara-saudara, apa saudara-saudara berani maju tanpa saya?
2 orang teman saya terdiam dan agak menggeleng ketika Pak Sirait memandang mereka satu persatu. Ketika pandangan Beliau sampai kepada saya, tanpa saya sadari ada kekuatan dari dada saya untuk berkata mantap: Berani Pak!
Pak Sirait gembira dan bangga dengan jawaban saya. Kata Beliau, Nah begitu dong! Saya bangga saudara Sahat berani, katanya.
Harus begitu. Kita harus berani, kata Beliau lagi.
Masih saya ingat, sambil berkata demikian Beliau mengepalkan tangan kanannya di dadanya.
Bagaimana saudara berdua yang lain ini? lanjutnya lagi.
Barulah kedua teman saya yang lain mengangguk pelan. Pak Sirait mengatakan bahwa Beliau akan mengutus salah seorang Dosen asisten Beliau untuk mendampingi kami.
Habislah saya dibantai tanpa Pembimbing di suatu hari yang bagi saya merupakan salah satu hari terpanjang dalam hidup saya (waktu berjalan lambat sekali di ruang sidang itu). Saya harus berhadapan dengan para penguji tanpa dihadiri Pembimbing. Saya mendapat nilai Judicium, B.
Ketika hari telah siang dan Pak Sirait telah kembali ke kantornya, saya menghadap. Beliau terperanjat karena saya dapat B. Beliau merasa tidak puas. Baiklah, katanya. Meskipun mereka memberi B, bagi saya saudara mendapat A, katanya lagi. Maka di kolom untuk nilai dari Pembimbing, beliau memberikan nilai A pada saya. Kami berjabatan tangan. Saya menjadi Insinyur Elektro ITB!
Suatu hari beberapa waktu sebelum semua hal di atas ini ..........................
saya bertugas menjadi salah satu anggota dari panitia Natal ITB. Pak Sirait menjadi Ketua Perayaan Natal ITB saat itu. Adalah beberapa kali kami bertemu dan berdiskusi untuk menyukseskan perayaan Natal tersebut. Mungkin secara tidak sengaja kami menjadi cukup bersahabat. Pak Sirait adalah seorang yang baik hati dan tidak banyak cingcong. Kami panitiapun telah berketetapan hati untuk tidak membuat Pak Sirait pusing. Semua urusan kami tackle dengan baik dengan bimbingan dan pengarahan Pak Sirait.
Ketika perayaan dilaksanakan, saya diminta untuk menjadi Pembawa Acara. Memang saya berusaha sekuat tenaga untuk membawakan acara tersebut dengan baik. Menurut banyak orang acara berlangsung dengan sangat baik. Baik dari para pendukung acara, penyusunan acara, maupun pemanduan keseluruhan acara. Banyak sekali orang yang merasa terkesan.
Ketika acara selesai Pak Sirait dan Ibu secara khusus datang menyalami saya. Masih saya ingat kata-kata Beliau, Saya merasa melihat seorang Pembawa Acara yang very professional! kata Beliau. Pak Sirait dan Ibu sangat senang waktu itu.
Suatu hari dalam hari-hari tanpa akhir ketika menyusun tugas akhir yang tidak berakhir-berakhir, Pak Sirait tiba-tiba memanggil saya. Itu adalah sesuatu yang amat menyentak, karena biasanya saya yang menghadap beliau untuk melaporkan progress tugas akhir. Kali ini Beliau yang memanggil saya. Berdebar-debar hati saya menuju ke kantor Beliau. Berita apakah gerangan akan Beliau sampaikan pada saya? tanya hati saya.
Ketika saya masuk, dia menerima saya dengan senang sekali. Rupanya kehadiran saya sudah ditunggu. Lalu dengan senang dia menceritakan bahwa dia membutuhkan saya hari itu, tapi bukan urusan tugas akhir. Hari itu rupanya ada salah satu staf Departemen yang kemalangan. Rupanya Beliau ingin mengirim karangan bunga besar. Hanya, Beliau sungguh-sungguh tidak tahu bagaimana kata-kata terbaik untuk dituliskan di karangan bunga itu. Itulah sebabnya dia memanggil saya.
Bukankah itu sesuatu yang luar biasa? Sekian banyak orang di sekitar Beliau yang dapat menolong seharusnya, tapi mengapa saya yang dibutuhkan Beliau? Saya betul-betul merasa dihargai oleh kerendahan hati Beliau. Lalu dia memanggil stafnya untuk mengikuti kata-kata yang saya keluarkan. Bagi saya memang ini tidak terlalu sulit karena sekian tahun lamanya saya kuliah di Bandung, saya mengikuti berbagai organisasi sosial kemasyarakatan. Melakukan hal-halyang seperti ini sudah biasa bagi saya.
