Friday, May 15, 2009

Terbang ke Medan

Terbang ke Medan adalah sesuatu yang kerap kulakukan.
Sekali waktu aku terbang sendiri ke Medan. Waktu itu belum banyak orang memakai handphone. Akupun baru saja mendapat handphone dari kantor.

Ketika pesawat baru saja touch down di Polonia Medan, terdengar seorang dengan suara logat Bataknya yang kental memberi instruksi dengan suara agak keras, nampaknya kepada anaknya di rumahnya di Medan:
"Kau itu Ucok?" Sejenak mungkin diiyakan oleh anaknya yang menerima telepon di rumah. Lalu laki-laki setengah baya dan berkumis (sesudah agak kucari dari mana suara orang yang langsung menghidupkan handphone itu) itu meneruskan: "Na jemput dulu Bapa ya!" katanya.
Sekian detik kemudian dia berkata lagi dengan suara keras: "Di mana lagi?! Ya di Airport!"

Dalam hati aku ketawa, dasar kawan ini tidak bisa untuk sedikit lebih lembut (apalagi kepada anaknya sendiri). Apalah salahnya kalau dia terangkan dulu bahwa dia (sang ayah ini) baru mendarat di Polonia dan minta tolong untuk dijemput oleh anaknya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Sekali waktu yang lain aku terbang dengan seorang teman kantorku. Sama dengan aku, dia juga seorang berdarah Sumatera Utara.
Sejak naiknya sejumlah orang memang kulihat ada seorang wanita yang kelihatannya menangis sedih. Teman-temannyapun demikian.
Dan ketika pesawat telah mengangkasapun masih terdengar isak tangis perempuan. Tetapi yang membuat penasaran adalah kedengarannya suara isak tangis datang dari dua sumber yang berbeda.
Sumber pertama tampaknya datang dari belakang, yaitu dari perempuan dengan rombongan yang tadi kulihat naik ke pesawat (aku dan temanku telah duluan naik dan duduk di pesawat).
Sumber yang kedua tampaknya ada di sisi depan (kursi yang menghadap langsung ke dinding pemisah kelas ekonomi dengan kelas bisnis).

Kalau agak didengarkan memang kita jadi agak terganggu juga mendengar tangisan yang datang dari dua tempat itu.
Temanku terbang yang duduk di sebelahku itu memang seorang yang punya sifat "selalu mau tau". Maka setelah sekian waktu dia mengatakan bahwa dia akan ke toilet belakang sambil mencoba mengetahui kenapa perempuan yang duduk di belakang itu menangis.
Aku membiarkan dia pergi ke belakang.

Ketika dia sudah kembali lagi, agak bersemangat dia menceritakan temuannya. Dia mengatakan bahwa perempuan yang menangis di belakang itu rupanya pulang ke Medan untuk melihat suaminya yang meninggal di Medan.
Yang paling membuat perempuan itu sedih rupanya adalah bagaimana dia akan bersikap/atau bagaimana caranya dia datang ke tempat duka karena dia adalah bukan istri pertama.

Mungkin karena penasaran, beberapa saat kemudian dia bangkit lagi dan menuju ke arah depan pesawat. Sebetulnya aku tidak terlalu memperhatikan dia.
Ketika dia kembali lagi ke tempat duduk di sampingku, mukanya agak merah dan sedikit terengah-engah. Dikatakannya bahwa perempuan yang menangis di depan juga pulang ke Medan melihat suaminya yang meninggal, dan keduanya datang ke orang (meninggal) yang sama! (Rupanya temanku yang selalu ingin tahu ini sempat di belakang tadi menanya dengan lebih jauh tentang nama orang yang meninggal dan alamat duka yang dituju).

Yang paling hebat menurut dia, yang menangis di belakang dan di depan ini tidak tahu kalau mereka mendatangi orang yang sama!
Lalu dengan agak takjub dan sedikit geli kami mendiskusikan bagaimana kalau isteri-isteri ini nanti bertemu, termasuk dengan isteri pertama yang mungkin ditemui di Medan, dan bagaimana kalau ada isteri yang lain lagi?

Tuesday, May 12, 2009

Prof. KT Sirait masih menyimpan Tugas Akhir saya!

Hari ini istri saya yang mengajar di UKI (Sekretaris Universitas UKI) tanpa disengaja bertemu dengan Prof. KT Sirait.

Prof. DR. Ing. KT Sirait adalah mantan Rektor UKI. Beliau seorang yang hebat di bidangnya. Sekian puluh tahun dia mengajar di ITB Jurusan Elektro. Secara bersamaan dia mengajar juga di UKI Jurusan Elektro. Beliau ahli tegangan tinggi. Dikenal sebagai salah seorang ahli paling ternama di Indonesia di bidang ini. Menurut cerita, ketika beliau mengikuti test masuk di salah satu universitas yang sangat top di Jerman, beliau mendapatkan nilai tertinggi. Mengalahkan semua calon dari negara lain dan satu-satunya orang dari Indonesia saat itu. Kemudian dalam perjalanan karirnya, dia terpilih menjadi Rektor UKI. Selanjutnya dia dikenal pula sebagai seorang aktivis politik dan kemasyarakatan. Beberapa saat lamanya beliau bersama abangnya, Prof. DR. Midian Sirait, membentuk dan membina partai politik yang diberi nama PDKB (Partai Demokrasi Kasih Bangsa).
Meskipun tidak banyak jumlahnya, kiprah wakil mereka di DPR sangat berarti. Sekian tahun pula Prof. KT Sirait menjadi anggota DPR.

Tetapi bagi saya beliau itu sangat khusus, karena beliaulah pembimbing tugas akhir S1 saya di ITB beberapa tahun yang lampau. Waktu itu beliau juga adalah Dekan Fakultas Teknologi Industri. Jurusan Elektro adalah salah satu jurusan di bawah pengelolaan beliau.

Istri saya mengatakan bahwa beliau senang sekali bertemu dengan istri saya pada hari ini. Kebetulan memang ada hubungan khusus antara beliau dengan ayah mertua saya, Prof. DR. O. Simbolon, karena mereka pernah bekerjasama di banyak organisasi. Mulai dari di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional sampai ke organisasi-organisasi kemasyarakatan lain.
Hubungan antar Prof. Sirait dengan mertua saya memang sangat baik. Mereka selalu saling mengirim salam satu sama lain. Mereka selalu saling mengingat. Beliau tahu bahwa saya (salah seorang yang pernah dibimbingnya di ITB) menyunting salah satu putri Prof. Simbolon, itulah istri saya. Beliau datang ke resepsi pernikahan kami beberapa tahun yang lampau sebagai rasa persahabatan yang erat dengan memenuhi undangan dari mertua saya.

Banyak mereka membicarakan tentang mertua saya. Beliau terkejut mendengar mertua saya mengalami stroke. Beliau berjanji suatu saat akan mengunjungi mertua saya.
Lalu pembicaraan mereka hari ini bergeser ke arah saya. Beliau dengan senang dan bangga menceritakan tentang saya (ini sungguh luar biasa bagi saya). Dengan senang diberikannya kartu namanya kepada istri saya agar disampaikan kepada saya. Saya selalu ingat sama dia (maksudnya saya), kata Beliau. Tugas akhirnya sampai sekarang masih saya pegang, lanjut Beliau (ini hebat bukan?!). Yang lebih mengagetkan saya lagi, Beliau menambahkan bahwa walaupun saya anak bimbingannya, tetapi Beliau merasa banyak mendapat input rohani dari saya (ini lebih gila lagi!).

Lama sekali waktu yang saya lalui untuk menyelesaikan tugas akhir S1 saya di ITB. Persoalan utamanya adalah ketidaktersediaan data yang memadai untuk penyusunan tugas akhir itu. Judul Tugas Akhir saya itu adalah "Pengaruh Ketinggian Kelompok Awan Rendah pada Penentuan Parameter Petir di Indonesia".
Sekian lama saya mondar-mandir mencari data, tetapi tidak saya dapatkan yang memadai waktu itu. Tidak terasa perjalanan membuat tugas akhir sudah tahunan. Lalu Pak Sirait meneguhkan saya agar saya mengontak ke luar negeri. Pergaulan, kompetensi dan kharisma Pak Sirait rupanya dikenal bukan hanya di Indonesia, tapi juga di banyak negara lain.
Syukurlah saya dikaruniai Tuhan kemampuan berbahasa Inggris yang cukup lumayan. Sambil memberikan daftar nama-nama rekanan beliau di luar negeri, saya ingat betul beliau memuji konsep surat saya kepada mereka yang telah saya siapkan. Tentunya dalam bahasa Inggris.