Begitu tulisan yang dua kalimat itu selesai, Beliau begitu senang. Beliau menginstruksikan stafnya untuk segera mengirim tulisan itu ke ahli pembuat kembang untuk dipasang di karangan bunga. Tapi sebelum tulisan dibawa, lebih dulu Pak Sirait "menguliahi" staf-stafnya, bahwa inilah kata-kata yang dari tadi tidak keluar dari tangannya walaupun sebenarnya ada di pikirannya.
Berkali-kali beliau mengucapkan terima kasih pada saya. Aneh bukan?
Dalam proses pembimbingan Tugas Akhir, sekali Pak Sirait berkata pada saya, Kalau kau nanti, jadi asistenkulah kau ya, ujarnya. Ada berapa kali kata-kata ini diucapkannya kepada saya.
Saya merasa amat tersanjung. Tetapi di kemudian hari saya tidak memenuhinya, karena saya mendapat impresi yang salah dan persepsi yang salah pula melihat Isnuwardianto, kawan saya seangkatan yang telah lebih dulu menjadi dosen dan asisten Pak Sirait.
Sekarang Isnu menjadi Dekan Fakultas Teknologi Industri (sudah pernah menjadi Pembantu Rektor III) di ITB.
Saya memilih untuk meninggalkan Bandung dan bekerja profesional di beberapa perusahaan. Yah, memang jalan hidup orang berragam adanya.
Sekali waktu, ketika saya sudah sekian tahun bekerja, seorang teman mengajak saya bertemu Pak Sirait yang sudah menjadi Rektor UKI. Dia mengajak saya karena tahu bahwa saya punya hubungan dekat dengan Pak Sirait. Rupanya salah seorang teman kami yang sedang bersekolah di Inggris terancam tidak dapat meneruskan menjadi S3 karena dananya diputuskan dari Indonesia. Teman yang mengajak saya ini berinisiatif untuk meminta pertolongan Pak Sirait agar teman kami yang di Inggris itu kuliahnya tidak putus di tengah jalan.
Kami berdua pergi ke UKI. Secara protokoler kami agak dihambat Satpam karena pagi itu kami datang tanpa perjanjian dengan Pak Sirait. Pak Siraitpun memang belum datang. Kami diminta untuk datang lain kali. (Gayanya Satpam agak pongah, yah tentu dapat dimengertilah bahwa itu semua tentu tuntutan protokoler juga). Ketika kami mau meninggalkan ruang Rektorat, Pak Sirait datang. Dari jauh saya sangat berharap Beliau masih mengingat saya. Tanpa dinyana, justru Beliau yang berteriak, Hei, anda rupanya! katanya. Aku sedang cari anda!, lanjutnya pula.
Kami berjabatan tangan dengan erat sekali, penuh sukacita. Saya memperkenalkan teman yang bersama dengan saya (Edu Napitupulu). Dibimbingnya kami ke ruangannya yang besar. Tanpa tedeng aling-aling dia mengajak saya ke meja besarnya yang terletak di tengah ruangan.
Ada yang mau saya tunjukkan, katanya bahagia. Di atas meja besar itu saya lihat ada banyak dokumen. Sambil membimbing saya ke meja besar itu, dia mengatakan bahwa besok dia akan ke Perancis dan akan membawakan berbicara di suatu seminar.
Tahukah seminar apa yang akan saya bawakan? tanyanya pada saya sambil dari tadi tidak terlalu menghiraukan teman saya yang datang bersama saya tadi.
Dengan bangga diangkat dan dibukanya sebuah dokumen, lalu didekatkannya kepada saya sambil bertanya, Coba dulu perhatikan bagian yang ini, kenal tidak dengan materi ini? tanyanya.
Saya perhatikan pelan-pelan (sudah lama saya tidak memegang langsung masalah elektro). Lalu ketika memori saya bertaut, saya menjawab, Saya tahu Pak, jawab saya. Ini adalah tugas akhir saya di S1 dulu!
Begitu senangnya Pak Sirait rupanya Pak Sirait bisa memperlihatkan materi seminarnya itu kepada saya. Lalu dia menjelaskan lebih lanjut mengenai persiapan-persiapannya untuk membawa sejumlah materi yang salah satunya adalah tugas akhir saya sekian tahun yang lampau itu. Beliau merasa lega sekali memperlihatkan ini pada saya.
Teman kami yang sekolah di Inggris itu kemudian hari akhirnya bisa menyelesaikan S3nya dengan baik.
Sekian tahun kemudian seorang kerabat dekat saya meninggal dunia. Waktu itu saya telah berubah profesi menjadi dosen (saya tinggalkan dunia profesional). Di rumah duka itu saya bertemu dengan Pak Sirait. Betapa senang bertemu kembali dengan Beliau. Lalu Beliau bertanya pada saya, apa yang saya kerjakan sekarang. Lalu dengan agak tersipu-sipu saya menjawab, Saya sekarang mengajar Pak, kata saya.