Dengan menggunakan telex (alat komunikasi paling canggih jaman itu), saya berkomunikasi dengan banyak ahli di luar negeri yang sayapun belum kenal sebelumnya. Luar biasa rupanya pergaulan antar ilmuwan di dunia ini (atau karena nama Pak Sirait yang begitu hebat?). Semua telex yang saya kirimkan tidak ada yang tidak berbalas. Bahkan ketika saya melebarkan kontak ke banyak ahli negara lain yang bukan rekomendasi Pak Siraitpun, saya mendapat balasan. Bayangkan bagaimana hebatnya saya berbalas telex dengan ahli dari Jerman, AS, Swiss, Perancis, Jepang, Kanada, Inggris dan banyak negara lain lagi, bahkan sampai dengan Afrika Selatan (waktu itu WNI tidak boleh pergi ke sana karena alasan politik, padahal saya berhubungan dengan telex). Pada prinsipnya semua mereka berusaha membantu. Saya cukup heran dengan solidaritas mereka. Banyak sekali bahan tertulis saya dapat dari luar negeri (dikirimkan cuma-cuma). Dari Jerman salah seorang yang baru promosi Doktor mengirimkan copy disertasinya!
Sempat saya berpikir apa yang memotivasi mereka untuk memberikan reaksi yang begitu hangat? Belakangan tampaknya saya sampai ke kesimpulan bahwa semua ahli itu memiliki solidaritas yang tinggi, karena sadar bahwa penelitian orang lain akan merupakan manfaat pula bagi mereka kelak di kemudian hari! Berarti mereka menganggap bahwa semua orang yang melakukan penelitian di dunia ini adalah saling menopang.

Akan tetapi sangat disayangkan bahwa bukan data utama yang saya perlukan yang mereka berikan. Hal ini karena rupanya dalam hal penelitian saya, merekapun belum tentu lebih hebat dari kita (Ingat bahwa Indonesia adalah negara yang amat kaya akan petir. Jauh lebih kaya dibandingkan dengan banyak negara, termasuk negara-negara yang dianggap memiliki teknologi tinggi. Suatu berkah yang luar biasa dari Tuhan bagi bangsa Indonesia).

Jadi sekian tahunlah tugas akhir saya itu tidak selesai-selesai. Sampai suatu ketika datang pertolongan Tuhan yang membisikkan kepada saya bahwa kondisi di Indonesia (data utama yang saya perlukan) bisa saya prediksi dengan menggunakan suatu rumus transformasi dari data-data lain yang tersedia. Jembatan pencapaian ini saya dapati dengan asumsi bahwa sesungguhnya fenomena fisika (alam) adalah sesungguhnya suatu data yang tersambung dengan sistem yang mengelilinginya.

Mendapat ide yang dari Tuhan itu saya lari menghadap Pak Sirait. Saya jelaskan dan tanyakan pada Pak Sirait, bolehkah data yang saya pakai adalah data transformasi (hal ini dinyatakan secara tertulis dalam tugas akhir saya, jadi sama sekali tidak ada maksud untuk berbohong). Langsung Pak Sirait menjawab, Boleh!

Satu minggu tanpa tidur saya mengetik (masih dengan mesin tik manual) menyelesaikan bab 4 dan bab 5 dari tugas akhir saya. Pada hari deadline untuk mengejar wisuda, saya lari pagi itu menghadap Pak Sirait. Biasanya pemeriksaan Pembimbing akan memakan waktu beberapa hari, dan dengan sejumlah koreksi pula. Pagi itu bagiku tidak ada hari lain karena sebelum jam 12 semua tandatangan Pembimbing harus didapatkan untuk kelengkapan sidang.

Mujizat datang ketika Pak Sirait memeriksa dengan seksama tulisan saya beberapa lama, tidak menemui sesuatu kesalahan prinsipiil sedikitpun, kecuali ada dua atau tiga notasi yang perlu ditambahkan. Pak Sirait berkali-kali mengucapkan kepuasannya tentang kata-kata yang saya susun. Beberapa kali dia bilang, Bagus ini, bagus ini! seolah dia sedang betul-betul menikmati tulisan itu.
Saya lari ke rumah memperbaikinya, membawa ke fotocopy dan semua selesai hari itu.

Tidak disangka ketika esoknya akan diadakan Sidang Tugas Akhir bagi saya, Pak Sirait tidak bisa datang karena rapat penting di Fakultas! Beliau memanggil 3 orang kami yang akan disidang esok hari. Beliau mengutarakan penyesalannya karena tidak bisa hadir besok. Lalu Beliau bertanya bagaimana kalau sidang ditunda. Betapa berkecamuk hati saya karena berarti saya harus menunggu wisuda setidaknya satu semester lagi, padahal sudah lama sekali saya belum lulus juga (sudah 7 tahun).
Karena kami bertiga membisu, Beliau melanjutkan bertanya lagi, Tapi saya mau bertanya pada saudara-saudara, apa saudara-saudara berani maju tanpa saya?
2 orang teman saya terdiam dan agak menggeleng ketika Pak Sirait memandang mereka satu persatu. Ketika pandangan Beliau sampai kepada saya, tanpa saya sadari ada kekuatan dari dada saya untuk berkata mantap: Berani Pak!

Pak Sirait gembira dan bangga dengan jawaban saya. Kata Beliau, Nah begitu dong! Saya bangga saudara Sahat berani, katanya.
Harus begitu. Kita harus berani, kata Beliau lagi.
Masih saya ingat, sambil berkata demikian Beliau mengepalkan tangan kanannya di dadanya.
Bagaimana saudara berdua yang lain ini? lanjutnya lagi.
Barulah kedua teman saya yang lain mengangguk pelan. Pak Sirait mengatakan bahwa Beliau akan mengutus salah seorang Dosen asisten Beliau untuk mendampingi kami.

Habislah saya dibantai tanpa Pembimbing di suatu hari yang bagi saya merupakan salah satu hari terpanjang dalam hidup saya (waktu berjalan lambat sekali di ruang sidang itu). Saya harus berhadapan dengan para penguji tanpa dihadiri Pembimbing. Saya mendapat nilai Judicium, B.
Ketika hari telah siang dan Pak Sirait telah kembali ke kantornya, saya menghadap. Beliau terperanjat karena saya dapat B. Beliau merasa tidak puas. Baiklah, katanya. Meskipun mereka memberi B, bagi saya saudara mendapat A, katanya lagi. Maka di kolom untuk nilai dari Pembimbing, beliau memberikan nilai A pada saya. Kami berjabatan tangan. Saya menjadi Insinyur Elektro ITB!

Suatu hari beberapa waktu sebelum semua hal di atas ini ..........................
saya bertugas menjadi salah satu anggota dari panitia Natal ITB. Pak Sirait menjadi Ketua Perayaan Natal ITB saat itu. Adalah beberapa kali kami bertemu dan berdiskusi untuk menyukseskan perayaan Natal tersebut. Mungkin secara tidak sengaja kami menjadi cukup bersahabat. Pak Sirait adalah seorang yang baik hati dan tidak banyak cingcong. Kami panitiapun telah berketetapan hati untuk tidak membuat Pak Sirait pusing. Semua urusan kami tackle dengan baik dengan bimbingan dan pengarahan Pak Sirait.
Ketika perayaan dilaksanakan, saya diminta untuk menjadi Pembawa Acara. Memang saya berusaha sekuat tenaga untuk membawakan acara tersebut dengan baik. Menurut banyak orang acara berlangsung dengan sangat baik. Baik dari para pendukung acara, penyusunan acara, maupun pemanduan keseluruhan acara. Banyak sekali orang yang merasa terkesan.
Ketika acara selesai Pak Sirait dan Ibu secara khusus datang menyalami saya. Masih saya ingat kata-kata Beliau, Saya merasa melihat seorang Pembawa Acara yang very professional! kata Beliau. Pak Sirait dan Ibu sangat senang waktu itu.

Suatu hari dalam hari-hari tanpa akhir ketika menyusun tugas akhir yang tidak berakhir-berakhir, Pak Sirait tiba-tiba memanggil saya. Itu adalah sesuatu yang amat menyentak, karena biasanya saya yang menghadap beliau untuk melaporkan progress tugas akhir. Kali ini Beliau yang memanggil saya. Berdebar-debar hati saya menuju ke kantor Beliau. Berita apakah gerangan akan Beliau sampaikan pada saya? tanya hati saya.
Ketika saya masuk, dia menerima saya dengan senang sekali. Rupanya kehadiran saya sudah ditunggu. Lalu dengan senang dia menceritakan bahwa dia membutuhkan saya hari itu, tapi bukan urusan tugas akhir. Hari itu rupanya ada salah satu staf Departemen yang kemalangan. Rupanya Beliau ingin mengirim karangan bunga besar. Hanya, Beliau sungguh-sungguh tidak tahu bagaimana kata-kata terbaik untuk dituliskan di karangan bunga itu. Itulah sebabnya dia memanggil saya.
Bukankah itu sesuatu yang luar biasa? Sekian banyak orang di sekitar Beliau yang dapat menolong seharusnya, tapi mengapa saya yang dibutuhkan Beliau? Saya betul-betul merasa dihargai oleh kerendahan hati Beliau. Lalu dia memanggil stafnya untuk mengikuti kata-kata yang saya keluarkan. Bagi saya memang ini tidak terlalu sulit karena sekian tahun lamanya saya kuliah di Bandung, saya mengikuti berbagai organisasi sosial kemasyarakatan. Melakukan hal-halyang seperti ini sudah biasa bagi saya.
Begitu tulisan yang dua kalimat itu selesai, Beliau begitu senang. Beliau menginstruksikan stafnya untuk segera mengirim tulisan itu ke ahli pembuat kembang untuk dipasang di karangan bunga. Tapi sebelum tulisan dibawa, lebih dulu Pak Sirait "menguliahi" staf-stafnya, bahwa inilah kata-kata yang dari tadi tidak keluar dari tangannya walaupun sebenarnya ada di pikirannya.
Berkali-kali beliau mengucapkan terima kasih pada saya. Aneh bukan?

Dalam proses pembimbingan Tugas Akhir, sekali Pak Sirait berkata pada saya, Kalau kau nanti, jadi asistenkulah kau ya, ujarnya. Ada berapa kali kata-kata ini diucapkannya kepada saya.
Saya merasa amat tersanjung. Tetapi di kemudian hari saya tidak memenuhinya, karena saya mendapat impresi yang salah dan persepsi yang salah pula melihat Isnuwardianto, kawan saya seangkatan yang telah lebih dulu menjadi dosen dan asisten Pak Sirait.
Sekarang Isnu menjadi Dekan Fakultas Teknologi Industri (sudah pernah menjadi Pembantu Rektor III) di ITB.
Saya memilih untuk meninggalkan Bandung dan bekerja profesional di beberapa perusahaan. Yah, memang jalan hidup orang berragam adanya.

Sekali waktu, ketika saya sudah sekian tahun bekerja, seorang teman mengajak saya bertemu Pak Sirait yang sudah menjadi Rektor UKI. Dia mengajak saya karena tahu bahwa saya punya hubungan dekat dengan Pak Sirait. Rupanya salah seorang teman kami yang sedang bersekolah di Inggris terancam tidak dapat meneruskan menjadi S3 karena dananya diputuskan dari Indonesia. Teman yang mengajak saya ini berinisiatif untuk meminta pertolongan Pak Sirait agar teman kami yang di Inggris itu kuliahnya tidak putus di tengah jalan.
Kami berdua pergi ke UKI. Secara protokoler kami agak dihambat Satpam karena pagi itu kami datang tanpa perjanjian dengan Pak Sirait. Pak Siraitpun memang belum datang. Kami diminta untuk datang lain kali. (Gayanya Satpam agak pongah, yah tentu dapat dimengertilah bahwa itu semua tentu tuntutan protokoler juga). Ketika kami mau meninggalkan ruang Rektorat, Pak Sirait datang. Dari jauh saya sangat berharap Beliau masih mengingat saya. Tanpa dinyana, justru Beliau yang berteriak, Hei, anda rupanya! katanya. Aku sedang cari anda!, lanjutnya pula.

Kami berjabatan tangan dengan erat sekali, penuh sukacita. Saya memperkenalkan teman yang bersama dengan saya (Edu Napitupulu). Dibimbingnya kami ke ruangannya yang besar. Tanpa tedeng aling-aling dia mengajak saya ke meja besarnya yang terletak di tengah ruangan.
Ada yang mau saya tunjukkan, katanya bahagia. Di atas meja besar itu saya lihat ada banyak dokumen. Sambil membimbing saya ke meja besar itu, dia mengatakan bahwa besok dia akan ke Perancis dan akan membawakan berbicara di suatu seminar.
Tahukah seminar apa yang akan saya bawakan? tanyanya pada saya sambil dari tadi tidak terlalu menghiraukan teman saya yang datang bersama saya tadi.

Dengan bangga diangkat dan dibukanya sebuah dokumen, lalu didekatkannya kepada saya sambil bertanya, Coba dulu perhatikan bagian yang ini, kenal tidak dengan materi ini? tanyanya.
Saya perhatikan pelan-pelan (sudah lama saya tidak memegang langsung masalah elektro). Lalu ketika memori saya bertaut, saya menjawab, Saya tahu Pak, jawab saya. Ini adalah tugas akhir saya di S1 dulu!
Begitu senangnya Pak Sirait rupanya Pak Sirait bisa memperlihatkan materi seminarnya itu kepada saya. Lalu dia menjelaskan lebih lanjut mengenai persiapan-persiapannya untuk membawa sejumlah materi yang salah satunya adalah tugas akhir saya sekian tahun yang lampau itu. Beliau merasa lega sekali memperlihatkan ini pada saya.

Teman kami yang sekolah di Inggris itu kemudian hari akhirnya bisa menyelesaikan S3nya dengan baik.

Sekian tahun kemudian seorang kerabat dekat saya meninggal dunia. Waktu itu saya telah berubah profesi menjadi dosen (saya tinggalkan dunia profesional). Di rumah duka itu saya bertemu dengan Pak Sirait. Betapa senang bertemu kembali dengan Beliau. Lalu Beliau bertanya pada saya, apa yang saya kerjakan sekarang. Lalu dengan agak tersipu-sipu saya menjawab, Saya sekarang mengajar Pak, kata saya.
Tiba-tiba Beliau tersentak dengan mata yang berbinar-binar, Nah, apa saya bilang dulu kan? Kan sudah dari dulu saya minta anda menjadi asisten saya. Sudah dari dulu saya perhatikan bahwa anda memiliki bakat mengajar! katanya. Akhirnya tidak kemana-mana juga bukan? Akhirnya anda jadi dosen juga!
Kami ketawa-ketawa.

Begitulah berkat besar hari ini. Bukankah suatu pengalaman menyedihkan sekolah 7 tahun mengambil S1 di ITB? Semua orang sudah meninggalkan (sudah lulus) saya. Tidak terhitung banyaknya air mata dan kesedihan pada waktu itu. Rasanya saya orang paling sial di dunia ini. Tetapi melihat pada hari ini, bahwa seorang sebesar Pak Sirait masih memegang tugas akhir saya dan selalu masih mengingat saya dengan "beberapa hal kecil" yang tidak saya perhitungkan sama sekali, bukankah itu suatu perkara yang besar?

Berapa ratus/mungkin ribu orang sudah dibimbing oleh Pak Sirait yang hebat itu, tapi tugas akhir dari saya yang bodoh ini yang masih dipegang Beliau. Yang saya susun bertahun-tahun. Dan Beliau masih ingat saya. Itu mujizat besar bagi saya. Sayapun tidak akan pernah melupakan Beliau dengan segala kebaikan dan kerendahan hatinya.

Kiranya Pak Sirait senantiasa diberkati Tuhan dan selalu memberikan kiprah terbaik bagi bangsa dan negara.

Sunday, April 26, 2009

Terbang Bandung-Jakarta

Dalam beberapa perjalanan naik kapal terbang, ada sejumlah peristiwa menarik yang kualami. Salah satunya seperti di bawah ini.

Untuk pertama kali aku naik kapal terbang dari Bandung ke Jakarta. Itu adalah perjalanan yang tidak terlalu terpikirkan akan pernah kulakukan. Jakarta-Bandung adalah jarak yang tidak terlalu jauh. Sekian tahun aku menjadi mahasiswa di Bandung kebanyakan aku memakai ka Parahyangan sebagai transportasi utama.
Ketika jalan tol belum ada biasanya pilihan siapapun kita yang akan pergi-pulang ke Bandung akan naik mobil dengan 2 alternatif utama jaman dulu yaitu lewat Jl. Raya Bogor Lama atau lewat Parung.
Setelah jalan tol Jagorawi selesai maka ada 1 alternatif lagi yaitu lewat Jagorawi dan melalui Puncak. Sekarang setelah Jl. Tol Cikampek disambungkan langsung ke Bandung, tentulah perjalanan menjadi sangat cepat (hanya sekitar 1,5 - 2 jam). Ini sungguh luar biasa kalau dibandingkan masa paling baheula yang silam di mana ke Bandung bisa memakan waktu 7-10 jam.