Tiba-tiba Beliau tersentak dengan mata yang berbinar-binar, Nah, apa saya bilang dulu kan? Kan sudah dari dulu saya minta anda menjadi asisten saya. Sudah dari dulu saya perhatikan bahwa anda memiliki bakat mengajar! katanya. Akhirnya tidak kemana-mana juga bukan? Akhirnya anda jadi dosen juga!
Kami ketawa-ketawa.
Begitulah berkat besar hari ini. Bukankah suatu pengalaman menyedihkan sekolah 7 tahun mengambil S1 di ITB? Semua orang sudah meninggalkan (sudah lulus) saya. Tidak terhitung banyaknya air mata dan kesedihan pada waktu itu. Rasanya saya orang paling sial di dunia ini. Tetapi melihat pada hari ini, bahwa seorang sebesar Pak Sirait masih memegang tugas akhir saya dan selalu masih mengingat saya dengan "beberapa hal kecil" yang tidak saya perhitungkan sama sekali, bukankah itu suatu perkara yang besar?
Berapa ratus/mungkin ribu orang sudah dibimbing oleh Pak Sirait yang hebat itu, tapi tugas akhir dari saya yang bodoh ini yang masih dipegang Beliau. Yang saya susun bertahun-tahun. Dan Beliau masih ingat saya. Itu mujizat besar bagi saya. Sayapun tidak akan pernah melupakan Beliau dengan segala kebaikan dan kerendahan hatinya.
Kiranya Pak Sirait senantiasa diberkati Tuhan dan selalu memberikan kiprah terbaik bagi bangsa dan negara.
Sunday, April 26, 2009
Terbang Bandung-Jakarta
Dalam beberapa perjalanan naik kapal terbang, ada sejumlah peristiwa menarik yang kualami. Salah satunya seperti di bawah ini.
Untuk pertama kali aku naik kapal terbang dari Bandung ke Jakarta. Itu adalah perjalanan yang tidak terlalu terpikirkan akan pernah kulakukan. Jakarta-Bandung adalah jarak yang tidak terlalu jauh. Sekian tahun aku menjadi mahasiswa di Bandung kebanyakan aku memakai ka Parahyangan sebagai transportasi utama.
Ketika jalan tol belum ada biasanya pilihan siapapun kita yang akan pergi-pulang ke Bandung akan naik mobil dengan 2 alternatif utama jaman dulu yaitu lewat Jl. Raya Bogor Lama atau lewat Parung.
Setelah jalan tol Jagorawi selesai maka ada 1 alternatif lagi yaitu lewat Jagorawi dan melalui Puncak. Sekarang setelah Jl. Tol Cikampek disambungkan langsung ke Bandung, tentulah perjalanan menjadi sangat cepat (hanya sekitar 1,5 - 2 jam). Ini sungguh luar biasa kalau dibandingkan masa paling baheula yang silam di mana ke Bandung bisa memakan waktu 7-10 jam.
Waktu itu aku berdua dengan kawan kantorku, Andy Natanael Manik. Kami baru menyelesaikan suatu tugas di Bandung dan ingin pulang agak cepat ke Jakarta. Dengan ide yang melintas saja di kepala kami, kami memutuskan naik kapal terbang supaya cepat sampai di Jakarta. Kami start dari Husein Sastranegara di Bandung. Andy yang mencetuskannya ketika kami meninggalkan kantor klien kami. "Bagaimana kalau kita naik kapal terbang saja pulang supaya cepat sampai ke kantor Bang?", katanya. Dia memang selalu memanggil aku abangnya. Akupun sangat setuju.
Lucu rasanya, sekian tahun di Bandung dan sering ada sejumlah kegiatan sekitar lap terbang di Bandung, tapi baru sekali itu naik kapal terbang dari Bandung. Khusus bagiku lebih berarti rasanya, karena lap terbang ini dekat dengan Jl. Pajajaran, jalan panjang yang dituju oleh tukang becakku ketika kami bermaksud ke Unpad pada awal masa tinggalku di Bandung. (Lihat tulisanku Tgl 7 Maret 2009, "Naik becak ke Universitas Pajajaran")
Kapal terbangnya CN 235. Untuk kedua kalinya jenis pesawat ini kupakai (yang pertama ketika kami dari Ujung Pandang/Makassar menuju Pomalaa/Sulawesi Tenggara). Perjalanan udara ternyata begitu singkat, hanya sekitar 15 menit. Dalam waktu sesingkat itu kami telah mendarat lagi di lap terbang Halim Perdana Kusumah, Jakarta. Di sana supir dan mobil kantor kami masing-masing telah siap menjemput dan membawa kami langsung ke kantor.