Waktu itu aku berdua dengan kawan kantorku, Andy Natanael Manik. Kami baru menyelesaikan suatu tugas di Bandung dan ingin pulang agak cepat ke Jakarta. Dengan ide yang melintas saja di kepala kami, kami memutuskan naik kapal terbang supaya cepat sampai di Jakarta. Kami start dari Husein Sastranegara di Bandung. Andy yang mencetuskannya ketika kami meninggalkan kantor klien kami. "Bagaimana kalau kita naik kapal terbang saja pulang supaya cepat sampai ke kantor Bang?", katanya. Dia memang selalu memanggil aku abangnya. Akupun sangat setuju.

Lucu rasanya, sekian tahun di Bandung dan sering ada sejumlah kegiatan sekitar lap terbang di Bandung, tapi baru sekali itu naik kapal terbang dari Bandung. Khusus bagiku lebih berarti rasanya, karena lap terbang ini dekat dengan Jl. Pajajaran, jalan panjang yang dituju oleh tukang becakku ketika kami bermaksud ke Unpad pada awal masa tinggalku di Bandung. (Lihat tulisanku Tgl 7 Maret 2009, "Naik becak ke Universitas Pajajaran")

Kapal terbangnya CN 235. Untuk kedua kalinya jenis pesawat ini kupakai (yang pertama ketika kami dari Ujung Pandang/Makassar menuju Pomalaa/Sulawesi Tenggara). Perjalanan udara ternyata begitu singkat, hanya sekitar 15 menit. Dalam waktu sesingkat itu kami telah mendarat lagi di lap terbang Halim Perdana Kusumah, Jakarta. Di sana supir dan mobil kantor kami masing-masing telah siap menjemput dan membawa kami langsung ke kantor.

Itulah uniknya perjalanan itu. Dari kantor klien kami yang cukup jauh (untuk ukuran Bandung) di sekitar Ujung Berung ke lap terbang Husein S. diperlukan sejumlah waktu karena siang itu traffic cukup padat di sekitar Jl. Pahlawan dan juga di sekitar Jl. Pajajaran/Andir. Untuk membeli tiket kemudian menunggu untuk naik ke pesawat juga membutuhkan sejumlah waktu. Ketika kami sampai di Halim PK Jakarta menuju kantor, juga makan waktu karena agak macet. Padahal komponen perjalanan terjauh (Bandung-Jakarta) justru berlangsung cuma 15 menit. Sebentar saja kami take off, lalu sudah turun lagi.

Waktu itu belum banyak orang memiliki handphone. Sebagai eksekutif di perusahaan kami, saat itu perusahaan belum membekali kami dengan hp. Hp pun waktu itu masih sangat mahal. Terlalu mahal untuk kami beli secara pribadi.

Yang duduk di depan kami di pesawat ternyata adalah orang yang sejak di ruang tunggu di Husein S. telah memakai-makai hp. Lumayanlah petantang-petentengnya dia. Maklum waktu itu pemakai hp masih langka. Dari penampilannya kelihatannya dia seorang eksekutif muda perusahaan swasta. Badannya cukup tegap. Tangan kanan memegang hp, tangan kiri menenteng tas kerja tipis.
Ketika pesawat berjalan, stewardess memeragakan petunjuk keselamatan terbang. Tapi kami lihat orang yang punya hp itu terus masih ngobrol menggunakan hpnya. Bahkan sampai ketika stewardess mengatakan agar semua peralatan elektronik termasuk hp harus dimatikan karena akan mengganggu sistem navigasi penerbangan, dia masih belum juga mematikan hpnya.
Hal ini membuat kami berdua kesal. Selain mungkin kami juga sebenarnya cemburu karena belum punya hp, perasaan kami yang tadinya masih agak cuek lihat orang terus bicara dengan hp berubah menjadi kesal. Norak orang ini, pikir kami. Mungkin dasar orang kaya baru, pikir kami.

Ketika pesawat sudah dalam posisi standby dan dalam beberapa saat akan dipacu untuk terbang, Andy yang sudah kesal betul nampaknya berkata kepadaku: "Yang macam ginilah bikin aku palak, Bang" katanya. "Palak" dalam bahasa Medan berarti kesal sekali/keki.
Bagaimana kalau kutegor si goblok ini Bang?, lanjutnya. Karena mengingat keselamatan terbang maka aku menjawab, "Tegorlah Dek". Lalu Andy memanjangkan badan dan lehernya ke depan menghardik orang di depannya itu, "Hey! katanya. Matikan hpmu itu!"
Agak kaget tapi cuek orang itu cuma memandang sebentar ke belakang di mana empat buah bola mata kami sudah memandang dengan kesal kepadanya.

Tidak disangka, orang itu berbalik lagi dan masih terus memakai hpnya! Makin marahlah si Andy. Bagaimana Bang, kutumbuklah orang ini? katanya. (Kutumbuk dalam bahasa Medan artinya kutonjok). Cepat nalarku memberi komando ke mulutku yang dengan geram berkata, "Memang gila ini orang!"

Selanjutnya terjadilah hal yang tak disangka. Andy melepas seatbeltnya, lalu berdiri, dan dari belakang langsung dijitaknya kepala eksekutif muda gila itu dengan keras.
Orang itu kaget dan melihat ke belakang, tapi bertumbukan mata dengan 4 bola mata nanar penuh amarah. Lalu Andy bilang, "Kau mau bikin mati kita semua?! Mau kuhantam lagi kau?!" kata Andy.
Mendengar bentakan keras Andy dan tak kuat melihat mata-mata kami yang sudah memiliki ukuran diameter di atas normal, barulah nampaknya dia kecut dan mematikan hpnya.

Kapal terbang memacu, Andy terduduk dan memasang seatbeltnya. Lalu sejenak kemudian kami sudah di udara, melihat bendungan Jatiluhur sebentar dari atas, lalu mendengar pengumuman akan turun lagi di Halim PK.

Sampai kami turun tidak sedikitpun eksekutif muda yang sok itu berani melihat kepada kami.

Monday, April 6, 2009

Kimia yang mengerikan

Waktu kami tingkat I tidak pelak lagi pelajaran yang paling sulit adalah mata kuliah Kimia. Di setiap semester mata kuliah itu ada.

Tidak hanya sulit, tapi juga mengerikan. Dikatakan demikian karena memang tingkat kesulitannya betul-betul tinggi. Memang belajar bersama itu baik, tetapi khusus untuk mata kuliah Kimia ini kita harus sampai ke tingkat penguasaan pribadi pada kategori mahir. Banyak textbook harus kita baca di perpustakaan. Banyak soal harus kita latih penyelesaiannya.

Setiap soal yang keluar sangat variatif dan kreatif. Lalu penjagaan selama ujian sangat ketat. Jangan main-main untuk coba-coba menyontek. Kalau sampai ketahuan menyontek, akan diblack list dan bisa di drop out.
Ada juga yang berhasil menyontek, tapi itu pasti pertama kenekadannya luar biasa (berani mati), atau sangat mujur tidak ketahuan. Sudah banyak sekali mahasiswa DO karena mata kuliah ini, entah karena memang tidak lulus-lulus, atau kena black list.

Koordinator dosen adalah seorang dosen super killer (biasanya dialah kebanyakan yang membuat soal-soal). Inisialnya HA. Kalau sudah bermasalah dengan dia maka masa depan pasti suramlah.
Hal yang unik lagi, soal-soal yang bersifat pilihan ganda bisa dibuat sedemikian rupa sehingga kalau kita salah mengerjakan selalu ada pilihan jawabannya. Kadang kala karena kita terlena (ada jawaban seperti yang kita buat), kita pilih jawaban itu. Padahal jawaban kita itu salah. Jadi seolah-olah pembuat soal itu sudah tahu ke mana mereka yang kemahirannya tidak terlalu tinggi akan nyasar pikirannya. Luar biasa!

Ujian itu sendiri untuk setiap soal hasilnya akan memperoleh nilai minus 1 kalau salah, nol kalau tidak menjawab, plus 3 kalau benar. Jadi tentunya kalau kita tidak yakin, lebih baik tidak menjawab. Kalau nekad menjawab, perkaranya tinggal dua, untung atau apes. Sayangnya probabilitasnya lebih besar pada apes (1 banding 3, karena biasanya pilihan jawaban ada 4).