Itulah uniknya perjalanan itu. Dari kantor klien kami yang cukup jauh (untuk ukuran Bandung) di sekitar Ujung Berung ke lap terbang Husein S. diperlukan sejumlah waktu karena siang itu traffic cukup padat di sekitar Jl. Pahlawan dan juga di sekitar Jl. Pajajaran/Andir. Untuk membeli tiket kemudian menunggu untuk naik ke pesawat juga membutuhkan sejumlah waktu. Ketika kami sampai di Halim PK Jakarta menuju kantor, juga makan waktu karena agak macet. Padahal komponen perjalanan terjauh (Bandung-Jakarta) justru berlangsung cuma 15 menit. Sebentar saja kami take off, lalu sudah turun lagi.
Waktu itu belum banyak orang memiliki handphone. Sebagai eksekutif di perusahaan kami, saat itu perusahaan belum membekali kami dengan hp. Hp pun waktu itu masih sangat mahal. Terlalu mahal untuk kami beli secara pribadi.
Yang duduk di depan kami di pesawat ternyata adalah orang yang sejak di ruang tunggu di Husein S. telah memakai-makai hp. Lumayanlah petantang-petentengnya dia. Maklum waktu itu pemakai hp masih langka. Dari penampilannya kelihatannya dia seorang eksekutif muda perusahaan swasta. Badannya cukup tegap. Tangan kanan memegang hp, tangan kiri menenteng tas kerja tipis.
Ketika pesawat berjalan, stewardess memeragakan petunjuk keselamatan terbang. Tapi kami lihat orang yang punya hp itu terus masih ngobrol menggunakan hpnya. Bahkan sampai ketika stewardess mengatakan agar semua peralatan elektronik termasuk hp harus dimatikan karena akan mengganggu sistem navigasi penerbangan, dia masih belum juga mematikan hpnya.
Hal ini membuat kami berdua kesal. Selain mungkin kami juga sebenarnya cemburu karena belum punya hp, perasaan kami yang tadinya masih agak cuek lihat orang terus bicara dengan hp berubah menjadi kesal. Norak orang ini, pikir kami. Mungkin dasar orang kaya baru, pikir kami.
Ketika pesawat sudah dalam posisi standby dan dalam beberapa saat akan dipacu untuk terbang, Andy yang sudah kesal betul nampaknya berkata kepadaku: "Yang macam ginilah bikin aku palak, Bang" katanya. "Palak" dalam bahasa Medan berarti kesal sekali/keki.
Bagaimana kalau kutegor si goblok ini Bang?, lanjutnya. Karena mengingat keselamatan terbang maka aku menjawab, "Tegorlah Dek". Lalu Andy memanjangkan badan dan lehernya ke depan menghardik orang di depannya itu, "Hey! katanya. Matikan hpmu itu!"
Agak kaget tapi cuek orang itu cuma memandang sebentar ke belakang di mana empat buah bola mata kami sudah memandang dengan kesal kepadanya.
Tidak disangka, orang itu berbalik lagi dan masih terus memakai hpnya! Makin marahlah si Andy. Bagaimana Bang, kutumbuklah orang ini? katanya. (Kutumbuk dalam bahasa Medan artinya kutonjok). Cepat nalarku memberi komando ke mulutku yang dengan geram berkata, "Memang gila ini orang!"
Selanjutnya terjadilah hal yang tak disangka. Andy melepas seatbeltnya, lalu berdiri, dan dari belakang langsung dijitaknya kepala eksekutif muda gila itu dengan keras.
Orang itu kaget dan melihat ke belakang, tapi bertumbukan mata dengan 4 bola mata nanar penuh amarah. Lalu Andy bilang, "Kau mau bikin mati kita semua?! Mau kuhantam lagi kau?!" kata Andy.
Mendengar bentakan keras Andy dan tak kuat melihat mata-mata kami yang sudah memiliki ukuran diameter di atas normal, barulah nampaknya dia kecut dan mematikan hpnya.
Kapal terbang memacu, Andy terduduk dan memasang seatbeltnya. Lalu sejenak kemudian kami sudah di udara, melihat bendungan Jatiluhur sebentar dari atas, lalu mendengar pengumuman akan turun lagi di Halim PK.
Sampai kami turun tidak sedikitpun eksekutif muda yang sok itu berani melihat kepada kami.
Untuk pertama kali aku naik kapal terbang dari Bandung ke Jakarta. Itu adalah perjalanan yang tidak terlalu terpikirkan akan pernah kulakukan. Jakarta-Bandung adalah jarak yang tidak terlalu jauh. Sekian tahun aku menjadi mahasiswa di Bandung kebanyakan aku memakai ka Parahyangan sebagai transportasi utama.
Ketika jalan tol belum ada biasanya pilihan siapapun kita yang akan pergi-pulang ke Bandung akan naik mobil dengan 2 alternatif utama jaman dulu yaitu lewat Jl. Raya Bogor Lama atau lewat Parung.
Setelah jalan tol Jagorawi selesai maka ada 1 alternatif lagi yaitu lewat Jagorawi dan melalui Puncak. Sekarang setelah Jl. Tol Cikampek disambungkan langsung ke Bandung, tentulah perjalanan menjadi sangat cepat (hanya sekitar 1,5 - 2 jam). Ini sungguh luar biasa kalau dibandingkan masa paling baheula yang silam di mana ke Bandung bisa memakan waktu 7-10 jam.
Waktu itu aku berdua dengan kawan kantorku, Andy Natanael Manik. Kami baru menyelesaikan suatu tugas di Bandung dan ingin pulang agak cepat ke Jakarta. Dengan ide yang melintas saja di kepala kami, kami memutuskan naik kapal terbang supaya cepat sampai di Jakarta. Kami start dari Husein Sastranegara di Bandung. Andy yang mencetuskannya ketika kami meninggalkan kantor klien kami. "Bagaimana kalau kita naik kapal terbang saja pulang supaya cepat sampai ke kantor Bang?", katanya. Dia memang selalu memanggil aku abangnya. Akupun sangat setuju.
Lucu rasanya, sekian tahun di Bandung dan sering ada sejumlah kegiatan sekitar lap terbang di Bandung, tapi baru sekali itu naik kapal terbang dari Bandung. Khusus bagiku lebih berarti rasanya, karena lap terbang ini dekat dengan Jl. Pajajaran, jalan panjang yang dituju oleh tukang becakku ketika kami bermaksud ke Unpad pada awal masa tinggalku di Bandung. (Lihat tulisanku Tgl 7 Maret 2009, "Naik becak ke Universitas Pajajaran")
Kapal terbangnya CN 235. Untuk kedua kalinya jenis pesawat ini kupakai (yang pertama ketika kami dari Ujung Pandang/Makassar menuju Pomalaa/Sulawesi Tenggara). Perjalanan udara ternyata begitu singkat, hanya sekitar 15 menit. Dalam waktu sesingkat itu kami telah mendarat lagi di lap terbang Halim Perdana Kusumah, Jakarta. Di sana supir dan mobil kantor kami masing-masing telah siap menjemput dan membawa kami langsung ke kantor.
Itulah uniknya perjalanan itu. Dari kantor klien kami yang cukup jauh (untuk ukuran Bandung) di sekitar Ujung Berung ke lap terbang Husein S. diperlukan sejumlah waktu karena siang itu traffic cukup padat di sekitar Jl. Pahlawan dan juga di sekitar Jl. Pajajaran/Andir. Untuk membeli tiket kemudian menunggu untuk naik ke pesawat juga membutuhkan sejumlah waktu. Ketika kami sampai di Halim PK Jakarta menuju kantor, juga makan waktu karena agak macet. Padahal komponen perjalanan terjauh (Bandung-Jakarta) justru berlangsung cuma 15 menit. Sebentar saja kami take off, lalu sudah turun lagi.
Waktu itu belum banyak orang memiliki handphone. Sebagai eksekutif di perusahaan kami, saat itu perusahaan belum membekali kami dengan hp. Hp pun waktu itu masih sangat mahal. Terlalu mahal untuk kami beli secara pribadi.
Yang duduk di depan kami di pesawat ternyata adalah orang yang sejak di ruang tunggu di Husein S. telah memakai-makai hp. Lumayanlah petantang-petentengnya dia. Maklum waktu itu pemakai hp masih langka. Dari penampilannya kelihatannya dia seorang eksekutif muda perusahaan swasta. Badannya cukup tegap. Tangan kanan memegang hp, tangan kiri menenteng tas kerja tipis.
Ketika pesawat berjalan, stewardess memeragakan petunjuk keselamatan terbang. Tapi kami lihat orang yang punya hp itu terus masih ngobrol menggunakan hpnya. Bahkan sampai ketika stewardess mengatakan agar semua peralatan elektronik termasuk hp harus dimatikan karena akan mengganggu sistem navigasi penerbangan, dia masih belum juga mematikan hpnya.
Hal ini membuat kami berdua kesal. Selain mungkin kami juga sebenarnya cemburu karena belum punya hp, perasaan kami yang tadinya masih agak cuek lihat orang terus bicara dengan hp berubah menjadi kesal. Norak orang ini, pikir kami. Mungkin dasar orang kaya baru, pikir kami.