Pengikut ujian selalu banyak karena selain mahasiswa tingkat I, mahasiswa yang lebih senior bahkan yang mahasiswa abadi (waktu itu masih banyak mahasiswa abadi) pun masih banyak yang ikut. Hal ini terjadi karena telah diterapkannya sistem kredit (sks). ITB adalah universitas pertama yang serentak memberlakukan sistem sks.

Midtest semester pertama merupakan outcome paling mengerikan dalam hidupku. Kalau tidak salah aku mendapat nilai 33. Seumur hidup baru itulah aku dapat nilai sejelek itu.
Tapi karena pengindeksan nilai berdasarkan sebaran statistik, maka nilai 33 ku itu masih menghasilkan indeks C! Yang dapat sedikit di atas 50 saja sudah pasti dapat A.

Adalah seorang teman kami yang sangat membuat kami sedih karena nilainya minus sangat besar (kalau tidak salah minus 30an/jumlah soal biasanya sekitar 33-34). Beberapa kami mencoba untuk menghibur teman kami itu. Kami banyak bertanya kepadanya mengapa sampai dia bisa mendapat nilai jeblok begitu.

Jawabannya sungguh mengagetkan kami. Dengan entengnya dia bilang bahwa dia melihat seorang teman kami yang berkacamata tebal orangnya cukup meyakinkan (waktu itu kami belum terlalu lama bersama-sama di kelas T06/baru sekitar tiga bulanan, jadi belum terlalu saling mengenal). Waktu ujian kebetulan mereka duduk berdekatan. Lalu teman ini nekad menyontek pada teman yang berkacamata tebal itu (rupanya dia mujur tidak ketahuan). Total semua jawaban teman berkacamata tebal yang duduk di depannya diconteknya.
Belakangan barulah kami semua tahu bahwa soal-soal kami telah diacak. Nomor 2 pada kita belum tentu sama soalnya dengan nomor 2 teman yang lain. Pantaslah teman kami yang nekad itu dapat nilai minus besar sekali. Lebih mengerikan lagi nilai midtest I, midtest II dan Ujian Akhir diberi bobot. Misalnya 20%, 30% dan 50%. Jadi, nilai minus besar menjadi lebih besar lagi minusnya! (Weleh, weleh ....)

Pada tahun-tahun belakangan rupanya ada semacam "gerakan reformasi" di ITB sehingga dosen super killer tadi barangkali diminta untuk tidak lagi menjadi penjagal mahasiswa. Sebenarnya aku kurang setuju dengan kebijakan itu, tapi yah sudahlah. (Aku tadinya merasa itu adalah trade mark yang mengagumkan. Itu adalah kenangan salah satu yang paling dramatis pada tingkat I).

Lucu sekali pada tahun-tahun aku mau lulus kulihat soal ujian mahasiswa tingkat I tidak masuk akal mudahnya (dari dulu semua ujian selalu dipampang jawaban/solusinya di papan pengumuman, jadi semua orang bisa melihat dan menyalin). Kuingat sekali ada dipampang solusi ujian mahasiswa tingkat I tahun itu yang cuma 10 nomor. Salah satu soalnya begini (aku selalu ingat): Diketahui sekian mol zat tertentu dilarutkan pada sekian mililiter larutan tertentu. Hitunglah Molaritas campuran baru itu.

Gila kan mudahnya soal kimia itu jadinya? Penurunan mutukah di ITB? Sangat boleh jadi! Entah kenapa kita tidak punya lagi pride sebagai orang yang dulu pernah menaklukkan mata kuliah Kimia yang mengerikan itu (walaupun cuma dapat C, itu dulu sudah luar biasa, tidak mungkin bisa dibandingkan dengan mereka yang dapat A dengan soal-soal yang mudahnya minta ampun).

Beberapa tahun kemudian terbetik kabar bahwa dosen super killer itu meninggal dunia. Well ... well ...

Sunday, April 5, 2009

Tidurnya orang Indonesia

Sepengamatan saya, orang Indonesia itu suka sekali tidur. Mudah sekali kita mendapatkan orang Indonesia tidur.

Di kendaraan umum yang begitu sumpek, ribut dan panas, tetap saja kita temui banyak yang tidur. Padahal barangkali perjalanan mereka tidak terlalu jauh (sebentar lagi juga akan turun di suatu tempat di depan). Di mana-mana di Jakarta mudah sekali kita temui orang tidur. Di siang hari bolong di taman-taman seperti taman pemisah jalan di Jl. Sutoyo (depan UI), banyak sekali orang beralaskan plastik atau koran tidur di bawah pohon. Demikian pula di taman-taman yang lain.

Supir-supir yang menunggui mobil di tempat parkir gedung perkantoran, perbelanjaan, sekolah dsb. banyak sekali bertiduran.
Gaya tidurnyapun bermacam-macam. Kebanyakan membuka satu pintu (ada juga yang dua pintu sekaligus). Ada yang tidak kelihatan dari luar kepalanya, tapi kakinya nyangsang ke atas ke sandaran kursi. Yang agak sama dari semuanya adalah lebarnya mulut mereka terbuka dan air liur mereka berlelehan (bagaimana baunya itu ya?).

Di kantor-kantor (terutama kantor pemerintah) banyak sekali yang tidur di siang bolong. Kadang-kadang mereka dengan tanpa dosa menelungkupkan dan menyilangkan badan dan kepalanya ke meja kerja. Ada yang kacamatanya dilepaskan dulu dan diletakkan di samping kepalanya.
Ada pula yang ngumpet di antara tumpukan berkas dan dokumen untuk tidur (barangkali terutama setelah kantor-kantor diberi AC).

Di kapal terbang kalau orang bule (atau mereka yang berasal dari negara lebih maju dari negara kita) biasanya membaca buku selama perjalanan. Entah itu buku novel atau buku non fiksi. Banyak pula yang terus membuka meja makan lipat dari belakang kursi di depannya untuk mengerjakan/menulis banyak hal, atau membuka laptopnya.
Kalau orang Indonesia, begitu kapal terbang take-off satu demi satu bertiduran. Gaya tidurnyapun seenaknya pula dengan muka terbuka lebar dan iler berlelehan. Orang-orang dari negara maju (atau Jepang) juga ada yang tidur satu dua, tetapi setidaknya tidur mereka kelihatannya lebih beradab. Tubuh mereka biasanya masih tegak, walaupun kepala mereka jatuh sekali-sekali. Tapi kalau kita perhatikan seksama seolah-olah tidurpun mereka serius (dahi mereka kebanyakan berkernyit, tidak seperti orang Indonesia yang tidur, dahinya polos sekali seolah tidak pernah berpikir apa-apa).

Meja makan lipat tidak pernah dibuka kecuali ketika pramugari menyenggol tubuhnya sedikit sambil menawarkan pilihan makanan (atau kalau aroma makanan sudah mulai tercium, berarti makanan sudah datang). Begitu bangun, dengan tenang mereka menyeka liurnya dan menegakkan badan karena mau makan. Mereka semangat sekali kalau mau makan. Dengan cepat makanan tandas, walaupun sebelum naik kapal terbang sudah makan (bahkan makan lagi di Executive Lounge sebelum menuju ke waving gallery) Orang-orang bule banyak yang tidak makan kalau memang mereka sudah makan sebelumnya sebelum terbang. Bukan cuma di Indonesia, di penerbangan-penerbangan di negara merekapun mereka punya kebiasaan itu. Paling cuma minum anggurnya.
Cara makan orang Indonesiapun penuh kecuekan. Dessert bisa disikat duluan, baru menu utamanya. Setelah makanan mau habis baru bingung di benaknya apa benar garpu di kanan pisau di kiri, apa justru terbalik? Entahlah.
Pokoknya apa yang sudah tersedia dimakan saja. Minum sikat saja, yang penting ada (minta) teh.
Lalu ritual penutupnya adalah mencongkeli sisa makanan di gigi dengan toothpicks yang biasanya dirobek dari bungkusannya. Dilakukan dengan penuh kelegaan dan kenikmatan sambil memandang keluar jendela yang cuma bisa melihat awan belaka, tidak ada pemandangan lain. Buranpun ada yang tidak malu-malu dengan kerasnya.
Kalau perjalanan masih jauh dan agak lama, bisa-bisa mereka tidur lagi sesudah makan kenyang. Untung sekarang tidak diberi kesempatan merokok.