Ketika pesawat sudah dalam posisi standby dan dalam beberapa saat akan dipacu untuk terbang, Andy yang sudah kesal betul nampaknya berkata kepadaku: "Yang macam ginilah bikin aku palak, Bang" katanya. "Palak" dalam bahasa Medan berarti kesal sekali/keki.
Bagaimana kalau kutegor si goblok ini Bang?, lanjutnya. Karena mengingat keselamatan terbang maka aku menjawab, "Tegorlah Dek". Lalu Andy memanjangkan badan dan lehernya ke depan menghardik orang di depannya itu, "Hey! katanya. Matikan hpmu itu!"
Agak kaget tapi cuek orang itu cuma memandang sebentar ke belakang di mana empat buah bola mata kami sudah memandang dengan kesal kepadanya.
Tidak disangka, orang itu berbalik lagi dan masih terus memakai hpnya! Makin marahlah si Andy. Bagaimana Bang, kutumbuklah orang ini? katanya. (Kutumbuk dalam bahasa Medan artinya kutonjok). Cepat nalarku memberi komando ke mulutku yang dengan geram berkata, "Memang gila ini orang!"
Selanjutnya terjadilah hal yang tak disangka. Andy melepas seatbeltnya, lalu berdiri, dan dari belakang langsung dijitaknya kepala eksekutif muda gila itu dengan keras.
Orang itu kaget dan melihat ke belakang, tapi bertumbukan mata dengan 4 bola mata nanar penuh amarah. Lalu Andy bilang, "Kau mau bikin mati kita semua?! Mau kuhantam lagi kau?!" kata Andy.
Mendengar bentakan keras Andy dan tak kuat melihat mata-mata kami yang sudah memiliki ukuran diameter di atas normal, barulah nampaknya dia kecut dan mematikan hpnya.
Kapal terbang memacu, Andy terduduk dan memasang seatbeltnya. Lalu sejenak kemudian kami sudah di udara, melihat bendungan Jatiluhur sebentar dari atas, lalu mendengar pengumuman akan turun lagi di Halim PK.
Sampai kami turun tidak sedikitpun eksekutif muda yang sok itu berani melihat kepada kami.
Monday, April 6, 2009
Kimia yang mengerikan
Waktu kami tingkat I tidak pelak lagi pelajaran yang paling sulit adalah mata kuliah Kimia. Di setiap semester mata kuliah itu ada.
Tidak hanya sulit, tapi juga mengerikan. Dikatakan demikian karena memang tingkat kesulitannya betul-betul tinggi. Memang belajar bersama itu baik, tetapi khusus untuk mata kuliah Kimia ini kita harus sampai ke tingkat penguasaan pribadi pada kategori mahir. Banyak textbook harus kita baca di perpustakaan. Banyak soal harus kita latih penyelesaiannya.
Setiap soal yang keluar sangat variatif dan kreatif. Lalu penjagaan selama ujian sangat ketat. Jangan main-main untuk coba-coba menyontek. Kalau sampai ketahuan menyontek, akan diblack list dan bisa di drop out.
Ada juga yang berhasil menyontek, tapi itu pasti pertama kenekadannya luar biasa (berani mati), atau sangat mujur tidak ketahuan. Sudah banyak sekali mahasiswa DO karena mata kuliah ini, entah karena memang tidak lulus-lulus, atau kena black list.
Koordinator dosen adalah seorang dosen super killer (biasanya dialah kebanyakan yang membuat soal-soal). Inisialnya HA. Kalau sudah bermasalah dengan dia maka masa depan pasti suramlah.
Hal yang unik lagi, soal-soal yang bersifat pilihan ganda bisa dibuat sedemikian rupa sehingga kalau kita salah mengerjakan selalu ada pilihan jawabannya. Kadang kala karena kita terlena (ada jawaban seperti yang kita buat), kita pilih jawaban itu. Padahal jawaban kita itu salah. Jadi seolah-olah pembuat soal itu sudah tahu ke mana mereka yang kemahirannya tidak terlalu tinggi akan nyasar pikirannya. Luar biasa!
Ujian itu sendiri untuk setiap soal hasilnya akan memperoleh nilai minus 1 kalau salah, nol kalau tidak menjawab, plus 3 kalau benar. Jadi tentunya kalau kita tidak yakin, lebih baik tidak menjawab. Kalau nekad menjawab, perkaranya tinggal dua, untung atau apes. Sayangnya probabilitasnya lebih besar pada apes (1 banding 3, karena biasanya pilihan jawaban ada 4).
Pengikut ujian selalu banyak karena selain mahasiswa tingkat I, mahasiswa yang lebih senior bahkan yang mahasiswa abadi (waktu itu masih banyak mahasiswa abadi) pun masih banyak yang ikut. Hal ini terjadi karena telah diterapkannya sistem kredit (sks). ITB adalah universitas pertama yang serentak memberlakukan sistem sks.