Kalau saya pergi jauh ke benua lain (biasanya belasan jam perjalanan), sering saya perhatikan bahwa apabila telah sampai di negeri yang jauh, hal pertama yang dilakukan teman-teman orang Indonesia setelah check-in di hotel, adalah segera tidur lagi. Kalau esoknya ditanya kenapa langsung tidur, jawabnya, habis capek sekali sih perjalanan jauh. Padahal kemarin sepanjang perjalanan seingat saya mereka kebanyakan tidur!
Saya paling tidak betah seperti itu. Perjalanan jauh bagi saya adalah pengalaman yang amat mengasyikkan. Yang saya lakukan setelah check-in adalah justru keluar sesegera mungkin memanfaatkan sisa waktu yang ada hari itu untuk berjalan kemanapun saya mau (biasanya langsung ke Concierge/Reception counter, minta map, lalu jalan). Saya selalu merasa rugi, sudah datang jauh-jauh kok malah tidur.

Sekali saya memimpin suatu acara libur tengah tahun (panas) bersama dari perusahaan saya, di Anyer. Acara ini sifatnya internasional karena selain seluruh karyawan kami sekantor dengan keluarga masing-masing, juga disertai sejumlah teman counter-part kami yang berasal dari Perancis beserta keluarga mereka masing-masing juga (banyak ekspatriat waktu itu membawa keluarga ke Indonesia).
Kami berangkat dari Jakarta dengan armada sejumlah bus tour besar yang bagus-bagus. Seperti biasa, di bus walaupun sudah dibaurkan komposisinya (orang Indonesia dibaurkan dengan orang Perancis), kebanyakan orang Indonesia tidur! Sementara keluarga-keluarga Perancis bercanda dan ada yang bernyanyi dengan begitu senang (sepengamatan saya orang-orang dari negeri maju itu kalau liburan betul-betul all out). Di buspun orang-orang bule itu ada yang sudah bercelana pendek dan baju kaos yang siap dibuka kalau nanti sampai. Alas kaki mereka kebanyakan sepatu olah raga, ada yang cuma pakai sendal. Kontras dengan keluarga Indonesia ada yang pakai jaket tebal (mungkin takut kedinginan nanti di bus), dan ada banyak ibu-ibu berdandan dan berpakaian seperti mau ke pesta (pakai hak tinggi lagi).

Begitu tiba, kami check-in di sebuah kompleks hotel yang pada saat itu terbesar di Anyer. Semua kamar telah kami book. Telah diumumkan berkali-kali dan dinyatakan pula di buku acara yang dibagikan ketika bus mulai berangkat, bahwa setelah barang-barang diletakkan di kamar masing-masing, semua peserta harus segera datang dan berkumpul kembali di restoran utama untuk makan siang bersama.
Semua teman Perancis dan keluarganya telah berkumpul di restoran menunggu. Keluarga-keluarga Indonesia hanya segelintir yang datang. Ditunggu-tunggu sudah lebih dari sejam. Pengumuman dari pengeras suara berkali-kali menyampaikan agar segera semua keluar dari kamar masing-masing dan berkumpul di restoran utama. Tapi pengumuman itu semua seolah tidak ada gunanya.

Sebagai penanggungjawab acara, mulailah saya mendatangi kamar-kamar satu persatu. Mau tahu? Kebanyakan keluarga Indonesia memilih tidur (ngamar)!
Banyak yang bilang, Habis di luar udaranya panas sih (udara pantai musim panas), di kamar kan dingin!
Susah payahlah saya membujuk masing-masing keluarga dengan mengingatkan bahwa bila makan siang kita terlambat maka acara-acara lain yang disusunpun akan terlambat.
Akhirnya barulah mereka berdatangan untuk makan walaupun ogah-ogahan.
Teman-teman Perancis menggeleng-geleng kepala seraya bergumam, Kalau memang cuma mau tidur ngapain datang berlibur jauh-jauh ke Anyer?

Sore jam 16 direncanakan semua orang menuju berbagai venue untuk berolahraga (basket, volley, sepakbola, bulutangkis, dsb.). Di luar dugaan, hujan turun! Maka agak paniklah kami panitia untuk mengimprovisasi acara. Akhirnya karena terinspirasi semangat para bule untuk terus bermain sepakbola dan volley walau hujan atau bermain bowling dan snookers (ada pula yang bermain polo air di kolam renang walau hujan), kami usahakan sebanyak mungkin orang mau tetap main/berolahraga walau hujan.
Betapa kagetnya, keluarga-keluarga Indonesia di setiap tempat terbuka sudah tinggal segelintir saja. Kebanyakan sudah hilang entah kemana.
Selidik-punya selidik, rupanya mereka kebanyakan sudah pulang kembali ke kamar masing-masing untuk, ................tidur lagi!

Setengah mati lagi saya pada jam 19 malam mendatangi setiap kamar (hujan agak rintik-rintik) agar mau datang ke restoran utama lagi untuk makan malam bersama. Itupun banyak yang bersuara keras (nada tinggi) meminta kalau bisa makanannya dikirim saja ke kamar masing-masing.

Itulah sebagian yang saya tuliskan tentang "nafsu" besarnya orang Indonesia untuk tidur. Alangkah santainya bangsaku ini. Tidak pernah mudah untuk memanfaatkan waktu. Sulit untuk sedikit lebih "berbudaya". Selalu tidak mudah untuk bekerjasama demi kebaikan (lebih membawa segala hal hanya untuk kepentingannya). Susah sekali untuk praktis. Keras kepala, dan merasa pintar sendiri. Tidak mau belajar, padahal sudah jelas melihat contoh yang lebih baik. Dsb, dsb, .....

Semoga bangsaku bisa menyadari hal ini, dan berubah.
Michael E. Porter dari Harvard Univ dalam kedatangan terakhirnya ke Jakarta berkata bahwa krisis di Indonesia akarnya adalah Kontra Produktivitas (walaupun dikemas dalam kata-kata yang sedikit lebih halus).

Hiduplah tanahku, hiduplah negriku.
Bangsaku, rakyatku, semuanya.
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya
untuk Indonesia Raya .........................

Huru hara II di KBB 45

Di KBB 45 ada kantin. Kantin itu bagus sekali. Kita senang sekali memiliki kantin yang bagus seperti itu. Di luar kantin disediakan tempat makan yang disusun dengan baik. Ada sejumlah meja dengan kursi-kursi memadai. Ditata dengan apik. Pokoknya enaklah.
Makanan yang disediakan walaupun tidak banyak tapi enak-enak. Favoritku adalah nasi dengan ayam opor. Biasanya disajikan panas. Sedaplah.

Penjaga kantin, sekaligus semacam pengurus harian dari KBB 45 (ditempatkan oleh pemilik tempat kost) kebetulan seorang laki-laki yang agak kemayu/banci. Secara alamiah, karena kami semua laki-laki agak seringlah kami meledek dia.
Sebenarnya aku tidak termasuk suka meledek dia. Biasa sajalah. Tapi dia memang selalu berusaha untuk dekat dengan semua kami.

Suatu hari sudah agak larut malam. Suasana agak hening. Aku belajar di kamarku karena ada midtest yang cukup berat. Cukup konsentrasi aku saat itu. Memang agak kudengar sedikit suara di salah satu kamar di atas. Pikirku, barangkali ada sejumlah teman sudah selesai belajar, jadi agak bersantai main kartu atau main apalah di atas sana.
Waktu itu kami masih belum lama selesai menjalani plonco. Jadi semua kami yang tingkat I masih botak, atau berkepala yang baru ditumbuhi rambut pendek/halus.

Tiba-tiba kamarku diketuk. Dari dalam kudengar suara si penjaga kantin mengetuk dari luar memanggil-manggil namaku dengan genit. Aku agak malas ngomong sama dia karena sedang konsentrasi. Kusibakkan saja gordijn jendelaku lalu tanpa membuka pintu kutanya padanya ada apa.
Lalu dia menjawab bahwa ada tamu. Katanya dia tidak kenal. Dia berbicara sambil agak-agak menahan ketawa, membuat aku agak merasa aneh.
Aku agak heran, kok mendekati jam 10 malam ada orang bertamu kepadaku.
Karena malas keluar, agak sedikit gusar (karena sedang konsentrasi belajar) kukatakan pada penjaga kantin itu, Mengapa tamu itu tidak disuruh datang saja langsung ke kamarku?
Lalu dijawab, Dia ngga mau. Dia tunggu di sana (ruang tamu) katanya. Akhirnya dengan enggan kuraih jaket, lalu kubuka pintu. Setelah itu aku berjalan ke ruang tamu (di lantai bawah, dekat kantin). Si penjaga kantin mengikuti di belakangku, sambil agak senyum-senyum mencurigakan.