Midtest semester pertama merupakan outcome paling mengerikan dalam hidupku. Kalau tidak salah aku mendapat nilai 33. Seumur hidup baru itulah aku dapat nilai sejelek itu.
Tapi karena pengindeksan nilai berdasarkan sebaran statistik, maka nilai 33 ku itu masih menghasilkan indeks C! Yang dapat sedikit di atas 50 saja sudah pasti dapat A.
Adalah seorang teman kami yang sangat membuat kami sedih karena nilainya minus sangat besar (kalau tidak salah minus 30an/jumlah soal biasanya sekitar 33-34). Beberapa kami mencoba untuk menghibur teman kami itu. Kami banyak bertanya kepadanya mengapa sampai dia bisa mendapat nilai jeblok begitu.
Jawabannya sungguh mengagetkan kami. Dengan entengnya dia bilang bahwa dia melihat seorang teman kami yang berkacamata tebal orangnya cukup meyakinkan (waktu itu kami belum terlalu lama bersama-sama di kelas T06/baru sekitar tiga bulanan, jadi belum terlalu saling mengenal). Waktu ujian kebetulan mereka duduk berdekatan. Lalu teman ini nekad menyontek pada teman yang berkacamata tebal itu (rupanya dia mujur tidak ketahuan). Total semua jawaban teman berkacamata tebal yang duduk di depannya diconteknya.
Belakangan barulah kami semua tahu bahwa soal-soal kami telah diacak. Nomor 2 pada kita belum tentu sama soalnya dengan nomor 2 teman yang lain. Pantaslah teman kami yang nekad itu dapat nilai minus besar sekali. Lebih mengerikan lagi nilai midtest I, midtest II dan Ujian Akhir diberi bobot. Misalnya 20%, 30% dan 50%. Jadi, nilai minus besar menjadi lebih besar lagi minusnya! (Weleh, weleh ....)
Pada tahun-tahun belakangan rupanya ada semacam "gerakan reformasi" di ITB sehingga dosen super killer tadi barangkali diminta untuk tidak lagi menjadi penjagal mahasiswa. Sebenarnya aku kurang setuju dengan kebijakan itu, tapi yah sudahlah. (Aku tadinya merasa itu adalah trade mark yang mengagumkan. Itu adalah kenangan salah satu yang paling dramatis pada tingkat I).
Lucu sekali pada tahun-tahun aku mau lulus kulihat soal ujian mahasiswa tingkat I tidak masuk akal mudahnya (dari dulu semua ujian selalu dipampang jawaban/solusinya di papan pengumuman, jadi semua orang bisa melihat dan menyalin). Kuingat sekali ada dipampang solusi ujian mahasiswa tingkat I tahun itu yang cuma 10 nomor. Salah satu soalnya begini (aku selalu ingat): Diketahui sekian mol zat tertentu dilarutkan pada sekian mililiter larutan tertentu. Hitunglah Molaritas campuran baru itu.
Gila kan mudahnya soal kimia itu jadinya? Penurunan mutukah di ITB? Sangat boleh jadi! Entah kenapa kita tidak punya lagi pride sebagai orang yang dulu pernah menaklukkan mata kuliah Kimia yang mengerikan itu (walaupun cuma dapat C, itu dulu sudah luar biasa, tidak mungkin bisa dibandingkan dengan mereka yang dapat A dengan soal-soal yang mudahnya minta ampun).
Beberapa tahun kemudian terbetik kabar bahwa dosen super killer itu meninggal dunia. Well ... well ...
Tidak hanya sulit, tapi juga mengerikan. Dikatakan demikian karena memang tingkat kesulitannya betul-betul tinggi. Memang belajar bersama itu baik, tetapi khusus untuk mata kuliah Kimia ini kita harus sampai ke tingkat penguasaan pribadi pada kategori mahir. Banyak textbook harus kita baca di perpustakaan. Banyak soal harus kita latih penyelesaiannya.
Setiap soal yang keluar sangat variatif dan kreatif. Lalu penjagaan selama ujian sangat ketat. Jangan main-main untuk coba-coba menyontek. Kalau sampai ketahuan menyontek, akan diblack list dan bisa di drop out.
Ada juga yang berhasil menyontek, tapi itu pasti pertama kenekadannya luar biasa (berani mati), atau sangat mujur tidak ketahuan. Sudah banyak sekali mahasiswa DO karena mata kuliah ini, entah karena memang tidak lulus-lulus, atau kena black list.
Koordinator dosen adalah seorang dosen super killer (biasanya dialah kebanyakan yang membuat soal-soal). Inisialnya HA. Kalau sudah bermasalah dengan dia maka masa depan pasti suramlah.
Hal yang unik lagi, soal-soal yang bersifat pilihan ganda bisa dibuat sedemikian rupa sehingga kalau kita salah mengerjakan selalu ada pilihan jawabannya. Kadang kala karena kita terlena (ada jawaban seperti yang kita buat), kita pilih jawaban itu. Padahal jawaban kita itu salah. Jadi seolah-olah pembuat soal itu sudah tahu ke mana mereka yang kemahirannya tidak terlalu tinggi akan nyasar pikirannya. Luar biasa!
Ujian itu sendiri untuk setiap soal hasilnya akan memperoleh nilai minus 1 kalau salah, nol kalau tidak menjawab, plus 3 kalau benar. Jadi tentunya kalau kita tidak yakin, lebih baik tidak menjawab. Kalau nekad menjawab, perkaranya tinggal dua, untung atau apes. Sayangnya probabilitasnya lebih besar pada apes (1 banding 3, karena biasanya pilihan jawaban ada 4).
Pengikut ujian selalu banyak karena selain mahasiswa tingkat I, mahasiswa yang lebih senior bahkan yang mahasiswa abadi (waktu itu masih banyak mahasiswa abadi) pun masih banyak yang ikut. Hal ini terjadi karena telah diterapkannya sistem kredit (sks). ITB adalah universitas pertama yang serentak memberlakukan sistem sks.
Midtest semester pertama merupakan outcome paling mengerikan dalam hidupku. Kalau tidak salah aku mendapat nilai 33. Seumur hidup baru itulah aku dapat nilai sejelek itu.
Tapi karena pengindeksan nilai berdasarkan sebaran statistik, maka nilai 33 ku itu masih menghasilkan indeks C! Yang dapat sedikit di atas 50 saja sudah pasti dapat A.
Adalah seorang teman kami yang sangat membuat kami sedih karena nilainya minus sangat besar (kalau tidak salah minus 30an/jumlah soal biasanya sekitar 33-34). Beberapa kami mencoba untuk menghibur teman kami itu. Kami banyak bertanya kepadanya mengapa sampai dia bisa mendapat nilai jeblok begitu.
Jawabannya sungguh mengagetkan kami. Dengan entengnya dia bilang bahwa dia melihat seorang teman kami yang berkacamata tebal orangnya cukup meyakinkan (waktu itu kami belum terlalu lama bersama-sama di kelas T06/baru sekitar tiga bulanan, jadi belum terlalu saling mengenal). Waktu ujian kebetulan mereka duduk berdekatan. Lalu teman ini nekad menyontek pada teman yang berkacamata tebal itu (rupanya dia mujur tidak ketahuan). Total semua jawaban teman berkacamata tebal yang duduk di depannya diconteknya.
Belakangan barulah kami semua tahu bahwa soal-soal kami telah diacak. Nomor 2 pada kita belum tentu sama soalnya dengan nomor 2 teman yang lain. Pantaslah teman kami yang nekad itu dapat nilai minus besar sekali. Lebih mengerikan lagi nilai midtest I, midtest II dan Ujian Akhir diberi bobot. Misalnya 20%, 30% dan 50%. Jadi, nilai minus besar menjadi lebih besar lagi minusnya! (Weleh, weleh ....)
Pada tahun-tahun belakangan rupanya ada semacam "gerakan reformasi" di ITB sehingga dosen super killer tadi barangkali diminta untuk tidak lagi menjadi penjagal mahasiswa. Sebenarnya aku kurang setuju dengan kebijakan itu, tapi yah sudahlah. (Aku tadinya merasa itu adalah trade mark yang mengagumkan. Itu adalah kenangan salah satu yang paling dramatis pada tingkat I).
Lucu sekali pada tahun-tahun aku mau lulus kulihat soal ujian mahasiswa tingkat I tidak masuk akal mudahnya (dari dulu semua ujian selalu dipampang jawaban/solusinya di papan pengumuman, jadi semua orang bisa melihat dan menyalin). Kuingat sekali ada dipampang solusi ujian mahasiswa tingkat I tahun itu yang cuma 10 nomor. Salah satu soalnya begini (aku selalu ingat): Diketahui sekian mol zat tertentu dilarutkan pada sekian mililiter larutan tertentu. Hitunglah Molaritas campuran baru itu.
Gila kan mudahnya soal kimia itu jadinya? Penurunan mutukah di ITB? Sangat boleh jadi! Entah kenapa kita tidak punya lagi pride sebagai orang yang dulu pernah menaklukkan mata kuliah Kimia yang mengerikan itu (walaupun cuma dapat C, itu dulu sudah luar biasa, tidak mungkin bisa dibandingkan dengan mereka yang dapat A dengan soal-soal yang mudahnya minta ampun).
Beberapa tahun kemudian terbetik kabar bahwa dosen super killer itu meninggal dunia. Well ... well ...
Subscribe to:
Posts (Atom)