Karena kulihat tidak ada orang di ruang tamu, aku menengok ke belakang bertanya pada si penjaga kantin, Di mana? Kok tidak ada orang? tanyaku.
Oh, dia tadi kayanya naik ke atas, jawab si penjaga kantin. Di atas mana? tanyaku lagi. Di atas, di depan..., jawabnya lagi. Tapi dia agak-agak menahan ketawa.
Aku sejurus melihat ke dia. Mau kutanya apa dia mempermainkan aku. Tiba-tiba dia berubah serius, lalu mengatakan tadi memang ada tamuku, dan dia yakin tamu itu menunggu di salah satu tempat di depan kamar di atas yang menghadap ke jalan.
Lalu aku berjalan naik tangga menuju tempat di atas yang dimaksud. Sesampainya di atas, mendekati tempat yang dimaksud, aku melihat seseorang sedang duduk melihat ke jalan. Tangannya bersilang dan bertumpu pada pagar di depan salah satu kamar yang biasanya ditempati seseorang teman kost yang tidak kuliah di tempat kami kebanyakan (universitas lain).
Agak aneh kurasa bahwa cara berpakaian orang ini tidak biasa, tapi memang karena agak malam jadi tidak terlihat jelas.

Ketika kutanya dengan sopan siapa dia, betapa kagetnya aku ketika dia menoleh ke arahku dia tersenyum menyeringai, rupanya dia seorang banci! Aku langsung berbalik arah bermaksud pulang ke kamarku secepatnya melalui jembatan penghubung antar bangunan dan turun di tangga yang dekat dengan kamarku.

Sementara itu kudengar di bawah sana si penjaga kantin tertawa-tawa. Jelas menertawai aku. Ketika kulewati jembatan penghubung antar bangunan, kulihat dia ketawa keras-keras. Senang sekali dia rupanya mempermainkan aku. Entah siapa banci yang ada di depan itu. Akupun bingung dari mana dan untuk apa dia ada di tempat kost kami. Tapi aku tidak mau ambil pusing. Dengan agak geram aku berjalan terus.
Tetapi di tengah perjalanan itu, karena kudengar ada suara-suara di kamar Micky, kuputuskan memasuki kamar Micky. Pintu tidak terkunci. Ternyata di dalam seingatku ada Rowin, Micky dan Putranto sedang bermain Risk (sejenis permainan keberanian memutuskan untuk menguasai daerah/dunia). Mereka bermain serius. Senang mereka aku datang. Masih berdiri aku berujar, Sialan Gua ditipu (si penjaga kantin)!
Serentak kawan-kawan itu menjawab, Banci ya? Lalu kawan-kawan itu serentak pula meneruskan, Kami juga ditipunya!
Wah ... wah ... wah ... kata kami (berdiskusi). Lalu satu sama lain melanjutkan, Tapi gila ya orangnya gede banget. Ngeri lagi, kata kami. Lalu kami ketawa-ketawa juga.
Ayo Rul, main! kata teman-teman. Tapi kujawab, Aku ngga lah. Masih ada yang mau kupelajari, kataku. Sorry ya, kataku lagi sambil melangkah mau membuka pintu dan pulang ke kamarku.

Betapa kagetnya aku ketika pintu kubuka, banci itu sudah ada di depan pintu dengan muka kencang. Langsung aku masuk lagi dan mengunci pintu. Sambil membelakangi pintu yang sudah terkunci, aku berkata (ketakutan), Bancinya ada di depan pintu! Barangkali dia akhirnya marah karena beberapa kali didatangi oleh kami yang ditipu dan diiringi ketawa-ketawa ngga karuan dari si penjaga kantin (yang kebetulan sejenis dengan dia).

Dalam hanya ukuran detik Rowin berlari ke jendela menutup jendela secepatnya. Micky langsung menarik gordijn. Putranto langsung mematikan lampu.
Di depan pintu mulailah banci itu menggedor-gedor pintu minta dibukakan pintu itu. Sumpah serapahnya langsung berhamburan. Katanya antara lain, Sialan Lu semua. Lu kira gua banci jalanan ya, dst.

Lalu aku berlari ke arah pintu kamar mandi untuk ngumpet. Putranto langsung melompat ke bawah tempat tidur, lalu diikuti oleh Rowin dan Micky. Di bawah tempat tidur Micky ada speaker audio systemnya. Kepala Putranto yang botak rupanya langsung menabrak sudut speaker. Dia berteriak mengaduh. Rowin dan Micky yang datang belakangan menyeruduk pantat Putranto pula dengan kepala-kepala mereka yang botak. Lalu kami bertiga ketawa sejadi-jadinya.
Putranto meringis karena kepalanya terantuk speaker, pantatnya diseruduk dua kepala botak. Tapi akhirnya ikut ketawa keras juga.

Ketawa-ketawa kami di dalam kamar yang sudah gelap itu rupanya makin membangkitkan amarah banci yang di depan pintu. Pukulannya ke pintu semakin keras (bukankah tenaganya tenaga laki-laki?). Makiannya sudah semakin keras dan kotor.
Akhirnya kami berempat diam saja, menahan mulut kami.

Gedoran demi gedoran rasanya sebentar lagi akan menjebol pintu kamar Micky. Ada dia mengatakan, Gua tembak lu semua!
Terus terang kami sudah menjadi agak takut, apa maksudnya mau menembak kami?
Lalu kami dengar di luar orang sudah ramai berdatangan, pastilah semua teman lain. Lalu terdengar suara senior kami Antony Marbun dan teman-teman lain mencoba menenangkan si banci.
Sudahlah, kata Bang Antony. Masa Lu musti urusin anak-anak kecil, lanjut Bang Antony.
Si banci menjawab, Apanya yang kecil?! Kepalanya doang botak, ............ (maaf saya sensor) nya semua udah pada gede tuh! Musti gua hancurin mereka semua, katanya lanjut.

Adalah hampir sejam kami dicekam ketakutan di kamar itu. Bang Antony dan teman-teman lain terus membujuk si banci. Akhirnya pergi juga dia, walaupun sempat melontarkan lagi kata-kata perpisahan: Gua dateng lagi bentaran. Gua bawa orang setasion, katanya.

Sesudah keadaan tenang, semua teman dan Bang Antony di luar memanggil kami keluar. Kami berempat keluar dengan sedikit agak lega.

Bang Antony mengatakan bahwa si banci tadi memang mengeluarkan sebuah pistol dari tasnya. Hanya kesabaran dan "usapan-usapan" Bang Antonylah rupanya yang meluruhkan amarahnya. Jago juga si Bang Antony menemukan "kelemahan"nya.

Demikianlah malam itu aku tidak berani tidur di kamarku (karena tadi hanya aku yang dilihat si banci ketika aku buka pintu). Aku ganti baju dan tidur di kamar Yanto yang baik.
Semua kami satu kost dalam keadaan siap kalau benar si banci datang lagi dan benar membawa orang stasion.

Aku tidak bisa tidur (banyak juga teman lain). Berjaga-jaga sambil pegang besi/pentungan pemukul (sisa bangunan).

Kasihan memang mereka yang kita sebut "tidak normal" ini. Mereka sering jadi sasaran ledekan karena gaya dan cara bicaranya. Disengaja ataupun tidak.
Heaven knows!

Huru hara I di KBB 45

Tempat kost yang di Jl. Kebon Bibit Barat 45 adalah tempat kost yang unik. Kami para penghuni menyebutnya KBB 45. Seingatku tipe kost seperti ini adalah yang pertama kali ada di Bandung saat itu (mungkin juga pertama di Indonesia saat itu).

Secara umum dia tidak terlihat sebagai tempat kost biasa. Dia lebih terlihat seperti sebuah hotel kecil. Bangunannya sangat bagus dan mewah. Ketika aku kost di situ bangunannya baru saja diselesaikan. Masih banyak bagian yang perlu disempurnakan. Masih tercium bau cat dan bau alat perekat di banyak tempat.
Bangunan itu bertingkat dua, jumlah kamarnya banyak sekali. Secara umum dia adalah dua bangunan utama yang masing-masing bertingkat dua. Setiap bangunan berupa bangunan yang memanjang menurut lebar tanahnya. Setiap kamar berseberangan dengan kamar yang menghadap berlawanan. Seingatku satu muka dari bangunan yang panjang itu memuat 8 kamar, jadi total kamar kalau tidak salah 64 kamar.
Di tengah dua bangunan itu terhampar taman yang cantik sekali. Aku memilih kamar di lantai satu yang menghadap ke taman, sehingga setiap bangun pagi dapat melihat ke taman yang bagus itu.
Setiap tingkat saling terhubung, dan di tengah bangunan terdapat jalan menuju kamar-kamar yang berseberangan, lengkap pula dengan tangga-tangga di tengah bagian. Jadi mudah sekali kita cepat menuju kamar manapun kita mau. Otomatis pula untuk kamar-kamar yang saling berhadapan, kami dengan mudah dapat melihat dengan baik semua kamar di kiri, kanan maupun yang di atas. Apalagi kamar-kamar di atas, itu yang paling mudah melihat ke semua arah.

Di sinilah kami dengan sangat kompak tinggal bersama. Ada Yanto yang pendiam tapi sangat baik hati, Rowin yang dinamis, Micky yang kreatif, Yoyok yang polos dan jujur, Gary yang hangat, Ritchie yang gentleman like, Tonny yang cerewet, Putranto yang innocent tapi luar biasa lucunya. Chrismar Adianto yang pintar juga pernah tinggal di sini.
Ada juga sejumlah senior angkatan kami seperti Bang Antony Marbun, Paul, Yance, dan lain sebagainya. Pada waktu-waktu rileks kami bermain kartu, domino, catur, master mind, risk game, dan lain sebagainya. Di awal-awal kuliah kami sering bernyanyi sampai malam, tapi kalau musim ujian otomatis semua menjadi serius.

Semua kamar memiliki kamar mandi sendiri. Desain kamarnyapun bagus sekali. Demikianlah keadaannya sehingga banyak sekali teman setiap penghuni berdatangan setiap hari karena indah dan bagus sekali kost yang seperti hotel ini. Ke sinilah dulu teman-temanku sering datang, seperti Erik, Totok dan sebagainya.

Walaupun hanya menerima laki-laki, tempat kost ini dilengkapi dengan penjaga keamanan baik siang maupun malam.
Meskipun sebenarnya setiap kamar sangat nyaman untuk tempat menyimpan semua peralatan, ada juga beberapa teman yang tidak menyimpan semua peralatan di dalam kamar. Mungkin juga karena kami semua merasa seperti bersaudara, jadi tidak terlalu kuatir meletakkan beberapa barang di luar pintu kamar masing-masing. Kekecualian hanyalah aku, karena sudah menjadi kebiasaanku untuk menyimpan semua peralatanku di dalam kamar, jadi di luar kamarku pastilah paling bersih keadaannya.

Sekali ketika sedang enak tertidur di sekitar musim ujian tengah semester aku terbangun karena ada suara gaduh di luar. Dalam sekian detik periode peralihan tidurku ke keadaan bangun sepertinya ada nama teman-teman dipanggil-panggil dengan cara berteriak-teriak, dan rasanya ada juga namaku dipanggil-panggil. Setelah agak lebih sadar aku mendengar suara Tonny teman kami yang kalau dari kamarku akan segera terlihat kamarnya pada arah 45 derajat di kiri atas.
Teriak Tonny memanggil nama-nama teman itu begitu kerasnya dan berulang-ulang.

Tonny adalah teman yang lucu. Dia keturunan Chinese. Dikaruniai suara yang agak cerewet. Karena cerewetnya dia kami panggil Tonce. Sebenarnya dia cukup tenang dalam gerakan, tetapi agak berlebihan dalam mengomentari banyak hal. Sering dia mengomeli dirinya sendiri karena merasa kurang belajar. Kalau kami pergi makan roti bakar keluar kost atau melakukan apapun yang kurang berhubungan dengan belajar, dia mulai mengomeli keadaan agar dia bisa belajar. Lalu dia biasanya belajar sampai pagi (jam 3 atau 4 pagi).
Dia sangat concern untuk melakukan sesuatu dengan sempurna dalam segala hal. Pernah ketika kami diplonco dia menyiapkan minuman yang dia anggap akan membuat dia "strong" sepanjang hari. Dia campur susunya dengan berbagai macam campuran lain (akupun sudah tidak ingat lagi apa saja dimasukkannya ke dalam mug minumannya/madu, telor, berbagai minuman penguat dan entah apa lagi). Lalu ketika dicemplungkannya lagi ke dalam multi campuran itu vitamin C dosis tinggi maka dia berteriak-teriak keras karena multi campuran itu mendadak muncrat ke atas setinggi hampir satu meter entah karena reaksi kimia apa. Persis seperti air mancur/muncrat. Berteriak-teriaklah dia histeris menceritakan pengalamannya itu kepada kami yang cuma bisa ketawa-ketawa sambil mengucapkan: Tonce ..... Tonce ........ada-ada aja Lu. Harusnya Lu taro tu gelas di lantai, lalu mulut Lu nangkep muncratannya sambil berdiri, kata kami.

Begitulah pagi subuh sekitar dekat jam 5 pagi yang dingin di Bandung itu, aku buka pintu kamarku. Ternyata si Tonce lompat-lompat sambil berteriak: Rul, sepatumu hilang ngga? Aku bingung kenapa dia tanya-tanya sepatu sepagi itu. Aku melihat ke dalam kamarku, sepatuku semua ada kok. Lalu kujawab sambil agak berteriak juga: Ada Ton, kenapa rupanya? tanyaku.
Cepat dia menjawab, Banyak yang kehilangan sepatu! Maling, ada maling! Hei semua bangun, bangun ooi! begitulah teriaknya. Lalu mulailah teman-teman lain berbangunan dan rupanya sepatu yang mereka letakkan di luar kamar telah raib. Setiap melihat teman bangun dan sudah dilihat Tonce sepatu mereka lenyap maka lompat-lompatlah si Tonce merasa geli karena orang kehilangan sepatu.
Wuaha ha ha ha ..... sepatu Lu hilang ya. Si anu juga hilang ......... si anu sana juga hilang ......... dan seterusnya.
Akhirnya kami semua keluar dan dari depan kamar masing-masing melihat ke samping dan ke atas saling melaporkan keadaan, Gimana, Lu ilang ngga? Yang ditanya menjawab, Wah iya eh, dua pasang lagi!
Begitulah, banyak sekali teman kehilangan sepatu. Ada yang kehilangan sepasang, ada yang lebih. Untuk setiap konfirmasi kehilangan, si Tonce lompat-lompat karena merasa lucu sekali.

Yah kami semua cuma geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa begini? pikir kami. Kemana rupanya penjaga "hotel" kami. Begitulah kecamuk pikiran berseliweran. Toncepun melaporkan bahwa tadi dia masih belajar sampai jam 4 pagi, lalu tidur. Dia seperti merasa ada orang mondar-mandir mengendap-endap katanya. Waktu dia hidupkan lampu kamarnya dan melihat ke luar, dilihatnya katanya sejumlah kamar tidak ada sepatunya lagi di depannya. Itulah makanya dia berteriak-teriak membangunkan orang untuk mengatakan pada mereka sepatu mereka hilang.

Semua kami masih saling bicara dari pintu kamar kami masing-masing. Si Toncepun sudah mulai tenang. Secara alamiah kami jongkok di pintu kamar masing-masing.
Tiba-tiba si Tonce melompat-lompat lagi sambil berteriak sekeras-kerasnya, Wuaha ha ha ha ha ha ha, katanya. Rupanya sepatu Gua juga hilang !!!! Ha ha ha ha ha ...., katanya sambil tertawa tiada henti.

Bangkitlah kami semua lagi dari jongkok kami lalu bertanya kepada si Tonce, Lho rupanya dari tadi Lu ngga tau kalo sepatu lu juga ilang? tanya kami. Ngga!!! katanya sambil ketawa makin hebat. Gila lu, kata kami semua. Ngetawain orang ilang sepatu sambil lompat-lompat di depan kamar, tapi ngga tau kalo sepatu Lu juga ilang. Dasar Tonce! teriak kami pada dia.

Itulah pagi lucu tapi menyedihkan bagi kami semua (cuma aku dan Yanto kalau tidak salah yang tidak kehilangan).
Rupanya memang maling datang pagi itu ke "hotel" kami.
Kami melapor kepada pemilik tempat kost. Lalu diadakan sidang tertutup. Pemilik keberatan kalau dilaporkan ke polisi, mungkin takut kalau citra "hotel" kami tercoreng.
Kalau tidak salah memang ada kerjasama antara maling dengan penjaga keamanan kami.
Pemilik kost membayar ganti rugi yang agak fair untuk teman-teman yang kehilangan.

Beberapa tahun kemudian sesudah aku dikaruniai anak-anak, mereka kubawa ke KBB 45. Ternyata keadaannya sudah sangat menyedihkan. Kotor, rusak, jelek dan sebagainya.
Aku gagal melukiskan secara nyata pada anak-anakku tempat kostku dulu di KBB 45 yang permai itu. Entah apa hari ini KBB 45 masih beroperasi.